Benarkah Kaum Sufi Tidak Perlu Bekerja?

sufi bekerja

Pecihitam.org – Ada beberapa persepsi yang terkadang keliru tentang sufi. Sebagian mengira bahwa kaum sufi itu identik dengan zuhud sehingga tidak perlu bekerja, cukup beribadah, berdoa dan berdzikir kepada Allah semua akan tercukupi. Ada pula yang menganggap sufi itu miskin, pakaian yang lusuh dan sering kelaparan dan ciri-ciri lain yang mengindikasikan jauh dari materi dunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini perlu diluruskan, sebab persepsi tentang sufi yang demikian adalah kurang tepat. Banyak sekali sufi yang hidupnya kaya raya, mereka bekerja mencari nafkah dengan berdagang dan lain sebagainya.

Namun memang bagi kaum sufi lebih memandang dunia laksana api, dimana mereka bekerja mencari nafkah dan memanfaatkan sebatas sesuai kebutuhan. Mereka juga tetap waspada akan percikan yang bisa saja suatu saat akan membakar hangus semuanya. Para sufi berkata:

“Apabila harta benda dikumpulkan, maka haruslah untuk memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi, dan bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan”.

Syekh Abdul Qadir al Jailani sang Sultanul auliya selalu menganjurkan para muridnya untuk selalu berusaha, jangan malu dalam bekerja mencari nafkah selama itu halal dan tidak bertentangan dengan Al-Quran maupun Hadist serta aturan-aturan negara. Kemudian agar bisa berhasil harus mencoba sampai 7 jenis usaha, beliau mengistilahkannya sebagai 7 sumber mata air.

Baca Juga:  Jika Cukup Quran dan Hadis Saja, Mengapa Allah Turunkan Nabi untuk Menjelaskannya?

Beliau berusaha mengubah persepsi keliru tentang tasawuf. Sufi tidak harus identik dengan kemiskinan, yang benar adalah bertasawuf itu mengubah orang bodoh menjadi pandai, orang miskin menjadi kaya namun hatinya tetap bisa terus berdzikir mengingat Allah Swt.

Mengutip dari KH Husein Muhammad, beliau menyampaikan, bahwa Umar bin Khatthab pernah mengatakan,

“Inna al-Sama-a La Tumthiru Dzahaban wa La Fiddhah”
(Tuhan tidak akan menurunkan emas atau perak dari langit”.

Hal ini lantaran banyak orang yang salah dalam memahami tawakkal. Sebagian bahkan hanya pasrah kepada Tuhan sepenuhnya tanpa mau bekerja atau berusaha (kasab).

Sayyidina Umar bin Khattab ingin menyampaikan bahwa sejatinya rezeki tidak bisa diperoleh hanya dengan pasrah menunggu pertolongan Tuhan semata atau mengharapkan pemberian orang lain, melainkan harus dicari dengan usaha dan bekerja.

Ibn Athaillah as-Sikandari mengatakan :

ارادتك التجريد مع ‘قامة الهy إياك فى الاسباب من الشهوة الخفية

“Keinginanmu untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada usaha (kerja) mu saat Tuhan masih menghendakimu berusaha/bekerja, adalah keinginan yang menyembunyikan hasrat”.

Para ulama besar dan kaum sufi selalu menekankan pentingnya bekerja atau memiliki pekerjaan. Bahkan mereka sendiri juga banyak yang bekerja dalam sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, menjahit, bertenun dan pekerjaan-pekerjaan yang yang sesuai dengan masanya.

Baca Juga:  Ibadah Serta Yaqin adalah Kunci Keselamatan Dunia dan Akhirat

Abu Hanifah, beliau adalah seorang dagang kain. Beliau mempunyai toko dan melayani pembeli sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abu Hanifah biasa mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa.

Abu al-Qasim al-Junaid (w. 295H) memiliki toko pemotong kaca. Sari al-Saqathi, seorang sufi besar (w.255H) adalah seorang saudagar rempah-rempah di pasar.

Abu Husain al-Nuri pernah bercerita tentang sosok al-Qursyairi (w. 465H), seorang sufi, penulis buku Tasawuf terkenal Risalah al-Qusyairiyah. Ia mengatakan

“Setiap pagi ia (al-Qursyairi) berangkat dari rumah menuju tokonya dan membeli beberapa potong roti di tengah jalan. Ia memberikan sebagian roti yang dibelinya tersebut untuk disedekahkan kepada orang yang memerlukannya.

Menjelang shalat dhuhur ia pergi ke masjid untuk menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah. Setelah itu ia kembali lagi ke tokonya. Tidak banyak orang yang tahu bahwa setiap hari ia berpuasa.

Baca Juga:  Mengenal Madzhab Tasawuf; Akhlaqi, Amali dan Sunni

Para pedagang yang lain menyangka bahwa ia telah sarapan atau makan di rumahnya. Sementara orang rumah menduga ia sudah makan di pasar. Selama dua puluh tahun ia melakukan pekerjaan seperti itu bahkan istrinya pun tidak tahu”.

Ketika Rasulullah Saw bersama sahabat-sahabatnya dalam perjalanan perang, mereka melihat seorang pemuda dengan tubuh yang kekar tengah mencangkul di sawah. Salah seorang sahabat ada yang berkata: “Andaikata saja ia kita tarik untuk ikut perang bersama kita”.

Rasulullah yang mendengar hal tersebut lalu berkata: “Jika ia bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya maka ia adalah Jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Tuhan, sama seperti kita”.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik