Inilah Ayat-Ayat yang Mustahil Orang Paham Tanpa Tahu Asbabun Nuzulnya

Inilah Ayat-Ayat yang Mustahil Orang Paham Tanpa Tahu Asbabun Nuzulnya

PeciHitam.orgSudah bukan rahasia lagi bahwa tidak semua ulama sepakat dengan keharusan memahami Al-Quran melalui Asbabun Nuzul. Meski demikian, semua ulama sepakat bahwa ada beberapa ayat yang mustahil dipahami dengan benar jika tidak mengetahui asal usulnya.

Diantaranya contoh ayat yang tidak bisa dipahami secara tepat kecuali dengan menyertakan asbabun nuzulnya yaitu :

Pertama, Diinformasikan bahwa ‘Urwah bin Zubair merasa kesulitan untuk memahami ayat 158 surat a Baqarah yaitu:

Artinya: Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, Barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah dan berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya

Hal ini karena dalam redaksi ayat tersebut terdapat kalimat la junaha (tidak ada dosa) yang memberikan pengertian menafikan kewajiban sa’i Lalu Zubair bertanya kepada bibinya ‘Aisyah RA tentang hal tersebut yang kemudian menerangkan bahwa kata “laa junaha” dalam ayat tersebut tidak berarti menafikan kewajiban, melainkan berarti menghilangkan perasaan berdosa dan beban dari hati kaum muslimin ketika melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwah, sebab perbuatan itu termasuk tradisi jahiliyah.

Dalam riwayat disebutkan bahwa di daerah Safa terdapat patung yang bernama Isaf dan di atas Marwah ada patung lain yang bernama Nailah. Dulu, pada masa sebelum Islam, ketika orang orang musyrik melakukan sa’i, mereka melakukannya sambil mengusap kedua patung tersebut.

Setelah Islam datang dan kedua patung itu dihancurkan, kaum Muslim masih merasa keberatan untuk melakukan sa’i, sehingga turunlah ayat tadi.

Kedua, surat al Baqarah 115 yaitu:

Artinya: “Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah”

Jika kita berhenti hanya sampai pada zahirnya ayat, maka ayat tersebut memberikan pengertian bahwa tidak ada kewajiban untuk menghadap ke kiblat dalam shalat, baik itu dalam keadaan safar atau tidak, padahal ijma’ sendiri menentukan bahwa kebolehan menghadap kemana saja, itu berlaku pada saat safar saja.

Dalam konteks ini, dengan merujuk pada sabab nuzul ayat, maka bisa diketahui bahwa ayat tersebut berkenaan dengan orang shalat yang sedang berada dalam perjalanan, atau juga seperti yang disebutkan dalam riwayat yang lain sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang tidak mau mengerti ketentuan perubahan kiblat ke Ka’bah.

Ketiga, diriwayatkan bahwa pernah terjadi pada dua orang yaitu Qudamah bin Mazh’un dan ‘Amru bin Ma’dikarib keduanya berkata bahwa minum khamar itu mubah Mereka berhujjah dengan firman Allah Surat al Maidah 93 yaitu:

Artinya: Tidak ada dosa bagi orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena telah memakan makanan yang mereka makan terdahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan amala yang salek kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman kemudian mereka tetap bertakwa dan berbuat kebajikan Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

Jika asbabun nuzul ayat tersebut diteliti, maka keduanya tidak akan mengatakan bahwa khamar adalah mubah. Berkenaan dengan sabab nuzul ayat tersebut, dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa suatu ketika (sesaat setelah ada ketentuan keharaman khamar) orang orang berkata:

‘Bagaimana dengan mereka yang terbunuh di jalan Allah, kemudian mati. Padahal mereka juga minum khamar? Lalu turunlah ayat di atas. (HR. Ahmad dan Nasai dan lain lain).

Dengan demikian maka sabab nuzul ayat tersebut menunjukkan bahwa peniadaan dosa itu berlaku sebelum terjadinya pengharaman.

Keempat, adalah apa yang diriwayatkan secara sahih dari Marwan bin Hakam bahwa dia merasa kesulitan untuk memahami ayat 188 surat Ali Imran. Firman Allah:

Artinya: “Sekali kali janganlah kamu menyangka bahwa orang orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”.

Kemudian ia mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas dan menanyakan maksud ayat di atas dengan mengatakan, Seandainya setiap orang yang bergembira dengan apa yang didapat serta yang ingin dipuji dengan sesuatu yang belum dilakukan itu diazab, niscaya kita semua akan mendapat azab?

Lalu Ibnu ‘Abbas menjawab bahwa ayat tersebut diturunkan kepada Ahli Kitab. Ketika itu Nabi bertanya tentang sesuatu kepada mereka, lalu mereka menyembunyikan hal yang sesungguhnya (tidak mau menjawab), dan memberikan jawaban yang lain. Mereka memperlihatkan kepada Nabi seakan akan sudah menjawab apa yang ditanyakan beliau dan meminta pujian, sehingga turunlah ayat di atas.

Dengan demikian, maka jawaban Ibnu ‘Abbas tersebut menunjukkan bahwa meskipun lafad ayat di atas bersifat aam akan tetapi pengertiannya bersifat khaas.

Sedangkan contoh contoh lainnya adalah surat at Talaq ayat 4, surat at Taghabun 14 dan beberapa lainnya dimana jumlahnya sangat sedikit.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG