Hubungan Antara Bahasa dan Agama: Arab Bukan Islam, Islam Bukan Arab

Hubungan Antara Bahasa dan Agama: Arab Bukan Islam, Islam Bukan Arab

PeciHitam.org Komunikasi manusia pastinya menggunakan bahasa, baik bahasa verbal atau bahasa lainnya. Sejarah manusia mencatat bahwa bahasa tumbuh berkembang seiring adanya manusi itu sendiri. karena bahasa adalah produk manusia yang bersepakat terhadap sebuah sistem bunyi dan lambang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perjalanan bahasa modern ini, ternyata terjadi degradasi makna yang mengkhawatirkan terkait stereotip dan labeling bahasa dan agama. Banyak orang salah paham atau gagal paham dengan memberi ‘label’ bahasa dengan agama tertentu.

Pandangan yang sangat naif, karena bahasa sejatinya adalah alat komunikasi guna menyampaikan pesan tertentu. Bisa jadi bahasa melekat dengan agama tertentu, akan tetapi tidak menjadi kebenaran bahwa bahasa mewakili agama tertentu.

Relasi agama dan bahasa dalam berbagai diskursus, dan isu yang hangat belakang ini, yaitu hadirnya Aplikasi Injil berbahasa Minang, harus diurai dengan pikiran terbuka.

Bahasa, Sudut Pandang Filosofis

Didunia sekurangnya terdapat 7000 bahasa yang digunakan secara aktif oleh berbagai suku. Bahasa ini belum terhitung dengan berbagai variasi dialek atau lahjah yang dalam satu bahasa bisa memiliki banyak sekali lahjah. Dilek atau lahjah dan sub-bahasa dalam setiap bahasa bisa memiliki tingkatan dan cabang hingga puluhan, sebagaimana dalam Bahasa Jawa.

Ada bahasa Jawa lahjah Solo, Yogyakarta, Ngapak, Ngoko, Krama dan lain sebagainya yang bersumber dari turunan Bahasa Jawa. Sama halnya dengan bahasa lainnya, bisa dipastikan memiliki berbagai percabangan yang kompleks.

Pada dasar filosofinya, bahasa adalah sebuah tanda atau gerakan yang disepakati oleh sebuah komunitas masyarakat. Mereka menggunakan bahasa atas dasar kesepakatan kolektif. Sifat dasar bahasa adalah ‘mana-suka’ atau tidak bisa diintervensi oleh kesepakatan diluar komunitas.

Struktur bahasa dalam setiap masyarakat tentunya berbeda karena nilai kesepakatan, kepantasan, kesopanan dan faktor lainnya memiliki perbedaan. Tidak akan bisa bahasa orang yang bertempat dipegunungan disamakan pola nilainya dengan bahasa orang dipantai.

Baca Juga:  Lagi Emosi? Ini Lho Adab Marah dalam Islam yang Harus Kamu Jaga

Tuturan bahasa oleh komunitas masyarakat sebetulnya tidak berafiliasi dengan agama tertentu, oleh karenanya bahasa seharusnya dilepaskan diri dari klaim agama yang tidak tepat.

Bahasa Arab dan Islam

Al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam ditulis dan disepakati menggunakan Bahasa Arab. Allah SWT berfirman;

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٣

Artinya; “Demi kitab (Al Quran) yang menerangkan, Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)”

Kaidah dalam ayat menunjukan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, akan tetapi JANGAN TERBALIK bahwa Bahasa Arab adalah Mutlak bahasa Al-Qur’an. Alasannya, tidak semua Bahasa Arab menjadi bahasa Al-Qur’an.

Penurunan Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab tidak lain karena Muhammad SAW adalah seorang Arab Musta’ribah keturunan Ibrahim AS. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an;

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya; “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. Ibrahim: 4)

Bahasa Arab dan Islam memang tidak bisa terlepas karena seluruh literasi Agama Islam masa awal pasti berbahasa Arab. Karena Nabi Muhammad SAW seorang Arab, dan berbicara dengan bahasa Kaumnya, dan beliau diturunkan Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab.

Kedudukan bahasa Arab dalam Islam sangat penting. Urgensi bahasa Arab dalam Islam mengandung pelajaran bahwa seorang yang tidak memahami Bahasa Arab serta perangkat keilmuannya jangan sok-sokan menafsirkan dan mencari simpulan/ Istinbath hukum. Jika dilakukan maka akan ‘Dlalun wa Adhallu’ yaitu sesat dan menyesatkan.

Relasi bahasa dan Agama dalam konteks bahasa Arab yaitu bahwa Al-Qur’an, sumber hukum Islam, menggunakan bahasa Arab. Maka kepentingan Umat Islam mempelajari Bahasa Arab adalah untuk memahami Isi Al-Qur’an dan sumber hukum Islam lainnya.

Baca Juga:  Filosofi Shalat Berjamaah dalam Kepemimpinan dan Hidup Bernegara

Akan tetapi hubungan bahasa dan Agama dalam konteks bahasa Arab JANGAN sampai dipukul rata bahwa hanya Al-Qur’an yang  diperbolehkan berbahasa Arab.

Dan hak berbicara bahasa Arab hanya orang Islam atau  orang Islam diharuskan berbicara bahasa Arab. Pola demikian tentunya tidak dibenarkan karean Islam sendiri rahmatan Lil ‘Alamiin.

Bahasa Arab dan Salah Pahamnya

‘Identik belum tentu Mewakili Keseluruhan’, ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kesalah-pahaman antara bahasa Arab dan Islam. Memang dalam riwayat disebutkan bahwa ‘Bahasa penduduk Surga adalah bahasa Arab’ akan tetapi tidak serta merta yang tidak berbahasa Arab terlarang masuk surga.

Salah paham dalam bahasa Arab sering berakibat sangat fatal. Karena keterlanjuran anggapan bahasa Arab adalah bahasa profan atau suci dan bahasa Ketuhanan.

Sebagaimana kejadian yang terjadi pada sebuah acara Syiar Ramadhan di Stasiun Televisi Nasional, sorang Munsyid (penyanyi Nasyid) membawakan Lagu ‘Ya Tab Tab’, yang bernuansa lagu ‘Genit’ bukan lagu Religi.

Lagu ‘Ya Tab Tab’ adalah lagu Nancy Ajram, seorang Lebanon yang beragama Kristen Katholik dan berprofesi sebagai Penyanyi. Tentunya karena berkebangsaan Arab, ia bernyanyi menggunakan bahasa Arab, akan tetapi nilai yang ada dalam lagu tersebut tidak merepresentasikan/ mewakili Islam.

Dalam hal ini, Munsyid Sabyan melakukan kesalahan fatal yang menjadikan orang menjadi salah kaprah dalam memahami bahasa Arab. Acara Syiar Ramadhan adalah acara yang identik dengan pesan moral Agama, akan tetapi diisi dengan lagu yang tidak mewakili pesan-pesan keislaman.

Kesalah-pahaman terkait bahasa dan Agama juga tidak akan terhindar ketika ada Al-Kitab (Injil/ kitab Suci Kristen) jatuh kepada orang yang tidak sesuai. Menurut Prof. Sumanto Al-Qurtubi, dosen King Fahd University Arab Saudi, bahwa Injil di Arab juga tercetak dengan bahasa Arab. Bagi mereka yang tidak memahami ‘pasti’ akan dikira Al-Qur’an.

Pun dalam ceramah yang disampaikan, Pendeta di Kanisah (gereja) akan menggunakan bahasa Arab. Jumlah orang Non-Islam di Jazirah Arab sendiri bisa dibilang tidak sedikit, walaupun tetap minoritas. Akan tetapi hal ini menjadi bukti bahwa Bahasa Arab bukan melulu ‘Milik’ Muslim.

Baca Juga:  Tradisi Sedekah Bumi dan Laut Menurut Pandangan Agama Islam

Injil dalam Bahasa Minang

Anggapan Umum manusia awam memang sering menyematkan sesuatu karena mayortas, bukan atas dasar fakta otentik. Sebagaimana bahasa Arab selalu identik dengan Agama Islam, bahasa Ibrani Identik dengan Yahudi, Sansekerta Identik dengan Hindu-Budha dan lain sebagainya.

Klaim tersebut juga sering muncul dalam berbagai variasi turunan dari ‘labeling’ bahasa dan Agama beririsan. Kasus di Nusantara yang baru terjadi adalah ‘Kasus Injil Berbahasa Minang’ yang mana menghebohkan jagat Maya di Nusantara.

Kejadian ini menghenyak telinga banyak orang, karena seorang Gubernur meminta Menteri untuk mengtake-down Aplikasi Injil berbahasa Minang dalam aplikasi Play Store Android. Alasannya adalah bertolak belakang dengan budaya dan tradisi Minang.

Pada hakikatnya, tidak ada masalah jika sebuah komunitas menolak ajaran karena akan membuat gaduh masyarakat selama disampaikan dengan benar. Akan tetapi tugas seorang pemimpin yang berada di bawah konstitusi Indonesia harus bersikap netral dan tidak mengandung unsur Stereotip.

Sama halnya pola salah paham dalam bahasa dan Agama, seringkali anggapan masyarakat awam membawa konflik yang rumit hanya karena kesalah-pahaman.

Sejarah tentang penulisan kitab suci agama lain dengan berbahasa Arab atau Arab Pegon bisa dijumpai dalam Al-Kitab terjemahan H.C Klinkert, seorang Misionaris Mennonite Belanda di Jawa.

Dalam beragama, bekal utama dalam memahami Islam dan segala khazanahny adalah keilmuan yang mantap berdasarkan kajian-kajian obyektif. Jangan sampai orang Islam hanya terbawa arus kesalah-pahaman yang membawa kedangkalan berpikir.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan