Surah An-Najm Ayat 27-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Najm Ayat 27-30

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Najm Ayat 27-30 ini, menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat dan apa-apa yang terjadi di alam akhirat sebagaimana yang telah disampaikan para rasul; mereka itu menambah kekafiran dengan kebodohan perkataan mereka yang menganggap bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Tuhan (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah swt mencap orang-orang yang seperti itu sebagai orangorang yang tidak beriman dan sebagai isyarat bahwa perkataan mereka telah sampai kepada batas kekejian yang tidak mungkin berasal dari orang yang percaya adanya hisab dan pembalasan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm Ayat 27-30

Surah An-Najm Ayat 27
إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡءَاخِرَةِ لَيُسَمُّونَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ تَسۡمِيَةَ ٱلۡأُنثَىٰ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡءَاخِرَةِ لَيُسَمُّونَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ تَسۡمِيَةَ ٱلۡأُنثَىٰ (Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan) karena mereka telah mengatakan, bahwa para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik yang menyebut para malaikat sebagai makhluk berjenis perempuan dan mereka jadikan para malaikat itu sebagai anak perempuan Allah, yang Dia Mahatinggi dari semua itu.

Tafsir Kemenag: Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat dan apa-apa yang terjadi di alam akhirat sebagaimana yang telah disampaikan para rasul; mereka itu menambah kekafiran dengan kebodohan perkataan mereka yang menganggap bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Tuhan (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan).

Allah swt mencap orang-orang yang seperti itu sebagai orangorang yang tidak beriman dan sebagai isyarat bahwa perkataan mereka telah sampai kepada batas kekejian yang tidak mungkin berasal dari orang yang percaya adanya hisab dan pembalasan.

Perkataan mereka itu mengandung dua dosa: Yaitu pengakuan bahwa Tuhan mempunyai anak, dan bahwa anak Tuhan yang mereka katakan itu perempuan, dengan pengakuan yang demikian itu mereka merasa bangga telah melebihi Tuhan, karena mereka mempunyai anak laki-laki.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang tidak percaya kepada hari akhirat menamakan malaikat dengan nama perempuan. Mereka mengatakan, “Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.”

Surah An-Najm Ayat 28
وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا

Terjemahan: Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

Tafsir Jalalain: وَمَا لَهُم بِهِۦ (Dan mereka tidak mendasari perkataan mereka itu) ucapan mereka itu tidak didasari مِنۡ عِلۡمٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا (dengan sesuatu pengetahuan pun tentangnya. Tiada lain) mereka hanya mengikuti) dalam hal tersebut ٱلظَّنَّ (prasangka) yang mereka khayalkan,

وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا (sedangkan sesungguhnya prasangka itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran) maksudnya, tiada sedikit pun pengetahuan yang bermanfaat dalam prasangka itu di dalam menelaah hal-hal yang dituntut adanya pengetahuan.

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 53-54; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ (“Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu.”) maksudnya, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang benar untuk mendukung pernyataan itu, bahkan hal itu hanya merupakan kedustaan, tipu daya dan rekayasa, serta kekufuran yang menjijikkan.

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا (“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”) maksudnya, tidak akan pernah mendatangkan manfaat sedikitpun dan tidak pula akan dapat menempati posisi kebenaran. Dan di dalam hadits shahih telah ditetapkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta ucapan.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa perkataan yang demikian itu adalah suatu tanda bahwa mereka tidak mendapat petujuk Tuhan berupa pengetahuan yang membawa mereka ke jalan benar yang menyebabkan mereka mengatakan seperti itu. Mereka hanya terpengaruh oleh prasangka yang menjauhkan mereka dari kebenaran.

Sesungguhnya suatu pengetahuan yang benar haruslah berdasarkan keyakinan, bukan hanya perkiraan atau persangkaan. Adapun orang musyrik itu hanyalah mengikuti persangkaan dalam menamakan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan, bukan dengan analisa ilmiah.

Dalam hadis sahih dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ) “Jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Dalam ayat yang sama artinya Allah berfirman: Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban. (az-Zukhruf/43: 19)

Tegasnya bahwa suatu hal yang berhubungan dengan iktikad hendaklah berdasarkan pemikiran yang sehat yang dapat diterima oleh akal dan tidak bertentangan dengan wahyu.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak mempunyai dasar keyakinan apa-apa mengenai ucapannya itu. Mereka hanya mengikuti prasangka-prasangka yang tidak benar. Padahal prasangka itu sama sekali tidak mengandung kebenaran sedikit pun.

Surah An-Najm Ayat 29
فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا

Terjemahan: Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.

Tafsir Jalalain: فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا (Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami) orang yang berpaling dari Alquran وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi) ayat ini diturunkan sebelum ada perintah berjihad dari Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling dari peringatn Kami.”) maksudnya, berpaling dan menjauh dari orang yang berpaling dari kebenaran serta menyelisihi orang tersebut.

Firman-Nya: وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (“Dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.”) maksudnya, keinginan dan pengetahuannya didominasi oleh dunia saja, dan itulah yang menjadi tujuan puncak yang di dalamnya tidak mengandung kebaikan sama sekali.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 42-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan Rasul saw agar berpaling dari orang-orang kafir dan musyrik yang telah berpaling dari Al-Qur’an kitab Allah, yang tidak mau menjadikannya sebagai pedoman hidup, padahal seharusnya mereka sadar bahwa Al-Qur’an bisa menuntun mereka untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Al-Qur’an juga berisi kisah umat-umat terdahulu, sikap mereka terhadap para nabi dan rasul, dan akibat dari pembangkangan mereka terhadap ajaran para rasul tersebut, yaitu azab yang pedih di akhirat. Orang-orang musyrik dan kafir malah tidak mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu, mereka mencukupkan diri dengan hal-hal yang berhubungan dengan keduniaan saja. Bahkan mereka rela tertipu dengan kepalsuan dunia dan terseret untuk hanya memikirkan kesenangan duniawi saja.

Tegasnya, Muhammad saw diperintahkan oleh Allah agar tidak terlalu menghiraukan sikap orang-orang kafir yang berpaling dari Allah, karena mereka memang hanya menginginkan kesenangan duniawi yang merupakan tujuan hidup dan cita-cita mereka.

Dalam keadaan seperti itu, sudah tidak ada lagi jalan untuk beriman. Maka Allah swt memerintahkan kepada rasul-Nya, Muhammad saw untuk merasa tidak kasihan atau bersedih hati atas keadaan mereka itu. Karena Rasul pernah hampir mencelakai dirinya hanya karena prihatin melihat keadaan kaumnya yang tidak beriman.

Allah swt berfirman: Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman. (asySyu’ara’/26: 3)

Orang-orang musyrik hanya membatasi diri kepada kehidupan duniawi, karena ilmu pengetahuan mereka terbatas pada masalahmasalah duniawi saja serta menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan duniawi saja. Mereka sudah merasa berhasil dengan banyaknya harta dunia yang mereka miliki dan tingginya kedudukan sosial mereka.

Mereka tidak memperhatikan berita-berita lainnya yang disampaikan oleh para rasul terutama tentang kehidupan akhirat. Keadaan mereka yang demikian itu menjadikan telinga tersumbat, tidak dapat mendengar berita-berita tentang akhirat.

Tafsir Quraish Shihab: Oleh karena itu tinggalkanlah orang-orang kafir yang menentang al-Qur’ân dan hanya memikirkan kehidupan dunia itu.

Surah An-Najm Ayat 30
ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ

Terjemahan: Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Tafsir Jalalain: ذَٰلِكَ (Yang demikian itu) yakni mencari keduniaan مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ (adalah sejauh-jauh pengetahuan mereka) artinya, tujuan pengetahuan mereka ialah memilih keduniawian daripada akhirat. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ (Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk) atau Dia mengetahui siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat, kelak Dia akan memberikan balasan-Nya kepada masing-masing.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 7; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ (“Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.”) yakni mencari dan mengejar dunia, dan itulah tujuan akhir yang mereka capai.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Dunia ini adalah tempat tinggal orang yang tidak mempunyai rumah, harta bagi orang yang tidak mempunyai harta benda. Dan karenanya [dunia] orang-orang yang tidak berakal berlomba-lomba untuk mengumpulkannya.” Dan dalam doa dari Rasulullah saw. disebutkan:

Allaahumma laa taj’alid dun-yaa akbara Hamminaa, wa laa mablagha ‘ilminaa (“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan tujuan akhir pengetahuan kami.”)

Firman Allah Ta’ala: إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ (“Sesungguhnya Rabb-mu, Dia pula lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”) maksudnya, Dia adalah Pencipta bagi seluruh makhluk, Mahatahu kemashlahatan hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki pula.

Semua itu karena kekuasaan, ilmu, dan hikmah-Nya. Dan Dia Mahaadil, yang tidak akan berbuat aniaya sama sekali, baik dalam syariat maupun kekuasaan-Nya.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah swt menegaskan dalam ayat ini bahwa sesungguhnya Dia Maha Mengetahui orang-orang yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini serta memikirkan apa-apa yang terkandung dalam seruan rasul-Nya sehingga ia mendapat petunjuk ke jalan kebenaran yang menyelamatkannya pada hari kebangkitan dan mendapat keridaan Tuhannya. Ia berbahagia di dunia karena ia mengikuti apa-apa yang telah digariskan oleh Allah untuk manusia yang mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Maha Mengetahui orang-orang yang menyeleweng dari jalan yang benar yang telah membuat hawa nafsunya menjadi tuhannya yang membekukan akal nuraninya itu. Allah akan memberikan balasan kepada semua makhluk-Nya tanpa memandang kedudukannya di dunia, sesuai keluasan ilmu-Nya, dengan mengutamakan orang-orang yang melakukan pengabdian kepada-Nya. Allah swt berfirman:

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). (Yunus/10: 26).

Tafsir Quraish Shihab: Keyakinan dan perbuatan yang mereka ikuti itu adalah batas pengetahuan yang mereka capai. Tuhanmu sungguh lebih mengetahui orang yang memilih kesesatan dan Dia pun lebih mengetahui orang yang menerima petunjuk.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Najm Ayat 27-30 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S