Surah An-Najm Ayat 31-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Najm Ayat 31-32

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Najm Ayat 31-32 ini, menjelaskan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, semua berada dalam genggaman-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. Allah menjadikan semua yang ada di langit dan di bumi, Dia pemiliknya dan Dia yang mengaturnya, Dia mengetahui seluk-beluk keadaannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang-orang yang berbuat baik diberi ganjaran kebaikan dengan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai dan memberi kesenangan yang tidak pernah terlintas di hati manusia. Ia membalas orang-orang jahat sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya dari bermacam-macam seperti syirik dan maksiat karena hatinya tertutup oleh dosa-dosa besar dan kecil.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm Ayat 31-32

Surah An-Najm Ayat 31
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى

Terjemahan: Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).

Tafsir Jalalain: وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (Dia hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) Dia-lah yang memiliki kesemuanya itu; antara lain ialah orang yang tersesat dan orang yang mendapat petunjuk; Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya لِيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ (supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka kerjakan) berupa kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan dosa lainnya,

وَيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ (dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) maksudnya, mereka yang mengerjakan ketauhidan dan amal-amal ketaatan lainnya بِٱلۡحُسۡنَى (dengan pahala yang lebih baik) yakni surga. Kemudian Allah menjelaskan siapakah yang disebut orang-orang yang telah berbuat baik itu melalui firman selanjutnya,.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi, dan Dia sama sekali tidak memerlukan pihak lain. Dia yang mengatur makhluk-Nya dengan penuh keadilan dan menciptakan makhluk dengan benar. لِيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى (“Supaya dia beri balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik [surga].”) maksudnya, dia akan memberi balasan kepada setiap individu sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka akan dibalas dengan kebaikan, dan keburukan dibalas dengan keburukan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menyatakan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, semua berada dalam genggaman-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. Allah menjadikan semua yang ada di langit dan di bumi, Dia pemiliknya dan Dia yang mengaturnya, Dia mengetahui seluk-beluk keadaannya.

Maka janganlah manusia mengira bahwa Allah akan membiarkan mereka dengan tidak membalas setiap manusia menurut amal perbuatannya. Dia akan membalas menurut ilmu-Nya yang mencakupi segala sesuatu. Orang-orang yang berbuat baik diberi ganjaran kebaikan dengan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai dan memberi kesenangan yang tidak pernah terlintas di hati manusia.

Ia membalas orang-orang jahat sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya dari bermacam-macam seperti syirik dan maksiat karena hatinya tertutup oleh dosa-dosa besar dan kecil.

Tafsir Quraish Shihab: Hak mencipta dan mengatur semua makhluk yang ada di langit dan di bumi hanya milik Allah semata. Hal itu adalah agar Dia memberi balasan kepada orang yang sesat atas perbuatan buruknya dan memberi balasan yang baik kepada orang-orang yang mendapat petunjuk dan berbuat baik.

Surah An-Najm Ayat 32
ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

Terjemahan: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 42-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Yaitu orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil) yang dimaksud dari lafal Al Lamam adalah dosa-dosa kecil seperti, melihat wanita lain, menciumnya dan menyentuhnya. Istitsna atau pengecualian di sini bersifat Munqathi’ artinya dosa-dosa kecil itu diampuni oleh sebab menjauhi dosa-dosa besar.

إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ (Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya) disebabkan hal tersebut, sebab Dia Penerima Tobat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang telah mengatakan, salat kami, shaum kami dan haji kami هُوَ أَعۡلَمُ (Dia lebih mengetahui) بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ (tentang kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah) ketika Dia menciptakan bapak moyang kalian yaitu Adam dari tanah وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٌ (dan ketika kalian masih berupa janin lafal Ajinnatin adalah bentuk jamak dari lafal Janiin فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡ (dalam perut ibu kalian; maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci)

Janganlah kalian memuji-muji diri kalian sendiri dengan cara ujub atau takabur, akan tetapi bila kalian melakukannya dengan cara mengakui nikmat Allah, maka hal ini dianggap baik هُوَ أَعۡلَمُ (Dia-lah Yang paling mengetahui) Yang mengetahui بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ (tentang orang yang bertakwa”).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Swt. menjelaskan orang-orang yang berbuat baik sebagai orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Artinya mereka tidak mengerjakan semua itu. Kalaupun ada di antara mereka yang mengerjakan dosa-dosa kecil, maka sesungguhnya Dia akan memberikan ampunan kepada mereka dan menutupinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam ayat lain:

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلًا كَرِيمًا (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil] dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia [surga].”)(an-Nisaa’: 31)

Sedangkan di sini, Allah berfirman: ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”) yang demikian itu merupakan istitsna’ munqathi’ [pengecualian terputus], karena al-lamam itu merupakan bagian dari dosa-dosa kecil dan amal-amal yang tidak terpuji.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata: “Aku tidak melihat suatu perkara yang lebih menyerupai al-lamam selain apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah r.a dari Nabi saw., beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang ia pasti akan mengalaminya, tidak mungkin tidak. Zina mata berupa pandangan, zina lidah berupa perkataan, sedang hati mengangankan dan menginginkan, dan kemaluan(lah) yang membenarkan atau mendustakan hal itu.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

Mengenai firman-Nya: إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) ‘Ali bin Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa ia berkata: “Kecuali hal-hal yang telah berlalu.”) demkian pula yang dikemukakan oleh Zaid bin Aslam.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid mengenai ayat ini: إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) ia berkata: “Yaitu orang yang mengerjakan perbuatan dosa kemudian meninggalkannya.” Seorang penyair pernah mengungkapkan: “Jika engkau memberikan ampunan, ya Allah, maka Engkau mengampuni [dosa] yang banyak, dan siapakah hamba-Mu yang tidak berbuat dosa kecil?”

Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan yang lainnya secara marfu’ [sampai kepada Nabi saw] dari Ibnu ‘Abbas, tentang ayat: ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”) ia berkata:

“Yakni, orang yang mengerjakan perbuatan keji lalu bertaubat.” Dan ia menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Jika engkau memberikan ampunan, ya Allah, maka Engkau mengampuni [dosa] yang banyak, dan siapakah hamba-Mu yang tidak berbuat dosa kecil?”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dari Ahmad bin ‘Utsman Abu ‘Utsman al-Bashri, dari Abu ‘Ashim an-Nabil. Kemudian at-Tirmidzi mengungkapkan: “Hadits tersebut shahih hasan gharib, yang kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Zakariya bin Ishaq.”

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 27-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikian pula yang dikemukakan oleh al-Bazzar, dimana ia berkata: “Kami tidak mengetahui [bahwa hadits itu] diriwayatkan secara muttashil [tersambung] kecuali dari sisi ini. Hal itu pula yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baghawi dari hadits Abu ‘Ashim an-Nabil. Al-Baghawi menyebutkannya ketika menafsirkan surat Tanziil, dan mengenai keshahihannya sebagai marfu’ masih dipertanyakan.”

Mengenai firman-Nya: إِلَّا ٱللَّمَمَ (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Segala dosa yang berstatus antara dua had (hukuman); had dunia dan had akhirat yang dapat dihapuskan oleh shalat, maka ia termasuk al-lamam (dosa kecil), yaitu dosa-dosa yang statusnya di bawah setiap dosa yang mewajibkan adanya had.

Adapun had dunia adalah setiap hukuman yang oleh Allah diberikan di dunia, sedangkan had akhirat adalah setiap dosa yang oleh Allah diakhiri dengan ancaman api neraka dan ditangguhkan hukumannya di akhirat.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Qatadah, dan adl-Dlahhak.

Dan firman Allah Ta’ala: إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ (“Sesungguhnya Rabb-mu Mahaluas ampunannya.”) maksudnya, rahmat-Nya mencakup segala sesuatu dan ampunan-Nya pun meliputi segala macam dosa bagi siapa saja yang bertaubat darinya.

Dan firman-Nya: هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ (“Dan Dia lebih mengetahui [tentang keadaan]mu ketika Dia menjadikanmu dari tanah.”) maksudnya, Dia Mahamengetahui dan Mahamelihat keadaan, perbuatan dan ucapan kalian, serta apa yang terjadi pada diri kalian ketika Dia menciptakan ayah kalian, Adam dari tanah dan mengeluarkan keturunannya dari tulang rusuknya bagaikan dzarrah [atom]. Kemudian Dia membagi mereka semua menjadi dua golongan. Satu golongan ke surga dan golongan lainnya ke neraka.

Demikian juga firman-Nya: وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ (“Dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu.”) Malaikat yang diserahi tugas telah menulis rizki, ajal, amal, kebahagiaan dan kesengsaraan. Mak-hul mengatakan: “Kita semua dahulu menjadi janin dalam perut ibu kita. Ada di antara [kita] yang gugur dan kita termasuk yang masih hidup. Kemudian kita menjadi bayi, tapi ada di antara kita yang meninggal, dan kita termasuk yang masih tetap hidup.

