Betulkah Ayat tentang Khalifah Itu Perintah Mendirikan Khilafah?

Betulkah Ayat tentang Khalifah Itu Perintah Mendirikan Khilafah?

Pecihitam.org – Belakangan ini banyak tulisan dan argumentasi beredar dengan mengutip ayat-ayat Al Qur’an yang ada kaitannya dengan Kekhalifahan. diantaranya seperti tulisan ini:

“Siapa bilang tidak ada khilafah di dalam Al-Quran? Pasti yang bilang begitu tidak pernah baca Al-Quran. Coba buka surat Al-Baqarah ayat 30. Disitu jelas sekali ada kata khalifah.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al-Baqarah : 30)

Jadi jelas ya, bahwa mereka yang bilang bahwa di dalam Al-Quran tidak ada khalifah itu keliru sekali. Harus banyak-banyak baca Al-Quran, biar tidak keliru bikin stateman.

Tapi apa cuma satu ayat saja kah Al-Quran bicara khalifah?

Oh, tentu saja masih ada lagi kata khalifah di dalam Al-Quran. Silahkan buka surat Shaad ayat 26:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, (QS. Shad : 26)

Nah, mau lari kemana lagi? Jelas-jelas di dalam Al-Quran ada disebutkan tentang khalifah. Mengingkari satu ayat Al-Quran sama seja dengan mengingkari semuanya. Dan ingkar kepada Al-Quran berarti kafir, keluar dari agama Islam. Hati-hati ya.

Masih belum yakin? Coba buka lagi Al-Quran-nya. Sekarang Surat An-Nuur ayat 55 :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. (QS. An-Nur : 55)

Baca Juga:  Pengasong Khilafah: Kenapa NU Menerima Pancasila? Ini Jawaban KH. Ubaidillah Shodaqoh

Sudah cukup tiga ayat itu saja sebagai bukti bahwa khilafah itu jelas-jelas disebutkan di dalam Al-Quran, kitab suci yang mulia.

Jadi kalau ada orang masih ragu-ragu, silahkan dibuka lagi Al-Quran-nya. Jangan ngaku-ngaku muslim kalau tidak percaya kepada Al-Quran.”

Lalu Bagaimana Menyikapi Hal Tersebut?

Dari Kanal Facebook Ustadz Ahmad Sarwat Lc, (01/04/19) dijelaskan bahwa Tidak ada yang salah dengan semua pernyataan di atas. Benar sekali bahwa kata khalifah itu terdapat di dalam Al-Quran, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Malah bukan hanya tiga ayat di atas, masih ada lagi bentukan dari khalifah, misalnya kata khulafa’ (خلفاء), yang artinya para khalifah. Buka saja surat berikut:

  • Al-A’raf ayat 69 (وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ) dan ayat 73 (وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ ).
  • Lalu buka juga Surat An-Naml ayat 62 (أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ).

Sampai disini saya yakin sekali tidak ada seorang pun yang menolak atau mengingkari keberadaan kata khalifah atau khualfa’ di dalam Al-Quran.

Tetapi . . .

PERTAMA

Ketika Al-Quran menyebut kata khalifah di tiga ayat pertama, dan kata khulafa’ di 3 ayat berikutnya, apakah maksudnya merupakan perintah untuk mendirikan negara dengan nama resmi ‘KHILAFAH’ sepeninggal Rasulullah SAW?

Apakah tiga ayat itu merupakan pertintah kepada para shahabat untuk mengangkat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali sebagai khalifah?

Baca Juga:  KH Afifuddin Harisah: Rasulullah Membenci Chaos, Pelakunya dan Segala Bentuk Provokasi

Jujur saja, jawabnya ternyata tidak. Ayat-ayat di atas sama sekali bukan ayat yang mengandung perintah apapun. Bukan perintah untuk mendirikan negara, dan bukan pula perintah kepada 4 orang shahabat untuk jadi khalifahnya.

Kita tidak mengingkari kenyataan bahwa keempat shahabat itu merupakan khalifah atau khulafaurr-rasyidun. Tapi landasannya sama sekali bukan ayat-ayat Al-Quran di atas. Landasannya pakai dalil yang lain.

KEDUA

Apakah tiga ayat plus tiga ayat lagi merupakan perintah kepada keluarga Bani Umayah untuk mendirikan negara dengan nama resmi KHILAFAH BANI UMAYAH yang pusat pemerintahannya di Damaskus Suriah?

Jawabnya lagi-lagi tidak. Tidak ada hubungannya antara ayat-ayat di atas dengan pendirian khilafah Bani Umayah. Kita tidak memungkiri keberadaan Khilafah Bani Umayah dalam sejarah.

Namun landasan pendiriannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan ayat-ayat yang sedang kita bicarakan di atas.

KETIGA

Apakah ayat-ayat tentang khilafah di atas merupakan perintah kepada anak keturunan Bani Abasiyah untuk mendirikan negara Islam yang pusat pemerintahannya di Baghdad dengan nama resmi KHILAFAH BANI ABASIYAH?

Jujur saja, jawabannya tidak ada kaitannya. Ayat-ayat di atas tidak ada hubungannya dengan Bani Abasiyah yang berakhir tahun 1258 M di tangan tentara Mongol.

KEEMPAT

Apakah ayat-ayat di atas merupakan perintah kepada Bani Utsmaniyah untuk mendirikan negara dengan nama resmi KHILAFAH BANI UTSMANIYAH? Dengan ibu kota di Konstantinopel yang kemudian namanya diubah menjadi Istanbul?

Baca Juga:  Ketika Kita Mau Memandang "Wajah Menyeramkan" Ideologi Wahabi

Lagi-lagi kita jujur saja bahwa tidak ada satu pun kitab tafsir baik corak bil ma’tsur atau pun bir-ra’yi yang mengaitkan ayat-ayat di atas dengan perintah untuk mendirikan kilafah Turki Utsmani.

So, kalau berdirinya keempat khilafah islamiyah sepanjang sejarah itu tidak ada kaitannya dengan ayat-ayat di atas, bagaimana mungkin hari ini mau dihubung-hubungkan dengan khilafah lagi yang masih di alam imaginer itu?

Kesimpulan :

Sepanjang sejarah, ayat-ayat Al-Quran tidak pernah sepi dari klaim begitu banyak kalangan yang punya ‘kepentingan’. Ayat-ayat itu lantas dikait-kaitkan, dihubung-hubungkan, atau bahasa kasarnya, diplintir sedemikian rupa, biar seolah-olah bisa dijadikan tameng atau argumen yang bisa membenarkan kemauannya.

Korbannya yang paling depan adalah kalangan awam, yang tidak paham Al-Quran, dan tidak mengerti asbabun nuzul, munasabah, siyaq, serta ‘urf kebahasaan pada saat Al-Quran diturunkan.

Pokoknya kalau sudah mengutip ayat Al-Quran, maka seolah dia bisa melakukan apa saja tanpa dosa.

Dikutip dari Status Fb Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.,MA diedit seperlunya oleh Redaksi

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali