Martabat Manusia dalam Islam: Keunggulan Penciptaan Manusia Dibanding Makhluk-Makhluk Lain

Martabat Manusia dalam Islam: Keunggulan Penciptaan Manusia Dibanding Makhluk-Makhluk Lain

Pecihitam.org- Martabat Manusia dalam pandangan agama Islam adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT. Penciptaan manusia, merupakan salah satu rahasia Allah, karena menciptakan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memberikan kualitas keutamaan kepada manusia sebagai pembeda dengan makhluk lain, sehingga manusia mempunyai hak untuk mendapatkan penghormatan dari makhluk-makhluk lainnya. Sesuai dengan martabat manusia dalam hal ini islam memberikan manusia tugas sebagai khalifatullah fil ardhi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah ayat 30)

Baca Juga:  Berita Hoax Ternyata Pernah Menimpa Umat Islam dan Keluarga Nabi

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Baqarah ayat 31)

Surah Al-Baqarah ayat 30-31 di atas, sering ditafsirkan sebagai dasar pandangan bahwa manusia memiliki kedudukan khusus di antara makhluk lainnya, karena manusia berpengetahuan.

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, manusia bertanggungjawab menyingkap realitas dan karena itu menemukan kebenaran. Pengetahuan manusia merupakan komunikasi dengan realitas. Pengetahuan manusia diperoleh dari kekuatan inderawi, naluri, akal, imajinatif serta petunjuk-petunjuk yang berasal dari wahyu (Zubair 1992).

Tetapi akal mendapatkan kedudukan yang istimewa, karena mengatasi tingkat kebenaran inderawi dan naluri, dan sekaligus menjangkau kebenaran wahyu. Dalam konsep Islam, akal adalah daya rohani untuk memahami kebenaran. Ia bekerja dengan menggunakan pikiran dan qalbu, yang keduanya berhubungan secara organis.

Baca Juga:  Menganal Tafsir Al-Quran Pathok Nagari dari Plosokuning, Yogyakarta

Pikiran bekerja untuk memahami dimensi fisik, sedangkan qalbu bekerja untuk memahami dimensi metafisik. Keduanya dalam pandangan tauhid merupakan kesatuan fungsional (Asytarie 1992).

Pandangan di atas memiliki kesejajaran dengan pandangan Nasr, yang menulis bahwa kata al’Aql di dalam bahasa Arab, selain berarti pikiran dan intelek juga digunakan untuk menerangkan sesuatu yang mengikat manusia dengan Tuhan. Salah satu arti dari akar kata ‘aql adalah ikatan.

Di dalam Al- Qur’an, Tuhan menyebut mereka yang ingkar sebagai orang yang tidak bisa berpikir La ya’qilun mereka yang tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik. Sangat ditekankan dalam Al-Qur’an babwa runtuhnya iman tidak disamakan dengan timbulnya kehendak yang buruk, melainkan dengan tidak adanya penggunaan akal secara baik (Nasr 1983).

Karena memiliki akallah manusia bertanggungjawab sebagai khalifah, Allah melalui Al Quran mengingatkan agar manusia senantiasa menggunakan akalnya untuk mencapai kebenaran.

Dengan kata lain’ akal, merupakan pembeda manusia dengan makhluk lain. Justru karena akalnya, manusia bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatannya.

Baca Juga:  Bolehkah Seseorang Melakukan Ibadah Namun Mengharap Surga?

Akal yang ada dalam diri manusia dipakai Allah sebagai pedoman. dalam menentukan pemberian pahala atau hukuman kepada manusia. Makhluk selain manusia, karena tidak dianugerahi akal, tidak bertanggungjawab atas keputusan-keputusan tindakannya.

Bahkan manusia yang akalnya belum atau tidak berfungsi tidak bertanggungjawab atas perbuatan dan keputusan tindakannya. Akal selain merupakan fungsi berfikir dan menemukan kebenaran, juga sebagai penentu kebebasan manusia. Istilah yang dipakai Al-Quran untuk menggambarkan perbuatan berpikir dan menemukan kebenaran, bukan hanya akal, tetapi juga istilah-istilah lain.

Mochamad Ari Irawan