Surah As-Sajdah Ayat 26-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Sajdah Ayat 26-27

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Sajdah Ayat 26-27 ini, Allah memperingatkan orang-orang musyrik Mekah yang selalu menentang dan mengingkari seruan Nabi Muhammad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Sajdah Ayat 26-27

Surah As-Sajdah Ayat 26
أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّنَ ٱلْقُرُونِ يَمْشُونَ فِى مَسَٰكِنِهِمْ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ أَفَلَا يَسْمَعُونَ

Terjemahan: “Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?

Tafsir Jalalain: أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا (Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan) maksudnya apakah tidak jelas bagi orang-orang kafir Mekah, bahwasanya Kami telah banyak membinasakan umat-umat sebelum mereka disebabkan kekafirannya مِن قَبْلِهِم مِّنَ ٱلْقُرُونِ يَمْشُونَ (sedangkan mereka sendiri berjalan) lafal ayat ini berkedudukan sebagai hal atau kata keterangan keadaan bagi dhamir lahum فِى مَسَٰكِنِهِمْ (di tempat-tempat kediaman mereka itu) sewaktu mereka mengadakan perjalanan ke negeri Syam dan negeri-negeri lainnya, yakni apakah mereka tidak mengambil pelajaran daripadanya.

فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ (Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Kami. أَفَلَا يَسْمَعُونَ (Maka apakah mereka tidak mendengarkan) dengan pendengaran yang penuh perhatian dan mau menerima apa yang didengarnya?.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman, apakah tidak menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mendustakan para Rasul dan umat-umat sebelum mereka yang dibinasakan oleh Allah dan melanggar risalah yang dibawa oleh mereka berupa jalan yang lurus, sehingga tidak ada lagi yang tersisa, baik dirinya maupun peninggalannya. (“Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?”)(Maryam: 98)

Untuk itu Dia berfirman: يَمْشُونَ فِى مَسَٰكِنِهِمْ (“Sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu.”) yaitu mereka yang mendustakan itu berjalan di tempat-tempat kediaman mereka yang mendustakan tersebut.

Mereka tidak melihat seorang pun yang diam di dalamnya dan memakmurkan daerah yang mereka tinggalkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: yang artinya (“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kedhaliman mereka.”)(an-Naml: 52)

Untuk itu disini Allah berfirman: إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda”) yaitu sesungguhnya di dalam peristiwa hilang dan hancurnya kaum serta adzab yang menimpa mereka disebabkan mereka mendustakan para Rasul dan selamatnya orang yang beriman kepada mereka merupakan tanda-tanda, pelajaran, nasehat dan bukti-bukti yang dapat disaksikan.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 120; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

أَفَلَا يَسْمَعُونَ (“dan apakah mereka tidak mendengarkan [memperhatikan]?”) yaitu kisah-kisah orang terdahulu, bagaimana peristiwa yang terjadi terhadap mereka?

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah memperingatkan orang-orang musyrik Mekah yang selalu menentang dan mengingkari seruan Nabi Muhammad. Apakah belum jelas bagi mereka jalan benar yang telah ditunjukkan kepada mereka. Apakah mereka lupa dan tidak memperhatikan akibat yang diterima umat-umat dahulu yang mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka.

Bukankah orang-orang musyrik Mekah sering melakukan perdagangan ke Syiria dan Yaman. Dalam perjalanan itu, mereka menyaksikan dan melihat bekas negeri kaum ‘Ad, Samud, Lut, penduduk Aikah, dan sebagainya yang telah hancur akibat tindakan mereka yang mendustakan para rasul.

Ayat lain yang senada dengan ayat ini ialah firman Allah: Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya). (al-hajj/22: 45)

Firman Allah lainnya: Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui. (an-Naml/27: 52)

Allah mengatakan bahwa sebenarnya pada bekas reruntuhan dan tempat kediaman orang-orang yang mendustakan dan mengingkari seruan rasul itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Kejadian itu menunjukkan bahwa sunatullah berlaku bagi semua orang yang zalim.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah Allah akan membiarkan begitu saja orang-orang yang mendustakan para rasul tanpa memberikan penjelasan kepada mereka bahwa Dia telah membinasakan umat-umat terdahulu, padahal para pendusta Muhammad itu telah pernah melewati negeri tempat tinggal mereka? Sungguh, pada peninggalan mereka itu terdapat pelajaran yang menunjukkan kebenaran. Tetapi, apakah mereka tuli sehingga tidak bisa menyimak pelajaran itu?

Surah As-Sajdah Ayat 27
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا نَسُوقُ ٱلْمَآءَ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَٰمُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Terjeahan: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?

Tafsir Jalalain: أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا نَسُوقُ ٱلْمَآءَ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ (Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau awan yang mengandung air ke bumi yang tandus) yakni bumi yang tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya فَنُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَٰمُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ (lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya dapat makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri.

Baca Juga:  Surah As-Sajdah Ayat 15-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maka apakah mereka tidak memperhatikan?) hal tersebut sehingga menuntun mereka untuk mengetahui, bahwa Kami mampu untuk mengembalikan mereka hidup kembali sesudah mereka mati nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا نَسُوقُ ٱلْمَآءَ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasannya Kami menghalau [awan yang mengandung] air ke bumi yang tandus.”) Allah Ta’ala menjelaskan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya, serta kebaikan-Nya kepada mereka dengan dikirimnya air, baik yang berasal dari langit atau yang berasal dari sumber-sumber mata air yang dibawa oleh sungai atau yang mengalir dari pegunungan ke tanah-tanah yang membutuhkan pada waktu-waktunya.

Untuk itu firman Allah: إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ (“Ke bumi yang tandus.”) yaitu tanah yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan, sebagaimana Allahberfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan [pula] apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (al-Kahfi: 8) yaitu kering yang tidak ada tumbuhan sedikitpun.

Yang dimaksud firman Allah: إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ (“Ke bumi yang tandus.”) bukanlah tanah Mesir saja, akan tetapi itu barulah sebagian tanah yang dimaksud. Sekalipun hal itu banyak dipermisalkan oleh para ahli tafsir, akan tetapi tanah itu bukanlah satu-satunya yang dimaksud oleh ayat ini, sekalipun tanah itu yang dibicarakan secara pasti dalam ayat ini.

Dan tanah Mesir sendiri adalah tanah luas yang keras yang membutuhkan air. Dimana seandainya air hujan turun disana, niscaya hancurlah bangunan-bangunan. Maka Allah mengalirkan sungai nil kesana dengan kandungan air yang diperolehnya secara lebih dari negeri Ethiopia.

Di sana terdapat tanah merah yang meliputi tanah Mesir yang merupakan tanah bebatuan dan berkerikil yang membutuhkan air tersebut. Tanah merah itu pula yang menjadi tempat subur tumbuhnya tanam-tanaman, hingga mereka mampu memperbesar setiap tahunnya air baru yang dihujankan untuk negeri yang lain serta tanah baru untuk negeri-negeri lain pula. Maha Suci Allah Yang Mahabijaksana, Mahapemurah, Mahapemberi nikmat lagi Mahaterpuji selama-lamanya.

Firman Allah: أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا نَسُوقُ ٱلْمَآءَ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَٰمُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasannya Kami menghalau [awan yang mengandung] air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya [dapat] makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?”)

Baca Juga:  Surah As-Sajdah Ayat 12-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sebagaimana firman Allah: yang artinya(“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air [dari langit].”) (‘Abasa: 24-25) untuk itu disini Allah berfirman: أَفَلَا يُبْصِرُونَ (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan?”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini mempertanyakan apakah orang-orang kafir itu buta, sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah? Bukankah Allah yang menghalau awan ke tempat yang kering dan tandus serta tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan? Awan itu berubah menjadi air hujan yang menyirami tanah itu sehingga memungkinkan manusia mengalirkannya ke tanah-tanah yang kering.

Tanah itu lalu menjadi subur dan ditumbuhi oleh bermacam-macam tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Sebagian tanaman itu dimakan oleh manusia dan sebagian lagi oleh binatang ternak piaraan mereka.

Apakah mereka tidak melihat bukti-bukti yang demikian itu sehingga mereka dapat mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah dalam menghidupkan manusia yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya? Jika mau memperhatikan, mereka tentu akan sampai kepada keyakinan bahwa Allah Mahakuasa, tidak ada yang sukar bagi-Nya. Jika Dia meng-hendaki, cukuplah Dia mengatakan “kun” (jadilah), maka jadilah yang dikehendaki-Nya itu.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah penglihatan mereka benar-benar buta dan tidak bisa melihat bahwa Kami mengalirkan air hujan–melalui sungai–menuju tanah yang tak berpepohonan? Lalu, dengan air itu, Kami menumbuhkan tanaman yang menjadi makanan hewan ternak, sementara mereka sendiri memakan buah dan bijinya? Sekali lagi, apakah mereka buta sehingga tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kekuasaan Allah menghidupkan orang mati?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah As-Sajdah Ayat 26-27 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S