Berkaca dari Musibah Banjir di Masa Rasulullah Saw

banjir di masa Rasulullah

Pecihitam.org – Banjir bisa terjadi ketika hujan deras yang tak kunjung reda, bisa juga karena luapan air sungai karena sampah yang memenuhi sungai, dan juga bisa karena banjir itu kiriman dari tempat satau daerah yang lebih tinggi.

Hujan selain membawa rahmat juga bisa membawa duka lara, itupun karena ulah tangan-tanagan manusia tersendiri. Seperti yang terjadi dari awal tahun 2020 ini dimana Jakarta, Tangerang dan beberapa wilayah disekitarnya mengalami banjir yang tinggi. Banyak kendaraan terparkir terendam banjir.

Dengan kondisi banjir yang demikian, masih ada seorang yang menyalahkan ketentuan Tuhan, ada pula yang menyalahkan alamnya, padahal seseorang yang berlaku demikian. Turunnya hujan adalah sebagai rahmat bagi seluruh makhluk hidupnya Allah seperti hewan, tumbuhan dan manusia, jika hujan tidak turun kekeringan pasti melanda, panen gagal dan banyak kerugian yang akan didapat.

Musibah banjir saat ini semakin sering ditemui, tidak hanya di kota-kota bahkan yang daerah pesisir juga ada yang mengalami kebanjiran. Dan banjir bisa diibaratkan seperti rutinan tahunan.

Aisyah ra. Meriwayatkan hadits yang dibaca Rasulullah SAW. Jika turun hujan yaitu;

اللهم صيبا نافعا
“Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat”(HR. Bukhari)

Sebuah hadits menyebutkan tentang do’a untuk menghindarkan sebuah daerah dari banjir. Dari sahabat Anas bin Malik ra. Beliau menceritakan, bahwa pernah terjadi musim kering selama satu tahun dimasa Nabi SAW. Sampai akhirnya datang suatu hari jum’at, ketika Nabi saw dan para sahabat jum’atan. Anas mengatakan; Ada seseorang yang masuk masjid dari pintu tepat depan mibar pada hari jum’at.

Sementara rasulullah SAW ketika itu sedang berdiri berkhutbah. Kemudian dia menghadap kearah Nabi SAW dengan berdiri dan mengatakan, “Ya Rasulallah, ternak mati, tanah pecah tidak bisa dilewati, karena itu berdo’alah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan untuk kami.” Spontan Nabi SAW mengadahkan tangan beliau dan membaca do’a:

اللهم اسقنا, اللهم اسقنا, اللهم اسقنا,

“Ya Allah, berikanlah kami hujan…., Ya Allah, berikanlah kami hujan….Ya Allah, berikanlah kami hujan”.

Kemudian Anas melanjutkan ceritanya: Demi Allah, sebelumnya kami tidak melihat ada mendung di atas, tidak pula awan tipis, lebih sangat cerah. Tidak ada penghalang antara kami dengan bukit Sal’. Namun tiba-tiba muncul dari belakangnya awan mendung sudah persis di atas kita, turun hujan.

Setelah itu Allah memberikan hujan selama 6 hari, kemudian pada hari jum’atnya lagi, datang seseorang dari pintu yang sama, ketika Rasulullah SAW berdiri berdiri menyampaikan khutbah. Dia menghadap nabi SAW sambil berdiri. Dia mengatakan “Ya Rasulallah, banyak ternak yang mati, dan jalan terputus. Karena itu, berdo’alah kepada Allah agar Dia menahan hujan.”

Setelah itu Nabi SAW mengangkat kedua tangannya dan berdo’a:

اللهم حوالينا, ولا علينا, اللهم على الاكام والجبال والطراب وبطون الأودية ومنا بت الشجر

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit-bukit, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Tiba-tiba hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah tarik matahari. (HR. Bukharii-Muslim)

Do’a dari hadits ini bisa dibaca dalam kondisi banjir seperti yang terjadi di ibu kota. Dengan harapan, semoga Allah tidak menimpakan hujan itu sebagai adzab, namun sebagai rahmat. Hujan itu turun di tempat yang subur dan bermanfaat bagi tanaman.

Ibnu Daqiqil ketika menjelaskan hadits ini mengatakan, “Hadits ini merupakan dalil bolehnya berdo’a memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdo’a agar turun hujan, ketika lama tidak turun. Karena semuanya membahayakan.” (Ihkam Al-Ahkam)

Namun apabila do’a yang tersebut diatas terlalu panjang, anda bisa membaca bagian depan:

اللهم حوالينا, ولا علينا
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”

Do’a diatas juga dianjurkan bagii Khatib untuk membaca do’a ini ketika Shalat Jum’at sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di atas. Bisa juga dengan membaca Surat Hud ayat 44

ياأرض ابلعي ماءك ويا سما ء اقلعي وغيض الماء

“Wahai bumi! Telanlah airmu, dan wahai langit (hujan!) berhentilah! (QS. Hud:44)

Wallahua’lam bisshawab

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG