Cinta Tanah Air Menurut Islam dan Peran Pesantren dalam Membumikannya

Cinta Tanah Air Menurut Islam dan Peran Pesantren dalam Membumikannya

PeciHitam.org – Indonesia merupakan Negara modern yang diplokamirkan dwitunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari 3 fase sejarah, perjuangan berbasis lokalitas, perjuangan atas semangat kebangkitan Nasional, dan Perjuangan Pasca kemeredekaan/ Perjuangan mengisi kemerdekaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perjuangan tersebut tidak terlepas dari semangat  cinta tanah air yang  tumbuh dan berkembang pada diri setiap pahlawan. Kecintaan kepada tanah air tidak terlepas dari keinginan berdiri di atas kaki sendiri dan menentukan nasib bangsanya sendiri, bukan atas nama penjajahan.

Semangat Nasionalisme dan cinta tanah air dalam pandangan Islam harus dikaji dan diaplikasikan. Karena nilai ini adalah nilai kontemporer yang sering dicap sebagai thaghut oleh pengasong Khilafah.

Ketidak-pahaman terhadap nilai-nilai cinta tanah air dalam pandangan Islam sering menjadi titik tolak gagal paham tersebut.

Maka dalam memahami cinta tanah air dalam pandangan Islam diperlukan analisis komperhensif dalam memahami dalil normatif dan aqli. Berikut penjelasannya!

Cinta Tanah Air, Peran Pesantren Membumikannya

Cinta tanah air merupakan mencintai bangsa sendiri yang muncul dari perasaan warga Negara yang rela berkorban, mengabdi, memelihara persatuan dan melindungi tanah airnya dari setiap gangguan dan tantangan bangsa dan negaranya.

Dalam pengertian lain hal ini bisa dipahami sebagai kebanggaan, rasa cinta, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati, rasa setia dan kepatuhan terhadap negaranya.

Cinta tanah air meniscayakan tindakan rela berkorban untuk negaranya tanpa pamrih, imbalan harta benda. Bahkan rasa cinta tersebut menjadikan orang berkorban harta, benda serta jiwanya untuk negera.

Contoh paling lengkap kerelaan berkorban harta, benda serta jiwanya adalah para pahlawan. Para Pahlawan yang berjuang untuk mengusir penjajah dari NKRI untuk menegakkan kedaulan Negara di atas bangsanya sendiri.

Banyak sekali pejuang yang gugur ditangan para penjajah seperti, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Sultan Hasanudin, Si Singamangaraja XII, dan lain sebagainya.

Dalam konteks pembahasan isu modern, cinta tanah air dan Nasionalisme tidak akan terlepas. Karena keduanya sering disamakan dalam pengaplikasiaanya. Cinta tanah air dan Nasionalisme merupakan dua entitas pembangun Negara yang kuat dan kokoh.

Isu modern ini banyak menjadi konsumsi kaum intelektual saja, akan tetapi tidak menyentuh level akar rumput masyarakat. Peran besar dalam menanamkan dalam masyarakat kelas bawah adalah para Ulama Nusantara. Pandangan sederhana tentang cintaa tanah air dalam pandangan Islam diutarakan oleh KH Achmad Bisri Musthofa.

Baca Juga:  Mendalami Makna Dan Faedah Sabar Dalam Islam

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang tersebut sering mengungkapkan bahwa cintaa tanah air dalam pandangan Islam jika dilihat secara sederhana adalah menjaga rumah sendiri.

Jika ada orang yang memasuki rumah kita tanpa izin, maka dengan spontan kita akan melawan dan mengusirnya.

Sama kiranya dengan penjajah yang masuk ke Negara kita dan berniat mengacak-acak rumah kita, tanah air kita, pastinya kita akan mengusir mereka. Karan Negara Indonesia adalah rumah kita, tanah air kita, Negara kita, tidak akan rela untuk diacak-acak orang luar.

Pandangan sederhana dari Gus Mus, sapaan akrab KH Ahmad Musthafa Bisri, memberikan kontribusi dalam menjelaskan rasa kecintaan kepada tanah air yang mendarah daging dalam diri santri Nusantara.

Bisa dipastikan, santri Nusantara memiliki rasa kecintaan yang sangat besar kepada bangsa dan Negara Indonesia.

Santri Nusantara adalah garda terdepan dalam menjalankan amanat menjaga rasa cinta tanah tanpa pamrih. Pandangan ini tidak lain berasal dari amanat kiai sepuh dan ajaran para pendahulu untuk menjaga rumah sendiri dari para pengacau dari luar.

Dalil yang sering dinisbahkan adalah sebuah pepatah karya Hadhrat Hasyim Asyari;

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ

Artinya; Cinta tanah air termasuk iman

Dalil di atas bukanlah Hadits, namun tidak menutup kemungkinan mengandung kebenaran dibandingkan dengan Hadits. Akan tetapi jangan sampai dinisbahkan kepada Nabi SAW bahwa dalil di atas adalah Hadits, karena terlarang.

Dalil Cinta Tanah Air

Dalil cinta tanah air dalam pandangan Islam bisa disejajarkan dengan cinta jiwa dan harta. Tidak bisa dipungkiri bahwa cinta jiwa harta benda serta keluarga merupakan tabiat dan fitrah manusia, tidak dapat dipersalahkan. Allah SWT berfirman;

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا 

Artinya; Dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (Qs. An-Nisaa: 66)

Ayat ini dengan jelas menunjukan bahwa orang kafir juga memiliki rasa cinta tanah air, karena rasa cinta tanah air adalah sebuah rasa yang umum dimiliki manusia. Perbedaan cinta tanah air dalam pandangan Islam terletak pada landasannya.

Baca Juga:  Mengenal Sifat-sifat Rasulullah; dari Sifat Wajib hingga Sifat Mustahil bagi Beliau

Jika orang islam menjaga tanah air sebagai alat untuk menjaga bumi Allah supaya tidak rusak, maka dalam pandangan orang kafir adalah semata-mata untuk menjaga hartanya. Dalam Islam disebutkan jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut.

Menjaga Negara dalam bingkai cinta tanah air pernah dilakukan oleh seorang Ulama dengan mengeluarkan Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini menjadi tonggak perang 10 November yang diperingati sebagai hari Pahlawan.

Dalil tentang cinta tanah air حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ bukan-lah hadits, dan jika diklasifikasikan akan menjadi dalil Hadits Palsu/ Maudlu. Akan tetapi bukan berarti salah sama sekali, karena jika kita resapi dalil tersebut merupakan tonggak kecintaan kepada Negara.

Selama membela tanah air tidak bertentangan dengan dalil nash tentang membela Islam dan ajarannya maka diwajibkan bagi orang Islam. Karena menjaga diri dari serangan musuh merupakan salah satu unsur Maqashid Syariah.

Dalil tentang cinta tanah air dalam pandangan Islam sering dibenturkan antara kecintaannya kepada Islam. Banyak sekali pihak-pihak yang berniat diri membenturkan antara ajaran Islam dengan Nasionalisme.

Contoh paling sederhana adalah pembenturan antara Khilafah dan cinta tanah Air Indonesia. Pembenturan ini tidak lain hanya sebagai propaganda untuk menuai massa dan menghancurkan Negara damai.

Kebangsaan, Ukhuwah, dan Keislaman dalam Hubbul Wathon

Para propagandis yang sering membenturkan antara nilai nasionalisme, kebangsaan, ukhuwah dalam Islam, dan nilai keislaman tidak lain bertujuan untuk mengambil  ceruk keuntungan politis.

Karena jika Negara dalam kondisi chaos, mereka akan mendapat momentum laris ideology sebagai penawar kekacauan.

Namun sejarah dan fakta membuktikan, ideology yang ditawarkan para pengasong Islam sering hanya sebagai kedok belaka. Kiranya nilai trilogi Ukhuwah yang dikonsepsikan oleh KH Ahmad Shiddiq, mantan Rais Amm PBNU, menjadi sebuah tawaran ide yang  sangat baik.

Baca Juga:  Ulama al-Azhar Mesir: Cinta Tanah Air Termasuk Sunnah Nabi SAW

Ulama tradisional tidak memerlukan konsepsi ajaran Nasionalisme,Humanisme atau isme-isme yang lain untuk menjaga perdamaian. Ulama ini hanya membutuhkan sebuah Nilai untuk Jangan Membuat Gaduh Rumah Saya (Indonesia).

Materi yang seringkali dibawakan oleh KH Ahmad Musthofa Bisri yang merujuk kepada pemikiran Yai Shiddiq Jember.

Setiap orang Islam yang Waras akan selalu berjalan dengan nilai Ukhuwah dalam Islam dengan baik. islam tentunya tidak mengajarkan mengadakan permusuhan kepada mereka yang tidak memusuhi Islam.

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ

Artinya; Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu (Qs. Al-Mumthahanah: 8-9)

Syarat utama adanya permusuhan dalam Islam adalah ketika Orang islam terlebih dahulu disakiti atau terusir dari rumah/ negeri mereka. Jika dalam keadaan damai, tentram , Islam melarang keras adanya aksi Radikalisme, terorisme dan kekerasan.  Allah befirman;

فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya; Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim (Qs. Al-Baqarah: 193). Ash-Shawabu Minallah

Musuh Utama orang Islam masa sekarang bukan orang beda agama, bukan orang beda negara, bukan orang beda suku bangsa, bukan orang kaya, bukan orang dari suku tertentu, akan tetapi Musuh Islam adalah Orang Dzalim.

Karena orang Dzalim akan selalu menjadikan tatanan masyarakat terpecah belah dan masalah saling tumpang tindih. Maka cinta tanah air dalam pandangan Islam adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang menghendaki kedamaian. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq