Awas! Ini Upaya HTI untuk Bangkit Kembali

upaya hti bangkit kembali

Mengalami situasi lupa dan lengah adalah manusiawi. Tetapi, yang membedakan manusia yang baik dan tidak ialah apakah ia ingat kembali setelah lupa atau membiarkan diri terus-menerus dalam kelupaan
(Ulil Abshar Abdalla)

Pecihitam.org – Sudah 2 tahun sejak dicabutnya izin dan dibubarkannya organisasi Hizbut Tahrir Indonesia ternyata masih menyisakan benih-benih radikalisasi yang mengancam kedaulatan Negeri ini. Namun tentu saja dengan gerakan yang lebih terselubung dan numpang dalam kegiatan orang lain. Terutama dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa Islami.

Gerakan Islam radikal di Indonesia tidak pernah berhenti untuk terus merangkak naik ke permukaan. Dalam setiap kesempatan selalu muncul dan mengelaborasi masyarakat untuk masuk dan ikut serta dalam setiap kegiatan mereka. Bahkan dengan berbagai cara terus-menerus memberikan provokasi kepada masyarakat agar bisa mencapai apa yang menjadi tujuannya.

Termasuk dalam momentum hari besar Islam seperti sekarang ini yakni 1 Muharram yang merupakan tahun baru hijriah atau Tahun baru Islam. Hampir disetiap daerah umat Islam memperingati tahun baru hijriah dengan mengadakan berbagai kegiatan, salah satunya dengan menggelar parade obor dan tabligh akbar yang diisi oleh penceramah-penceramah kondang baik lokal maupun interlokal.

Seperti di daerah Indramayu, malam tahun baru Hijriah digelar dengan acara parade keliling kota dan diikuti lebih dari seratus peserta parade, menariknya dalam parade tersebut berkibar bendera-bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang merupakan ciri khas bendera ISIS dan HTI.

Baca Juga:  Pengasong Khilafah: Kenapa NU Menerima Pancasila? Ini Jawaban KH. Ubaidillah Shodaqoh

Kendatipun menurut MUI Yunahar Ilyas itu bukan resmi bendera HTI akan tetapi bendera tersebut selalu dibawa dalam kegiatan-kegiatan HTI ketika masih legal di Negara ini. Jadi ketika klaim atas bendera yang bertuliskan kalimat tauhid itu sebagai bendera HTI, maka menjadi wajar dan tak bisa dipungkiri lagi bukan?

Jadi bukan hal yang menyalahi apabila dari beberapa ormas mengambil dan melucuti bendera tersebut, itu justru sudah tepat sekali langkahnya. Namun yang menarik adalah ketika ada orang yang merampas bendera tersebut maka akan dicap sebagai orang yang anti Islam sebab tidak menyukai kalimat tauhid yang menurut mereka juga sebagai bendera panji Rosul.

Padahal menurt Gus Nadir tidak ada kaitannya antara bendera dengan syariat sebab riwayat hadits tentang bendera panji ini juga sangat diragukan. Hadits Riwayat Thabrani dan Abu syeikh yang bilang bendera panji Rosul itu hitam dan putih itu dhoif. Sebab dalam riwayat tersebut ada rawi yang dianggap pembohong yakni Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahibi dia adalah pemalsu hadits.

Baca Juga:  Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Inthilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Jadi jelas apabila bendera yang biasa digunakan oleh HTI itu bukan bendera panji Rosul, bukan bendera Islam. Hanya akal-akalan mereka saja yang memgecam orang yang merampas bendera tersebut dengan sebutan penista Agama dan pembenci Islam. Mereka berlindung dibalik nama agama, hal ini sungguh perbuatan yang tidak terpuji menjadikan agama sebagai tameng untuk kepentingan golongan mereka saja.

Selain menyelipkan bendera, HTI juga menyelipkan agen-agennya untuk mengisi ceramah dalam kegiatan peringatan Tahun baru Hijriah ini, seperti yang terjadi di Solo dalam kegiatan parade ukhuwah yang menghadirkan penceramah semacam Felix siauw yang merupakan tokoh HTI tulen. Apalagi dengan melihat surat edaran dari panitia kegiatan yang memberikan himbauan kepada peserta untuk membawa bendera merah putih dan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid.

Pun halnya yang terjadi di Kota Cirebon dalam parade keliling yang digelar masyarakat dan sejumlah pengurus DKM setempat juga terdapat bendera-bendera dengan ciri khas bendera yang sering dipakai oleh organisasi terlarang di Indonesia itu.

Terlalu aneh apabila disebut sebagai kebetulan bukan? Hal ini sudah pasti merupakan suatu gerakan yang terskema dan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang masih mendambakan kembalinya HTI dan masih berusaha merongrong Idiologi Negeri ini.

Baca Juga:  Beginilah Peran dan Keterlibatan Perempuan Dalam Aksi Terorisme

Permasalahan ini merupakan suatu yang harus diwaspadai bersama bahkan harus bisa menjadi perhatian serius oleh pemerintah agar tidak muncul kembali organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam yang justru menjadi alat politik dan alat kepentingan yang mengancam Negara.

Karena bagaimanapun Indonesia adalah Negara dengan mayoritas umat muslim terbesar didunia, sehingga akan banyak sekali yang ingin memanfaatkan dan mengatasnamakan Islam untuk kepentingan. Ini menyakiti hati para pemeluk Islam yang menginginkan dan menjadikan Islam sebagai jalan dan tuntunan kehidupan justru malah dijadikan sebagai alat kepentingan sebagian golongan, apalagi sebagai alat untuk merebut kekuasaan.

Sebagai generesi muda Islam yang ramah nan santun mari kita bersama-sama dalam menjaga marwah Islam dan menjadikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tabik!

Fathur IM
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *