Beberapa Fakta Unik tentang Kelahiran Al-Masih dalam Cerita yang Masyhur Menurut Ahli Sejarah

Beberapa Fakta Unik tentang Kelahiran Al-Masih dalam Cerita yang Masyhur Menurut Ahli Sejarah

Pecihitam.org- Terkait kelahiran Al-Masih, ada pendapat yang masyhur bahwa nabi Isa a.s lahir di Bait Lahm. Al Qur’an al karim telah menginformasikan kepada kita tentang kisah kelahiran al-masih dalam surat Maryam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun ringkasan kisah kelahiran al-masih bahwa Maryam ketika sempurna masa kehamilannya di Bait Lahm, Ketika merasa sakit untuk melahirkan maka dia berlindung di bawah pokok kurma kering. Lalu dia peluk pohon kurma itu saking sakitnya melahirkan, maka lahirlah Isa as.

Karena sakit melahirkan dan takut dikatakan orang dia melakukan perbuatan buruk dan tuduhan kaumnya maka berkatalah Maryam: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

Maka dia sungguh mengharapkan mati dari segi agama karena dia takut disangka dengan kelahiran al-masih itu telah melakukan perbuatan yang buruk dari sisi agamanya dan menjadi sebuah keburukan di tengah-tengah keluarga dan kaumnya.

Dengan lahir anaknya dan goyangnya pohon kurma yang tidak berbuah maka jatuhlah buah kurma yang masih mengkal, lalu dia makan buah kurma itu dan dia minum air sungai yang dialirkan oleh Allah untuknya pada tempat yang tidak sungai.

Itu semua adalah kemuliaan yang Allah berikan kepadanya karena imannya, kesalehannya dan ketaatannya kepada Allah ta’ala dan perlindunganNya kepada anaknya Isa sebagai hamba Allah dan rasulnya.

Ketika Isa mencapai umurnya 8 hari, ibunya membawanya ke Haikal untuk dikhitan dan menamakannya dengan nama “ Yasu’” yaitu Isa sebagaimana yang telah diperintah Jibril ketika menginformasikan berita gembira tentang akan lahirnya seorang bayi. Dan khitan itu merupakan dari sunnah para anbiya’ dan mursalin semenjak nabi Ibahim AS (Lihat Muhammad Ali al Shabuni, Al Nubuwwatu Wa Al Ambiya’ (Damascus: Darulqalam,1989)).

Baca Juga:  Tingkatan Nabi Khidir di Atas Nabi Musa? Siapakah Beliau Sebenarnya?

Allah Swt membuat Isa mampu berbicara ketika masih dalam ayunan, sehingga dia mampu membela ibunya dari tuduhan kaumnya yang menuduh Maryam telah melakukan perzinahan sehingga melahirkan anaknya di luar nikah. Isa juga menjelaskan kepada kaumnya bahwa kelak akan mengutusnya sebagai nabi dan rasulnya.

Dalam hal ini menunjukkan bahwa yang mampu membuatnya berbicara semenjak kecil kuasa juga melahirkannya tanpa ayah atau tanpa disentuh oleh manusia. Maka berkatalah Isa:

Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali“.

Mufassir mengatakan:” Isa dan Maryam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah seru sekalian alam” Dimana Maryam bisa hamil tanpa disentuh oleh seorang laki-laki pun, demikian juga Isa dapat berbicara ketika masih bayi. Isa dibesarkan di pangkuan ibunya yang jauh dari Bat Lahm, yaitu di sebuah tempat dataran tinggi (al rabwah) yang aman dan tenteram. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 50:

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ

Artinya: ”dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah Tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir”.

Baca Juga:  Meneladani Kehidupan yang Sederhana dari Sahabat Nabi yang Menjadi Gubernur

Adapun yang dimaksudkan dengan (al rabwah) adalah tempat yang tinggi, kokoh, tetap dan aman dan mengalir yang bersih dan suci. Adapun yang dimaksudkan dengan tempat yang tinggi menurut mufassir adalah ada 4 pendapat, yaitu:

  • Adapun yang dimaksud dengan al Rabwah adalah Damascus. Periwayatan ini dari Ibnu Abbas dan Hasan. Sebagaimana diriwayatkan dari ibnu Asakir dan lainnya.
  • Yang dimaksudkan dengan al Rabwah adalah Al Ramllah di Palestina.
  • Yang dimaksudkan dengannya adalah Baitul Maqdis.
  • Yang dimaksudkan dengannya adalah Mesir (lihat Abdurrahman Habannakah, Al ‘Akidah Al Islamiyyah wa Ususuha,( Damascus: Dar Al Qalam, 1988).

Pendapat ini sesuai dengan yang disebut dalam Injil Matius dan Injil Barnabas dalam kisah yang dijumpainya untuk menyelesaikan: Bahwasanya Herudus memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki di Bait al Lahm, Maka Allah perintahkan Yusuf al Najjar dalam mimpinya supaya membaya anak laki-laki dan ibunya ke Mesir.

Maka dia laksanakan sesuai dengan mimpinya itu.Dia bawa keduanya ke Mesir sampai meninggal Herudus. Manakala meninggal penguasa dhalim tersebut Yusuf melihat lagi dalam mimpi supaya kedua anak laki-laki dan ibunya dibawa pulang kembali ke negaranya. Karena yang memerintahkan pembunuhan sudah mati.

Adapun Isa a.s pada waktu itu sudah menginjak umurnya 7 tahun.Pulang keduanya ke al Yahudiyah yang diperintah oleh anak Herodus, maka mereka pergi ke Al Khalil, karena takut tinggal di al Yahudiyah.

Akhirnya mereka memilih tempat tinggal di Al Nushrah. Disitulah Isa a.s mendapat ketenangan disisi Allah Swt dan masyarakat sekitar. Dengan demikian dinisbahkan al Nashara ( Nasrani) dari tempat tinggalnya Isa as.

Ketika Isa a.s mencapai umurnya 12 tahun pergilah keduanya dan Yusuf al Najjar ke kota suci Yarussalem ( Baitul Maqdis ) untuk sujud ( beribadah ) sesuai dengan syariat yang ada dalam kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa.

Baca Juga:  Kisah Nabi Sulaiman Gelar Selamatan dan Sedekah Laut

Ketika selesai shalatnya, ibunya dan Yusuf memeriksanya di tempat shalatnya akan tetapi mereka tidak menjumpainya, merekapun kembali ke tempat tinggalnya karena mereka berdua menyangka bahwa dia sudah kembali. Ternyata disana juga tidak ada.

Pada hari yang ketiga mereka mendapati Isa a.s di haikal di tengah-tengah para ulama sedang berdebat dalam masalah Namus (malaikat Jibril). Sungguh semua orang di tempat itu merasa kagum dan terheran-heran dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya. Mereka berkata: “ Bagaimana dia memiliki ilmu ini padahal dia masih kecil belum belajar membaca”.

Adapun dalam masa selama 17 tahun tidak ada satupun ahli sejarah mencatat apa saja yang dilakukan yang dilakukan Isa a.s. Ahli sejarah hanya mencatat dari semenjak dia lahir sampai berdebat dengan para ulama bani Israil ketika umurnya 12 tahun.

Kemudian mereka mencatat kembali sejarahnya semenjak menerima wahyu dari Allah Swt pada waktu umurnya 30 tahun. Kemanakah Isa a.s selama rentang waktu itu tidak satupun menyampaikan informasi, baik dalam kitab Injil maupun dalam kitab suci Al Qur’an, hanya Allah lah yang Maha Tahu.

Mochamad Ari Irawan