Selanjutnya kita tumbuh menjadi anak-anak sehingga ada di antara kita yang meninggal dan kita termasuk yang tetap hidup. Setelah itu tumbuh menjadi dewasa sehingga ada di antara kita menjadi tua tanpa orang tua, lalu apa lagi yang harus kita tunggu?” demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Firman Allah Ta’ala: فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡ (“Maka janganlah kalian mengatakan dirimu suci.”) maksudnya, janganlah kalian memuji dan mensyukuri diri kalian serta berharap banyak terhadap amalan kalian. هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ (“Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”)

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’, ia berkata: “Aku telah memberi nama anak perempuanku dengan Barrah. Kemudian Zainab binti Abi Salamah berkata kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Jangan kalian anggap diri kalian suci, sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang baik di antara kita.’ Para shahabat bertanya: ‘Lalu dengan apa kami boleh memberinya nama?’ Beliau menjawab: ‘Namailah ia Zainab.’”

Dan juga telah ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi saw. maka beliau bersabda: ‘Celaka engkau, engkau telah memenggal leher temanmu –berkali-kali-, Jika salah seorang di antara kalian harus memuji temannya, maka hendaklah ia mengatakan:

Aku hanya mengira tentang si Fulan, Allah-lah yang mengetahuinya dengan sebenarnya, dan aku tidak menganggap seseorang terpuji dengan mendahului Allah, ‘aku kira dia begini dan begitu.’ Jika ia mengetahui orang itu memang demikian.’” Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah melalui jalan Khalid al-Hadza’.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hamam bin Harits, ia berkata: “Ada seseorang yang datang kepada ‘Utsman, lalu ia memujinya di hadapannya. Kemudian al-Miqdad bin al-Aswad menaburkan tanah pada wajahnya seraya berkata: ‘Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami apabila bertemu dengan orang-orang yang suka memuji-muji agar menaburkan tanah pada wajah mereka.’” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari hadits ats-Tsauri dari Manshur.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 56-62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang yang baik itu, ialah mereka yang menjauhkan dirinya dari dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, berzina, dan lain-lain, meskipun mereka melakukan dosa-dosa kecil yang kemudian disadari sehingga mereka segera bertaubat sambil menyesali perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan, mereka juga mengimbanginya dengan melakukan banyak perbuatan yang baik karena perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa-dosa kecil. Sebagaimana firman Allah:

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. (Hud/11: 114)

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahankesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (an-Nisa’/4: 31)

Dosa-dosa besar itu ada tujuh, Sayidina ‘Ali “Karramallahu Wajhah” mengatakan bahwa sebagaimana tersebut dalam Sahih alBukhari dan Muslim: Jauhilah tujuh dosa besar yang menghancurkan.

Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu? Nabi menjawab, mempersekutukan Allah, sihir, membunuh manusia yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari perang yang sedang berkecamuk dan menuduh wanita-wanita muhsanat, gafilat mu’minat. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ada pula yang menyatakan, “Dosa-dosa besar adalah dosa-dosa yang diancam oleh Allah dengan neraka atau dengan amarah-Nya atau dengan laknat, azab atau mewajibkan had atau hukuman tertentu di dunia seperti qisas potong tangan, rajam dan lain-lain karena yang melakukannya tidak merasa khawatir dan tidak meyesal atas tindakannya itu, padahal tindakannya itu menyebabkan kerusakan besar, walaupun menurut pandangan manusia merupakan hal kecil.”

Selanjutnya, ayat 32 ini menegaskan bahwa Allah Mahaluas ampunan-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kecil jika menjauhi dosa besar dan Dia mengampuni dosa-dosa besar bila pelakunya bertobat, serta diiringi penyesalan atas perbuatannya, tapi tidak putus asa terhadap pengampunan Allah. Allah berfirman:

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (azZumar/39: 53)

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah swt lebih mengetahui keadaan, perbuatan, dan ucapan manusia dikala Dia menjadikan manusia dari tanah dan dikala Dia membentuk rupanya dalam rahim ibunya, dari satu tahap ke tahap yang lainnya. Maka janganlah ada yang mengatakan dirinya suci.

Allahlah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. Bila kamu sadari yang demikian itu, maka janganlah kamu memuji dirinya dengan suci dari dosa atau suci dari perbuatan maksiat atau banyak melakukan kebaikan, tetapi hendaklah manusia banyak bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan ampunan-Nya.

Allah Maha Mengetahui siapa yang bersih dari kejahatan dan siapa yang menjerumuskan dirinya dalam kejahatan dan melumurkan dirinya dengan dosa. Sesungguhnya larangan menyucikan diri hanya berlaku bila yang mendorong seseorang untuk itu adalah riya’, takabur atau bangga. Selain dari sebab di atas, maka menyucikan diri tidak terlarang, bahkan dianjurkan.

Dalam ayat lain Allah berfirman: Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (an-Nisa’/4: 49).

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil, sebab akan diampuni oleh Allah. Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Mengetahui keadaan kalian, ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu pada beberapa fase yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, jangan mengaku suci dengan memuji dan membanggakan diri. Allah lebih tahu orang yang bertakwa yang benar-benar suci karena ketakwaannya itu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Najm Ayat 31-32 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S