Begini Konsep Belajar dalam Islam Menurut Surat al-Alaq

Begini Konsep Belajar dalam Islam Menurut Surat al-Alaq

PeciHitam.org – Pemberian karunia Allah berupa akal salah satunya ialah untuk belajar. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Pendapat yang mengatakan bahwa belajar sebagai aktivitas yang tidak didapat dari kehidupan manusia, ternyata bukan berasal dari hasil renungan manusia semata.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu belajar. Dalam al-Quran, kata al-ilm dan turunannya berulang sebanyak 780 kali. Bahkan 5 ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw merupakan perintah untuk membaca (belajar).

Hal ini bukan tanpa alasan, perintah untuk membaca secara berulang-ulang mengindikasikan pentingnya belajar. Seolah ingin mengatakan bahwa belajar merupakan salah satu upaya wajib yang harus dikerjakan manusia di muka bumi ini.

Dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, Allah mengulang-ulang perintahnya tersebut. Kata iqra’ (bacalah) diulang beberapa kali mengindikasikan bahwa belajar itu senantiasa diulang, apa yang didapatkan di masa lalu, seyogyanya dipelajari lagi demi mengingat kembali ingatan materi sebelumnya.

Perintah membaca juga tidak hanya dikhususkan pada Rasulullah saja. Namun juga untuk para umatnya. Membaca tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca segala macam fenomena dan peristiwa yang ada di alam dunia ini yang bisa diambil pelajaran hidup bagi kita semua.

Belajar tidak harus di sekolah-sekolah, lingkungan akan lebih berpengaruh pada kehidupan kita maka dari itu kita juga perlu belajar tentang dan dari lingkungan kita.

Baca Juga:  Pahami Tawassul dan Hukumnya Agar Tidak Mudah Mensyirikkan Orang Lain, Ini Penjelasannya!

Terdapat banyak ayat di dalam al-Quran dan Hadits tentang perlunya belajar dan mengajar serta perlunya mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencapai kesuksesan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Pendidikan dan pengajaran yang islami sesungguhnya didasarkan atas dua prinsip utama, yaitu: (1) Keteladanan (oleh Pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat), dan (2) Metode pengajaran yang didasarkan atas sinkronisasi iman, ilmu, dan amal.

Mengenai perintah belajar ini, Islam sebetulnya selalu menekankan pentingnya ilmu pengetahuan agar umatnya senantiasa bersungguh-sungguh dalam belajar. Bahkan dalam surat ar-Rahman, Allah berfirman bahwa diri-Nya adalah pengajar (‘Allamahu al-Bayan) bagi umat Islam.

Islam senantiasa mengingatkan pentingnya belajar, bahkan dalam wahyu yang pertama diturunkan yakni surat al-Alaq 1-5 memerintahkan kita untuk membaca dan belajar. Jika kita perhatikan, mungkin di dalam agama lain tidak ada yang menjelaskan perihal belajar di wahyu pertamanya.

Dalam surat yang sama, perintah belajar ini menggunakan qalam atau yang biasa diartikan sebagai pena. Kata qalam ini juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada orang lain. Sebab melalui coretan tinta pena tersebut, orang lain dapat membacanya.

Baca Juga:  Bahasa Arab Menurut al-Jabiri dan Perannya Terhadap Nalar Keislaman

Kata Qalam tidak semestinya dimaknai dalam pengertian yang sempit. Agar pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih variatif. Jika kita lihat di zaman sekarang, kata al-qalam juga dapat diartikan sebagai hal lain selain pena. Misalnya, laptop, smartphone, internet dan sebagainya.

Belajar tidak hanya terbatas pada ilmu agama saja. Melainkan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya juga wajib dipelajari agar tidak tertinggal oleh bangsa lain. Rasulullah pernah bersabda, “tuntutlah ilmu walau sampai negeri China.

Sabda Nabi ini jika kita pahami maknanya akan sangat dalam. Jika nabi hanya menganjurkan untuk belajar ilmu agama saja, tidak mungkin menyebutkan China yang notabenenya pada kala itu bukan negara Islam.

Mengapa menyebutkan China dalam hadis tersebut? Mungkin salah satu penyebabnya ialah dahulu China merupakan wilayah yang maju, mampu memproduksi obat-obatan, kain sutra dan sebagainya yang memang masih jarang ditemui di Jazirah Arab pada masa itu.

Dalam al-Quran sudah dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua hal, yaitu karena imannya dan karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya.

Karena itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan iman. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan iman akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.

Dalam Islam, baik Pria maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar. Dalam belajar tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Sehingga setiap orang, baik pria maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan.

Baca Juga:  3 Hal Ini Menjadi Cara Allah Memberikan Ilmu pada Manusia

Oleh sebab itu, agama menganggap bahwa belajar itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan belajar itu dianggap sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar.

Mohammad Mufid Muwaffaq