Berpikirlah Kembali Membeli Buku Jika Bertitel Nashiruddin Al Albani

Membeli Buku Jika Bertitel Nashiruddin Al Albani

Pecihitam.org – Dahulu umat Islam sudah sangat familiar dengan jika suatu kitab yang berisi hadits tertulis diriwayatkann oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan imam-imam muhaddits yang mu’tabar (kredibel) lainnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun, jika diperhatikan, beberapa tahun belakangan ini, banyak sekali kitab-kitab, buku, artikel, atau tulisan di internet yang memuat sebuah hadits bagian akhirnya memuat kalimat : “disahihkan oleh Syaikh Al-Albani”.

Dengan munculnya nama al-Albani yang dianggap sebagai ahli hadits abad ini, kemudian muncul istilah baru. Yang mana golongan Wahhabi Salafi mengganggap al-Albani itu kedudukannya se-derajad dengan Imam Bukhari pada zamannya.

Bahkan semua hadits bila telah dishahihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh al-Albani ini, seakan-akan sudah ‘jaminan mutu kebenarannya. Ini sangat berbahaya bagi masyarakat awam yang tidak tahu.

Sebab banyak para pakar hadits di era modern ini, seperti Syeikh Assayyid Hasan Ali Assegaf, dalam kitabnya Tanaqudhat al-albani, beliau menemukan lebih dari 1200 hadits dan catatan-catatan kontradiksi yang dikemukakan oleh al-Albani.

Selain itu masih banyak para Ulama yang ikut membantah kredibilitas al-Albani, diantaranya:

  1. Syekh Abdullah al Harari Muhaddits dataran Syam.
  2. Syekh Abdullah al Ghammari Muhaddits dataran Maroko.
  3. Muhammad bin Ahmad al Khazraji, Mantan Menteri Urusan Agama dan Wakaf Uni Emirat Arab
  4. Syekh Habiburrahman al A’zhami Muhaddits dataran India.
  5. Mantan Ketua Umum MUI Prop. DKI Jakarta K.H. M. Syafi’i Hadzami dan masih banyak lagi yang lainnya.

Namun kaum Wahabi Salafi tetap saja secara fanatik dan sangat yakin. Bahkan mereka sendiri yang katanya mengharamkan taklid kepada ulama, namun entah sadar atau tidak mereka ternyata begitu taklid buta terhadap Nashiruddin Albani hingga menjulukinya sebagai Al-Imam Al-Mujaddid Al ‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani.

Baca Juga:  Antara Jilbab dan Akhlak Adalah Dua Hal yang Berbeda

Sedangkan Al-Albani sendiri adalah seorang tukang jam yang dilahirkan di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadil Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania.

Al-Albani tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah kemudian ia meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah.

Pada masa hidupnya, al Albani memang memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits, namun ia tidak pernah berguru kepada guru dan ulama hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits. Dari sini cukup jelas bahwa sanad keilmual al Albani terputus.

Bahkan Al-Albani sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai kepadas Rasulullah SAW. Namun parahnya ia begitu berani “Mentashih dan Mentadh’ifkan” hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri, meski banyak bertentangan dengan kaidah para ulama salaf ahli hadits.

Para muhaddits salaf telah bersepakat bahwa sesungguhnya keahlian “Mentashih dan Mentadh’ifkan” suatu hadits itu, adalah tugas para hafidz, yaitu ulama yang hafal setidaknya 100.000 hadits. Jadi jika 10 saja tidak hafal bagaimana bisa menjadi muhaddits?

Adapun menurut Imam Ibnu Hajar al Asqalani, setidaknya ada tiga syarat bagi “Pentashih dan Pentadh’if” hadits yaitu

  1. Masyhur dalam menuntut ilmu hadits dan mengambil riwayat dari lisan para ulama, bukan sekedar membaca kitab-kitab hadits saja.
  2. Mengetahui dengan jelas Thabaqat generasi periwayat dan kedudukan mereka.
  3. Mengetahui Jarah dan ta’dil dari setiap periwayat, dan mengenal mana hadits yang shahih atau yang Dhaif, sehingga apa yang dia ketahui lebih banyak dari pada yang tidak diketahuinya, juga menghapal banyak matan haditsnya.
Baca Juga:  Jangan Loyo! Seorang Mukmin Sejati Harus Semangat Dalam Beramal

Bukan hanya kekeliruan dan ketidaksesuaian al-Albani dengan syarat-syarat yang telah dijadikan standar oleh para ulama salaf saja. Bahkan al-Albani berani-beraninya secara serampangan menyalahkan Imamul Muhadditsin, yaitu Imam Bukhari, hingga al-Albani berani meragukan keislaman dan keimanan Imam Bukhari.

Hal ini terlihat ketika Imam Bukhari mentakwili ayat mutasyabihat yaitu firman Allah كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَه yang artinya: “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”. Imam Bukhari berkata: ”Makna (lafadz wajah-Nya) adalah mulkuhu (kerajaan/kekuasaan Allah)”

Ternyata al-Albani menentang keras dan berkata هذا لا يقوله مسلم مؤمن yang artinya: “Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman “. Lihatlah kitab Fatawa Al-Albani, m/s 523. Dan ucapan al-Albani ini tentu saja bermakna pengkafiran terhadap Imam Bukhari. Apa tidak kurang ajar?

Contoh lain dari kesesatan al-Albani, dalam kitabnya Sifat Shalatun Nabi, hal. 143, ia mengatakan bahwa dalam Tasyahud shalat, hendaknya membaca السلام على النبي (keselamatan atas diri Nabi) sebagai ganti dari ucapan yang umum dilakukan oleh umat Islam السلام عليك أيها النبي, (semoga keselamatan atas dirimu, wahai Nabi).

Baca Juga:  Ini Siksaan di Akhirat Bagi Istri yang Durhaka Terhadap Suaminya

Sepertinya al-Albani tidak paham bahwa Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khaththab dan Sayyidina Abdullah bin Zubair telah mengajarkan ucapan Tasyahud kepada umat Islam di atas mimbar, setelah Nabi SAW wafat yaitu السلام عليك أيها النبي و رحمة الله و بركاته (semoga salam sejahtera, rahmat dan berkah Allah semoga tetap tercurahkan atas dirimu, wahai Nabi).

Saat itu, tidak ada seorang pun dari para shahabat yang mengingkari perkataan beliau bertiga itu. Namun seakan-akan al-Albani merasa lebih paham dibanding Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khaththab dan Sayyidina Abdullah bin Zubair terhadap ajaran agama, bahkan ia berani menyalahkan para shahabat tersebut.

Lantas bagaimana bisa orang yang tidak punya guru dan hanya sekedar membaca buku saja kemudian merasa lebih alim dari para ulama salaf hingga para sahabat?

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik