Beginilah Cara Nabi Menyampaikan Hadisnya, Layak Ditiru Para Da’i

Beginilah Cara Nabi Menyampaikan Hadisnya, Layak Ditiru Para Da’i

Pecihitam.org – Sebagaimana telah diketahui bahwa hadis terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu hadis qauli (ucapan Nabi), hadis fi’li (perbuatan Nabi) dan hadis taqriri (ketetapan Nabi). Pendapat lain menambahkannya dengan hal-ihwal, sifat dan keadaan pribadi Nabi. Jika berpacu pada pendapat ini, jelas banyak cara Nabi dalam menyampaikan hadisnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berdasarkan pembagian hadis tersebut, tentu Nabi tidak menyampaikan hadisnya dengan menggunakan satu metode saja. Melainkan banyak dan beragam metode.

Berdasarkan ini pula, kita menjadi paham bahwa koleksi hadis yang dimiliki oleh para sahabat tentu tidak sama, ada yang banyak, ada pula yang sedikit. Tergantung seberapa sering mereka melakukan aktivitas bersama dengan Nabi.

Mari kita perhatikan hadis-hadis di bawah ini dengan saksama:

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَصْبَهَانِيِّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيثِكَ فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيكَ فِيهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ قَالَ اجْتَمِعْنَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا فَاجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ…

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari Fudhail bin Husain; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Abdur Rahman bin Al Ashbahani dari Abu Shalih Dzakwan dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; Bahwasanya para wanita datang kepada Rasulullah seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah biasa mendengarkan petuah-petuahmu, maka berilah kami satu hari, sehingga kami bisa bermajlis denganmu, engkau ajarkan kepada kami dari ilmu yang telah Allah sampaikan kepadamu. Beliau bersabda: ‘Baiklah, berkumpullah kalian pada hari ini dan ini.’ Lalu mereka pun berkumpul pada hari yang telah ditentukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka ilmu yang telah Allah berikan kepada beliau. … [HR. Muslim]

Baca Juga:  Menggapai Hakikat Haji, Meraih Predikat Mahabbatullah

Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami bahwa Nabi menyampaikan hadisnya melalui perkataannya secara langsung di hadapan kaum laki-laki, pengajian rutin bersama kaum laki-laki dan pengajian kaum wanita.

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ وَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada suatu malam mengerjakan shalat di masjid, dan orang-orang pun ikut shalat dengan beliau. Kemudian besoknya Rasulullah shalat lagi dan orang-orang yang ikut pun bertambah banyak. Lalu orang-orang berkumpul pada malam yang ketiga -atau keempat- namun beliau tidak keluar kepada mereka. Pada pagi harinya beliau bersabda: “Aku telah mengetahui apa yang kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian melainkan aku khawatir hal tersebut akan diwajibkan kepada kalian.” Dan hal itu terjadi pada bulan Ramadhan. [HR. Nasa’i]

Baca Juga:  Ilmu Yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami bahwa Nabi SAW menyampaikan hadisnya melalui perkataan dan perbuatan di hadapan orang banyak.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْبَغْدَادِيُّ الْوَرَّاقُ وَأَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ كَثِيرٍ قَال سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْوُضُوءِ قَالَ أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab bin Abdul Hakim Al Bhagdadi Al Waraq dan Abu ‘Ammar Al Husain bin Huraits berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Sulaim telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Katsir berkata; saya telah mendengar ‘Ashim bin Laqhith bin Shabirah dari ayahnya berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudlu?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah wudlu, basuhlah sela-sela jarimu dan beristinsyaqlah lebih dalam kecuali jika kamu sedang berpuasa” .. [HR. Tirmizi]

Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami bahwa Rasulullah menyampaikan hadisnya melalui perkataannya kepada seorang sahabat.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ

Baca Juga:  Mekah Lockdown, Pernahkah Terjadi Sebelumnya? Baca Kisahnya Disini!

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Sa’id Abu ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ishaq bin Manshur telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Yusuf dari bapaknya dari Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Al Bara’ berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling baik akhlaqnya. Beliau tidak berbadan terlalu tinggi dan juga tidak pendek”. [HR. Bukhari]

Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami bahwa hadis tidaklah disampaikan langsung oleh Nabi melainkan sahabat yang melihat sifat tubuh Nabi.

Berdasarkan hadis-hadis di atas, Nabi menyampaikan hadisnya dengan banyak cara. Bahkan dalam riwayat lain mengenai ketetapan Nabi dalam hal kehalalan daging dhab (sejenis biawak tapi bukan) dan penyampaian hadis lewat tulisan sekretarisnya banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab. Penulis tidak menyertakannya karena terbatasnya ruang.

Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishsawaab.

Azis Arifin