Corona, Bagaimana Seharusnya Sikap Muslim? Pasrah atau Ikhtiar? Awas Salah langkah!

Corona, Bagaimana Seharusnya Sikap Muslim? Pasrah atau Ikhtiar? Awas Salah langkah!

PeciHitam.org – Sampai hari ini, kurang lebih ada 117 negara terkena imbas Corona (Covid—19) yang berasal dari Provinsi Hubei Tiongkok. Status pandemi dikeluarkan. Setidaknya tertangal 16 Maret 2020 sudah 5 orang meninggal dan 119 lainnya dalam pengawasan di Indonesia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak instansi pendidikan, perkantoran, konsetrasi/ pengumpulan masa dihentikan sampai waktu tidak ditentukan. Diseluruh dunia, beberapa negara melakukan kebijakan Isolasi diri atau lockdown antara lain Italia, Spanyol, Korea selatan dan lain sebagainya.

Berita simpang siur tentang obat yang bisa mencegah atau minimal menghambat wabah sangat banyak berseliweran, ada yang menumpang dengan membuat berita hoax atau sekedar perkiraan semata.

Lalu bagaimanakah seharusnya kaum Muslimin Indonesia bersikap dengan adanya Wabah Penyakit Corona ini? Harus Pasrah atau Ikhiar? Sebaiknya kita meniru bagaimana sikap Nabi Muhammad dalam menghadapi wabah seperti ini.

Orang islam, dalam menghadapi berbagai kejadian luar biasa dalam penyakit menular atau kematian massal (الطاعون)—thaun harus berpikir secara jernih.

Jangan sampai terjebak dalam pola pikir yang sama dengan orang tidak beriman. Umat  islam harus mendasarkan segala sesuatu adalah kehendak Allah SWT, dengan sikap husnudzan. Sejalan dengan sikap tersebut, usaha dan berdoa harus terus dipanjatkan kepada Tuhan yang Maha Penyembuh.

Baca Juga:  Corona di Indonesia Makin Meningkat, Gus Mus Ajak Masyarakat Pakai Masker

Pada kajian Teologi/ Akidah, segala kejadian termasuk wabah penyakit bisa menjatuhkan diri kita pada kekufuran. Kata-kata, wabah adalah kehendak Ilahi, maka serahkan semua pada Tuhan dengan tanpa melakukan apapun adalah berbuatan fatalis atau jabariyah.

Perbuatan ini menyandarkan segala sesuatu berlaku tanpa bisa dicegah, dibendung atau ditanggulangi secara baik. Sederhananya, kita hanya bisa menerima dengan keadaan tanpa usaha yang berarti.

Berkebalikan dengan paham Jabariyah, sikap jabariyah akan mengelurakan pandangan, wabah adalah sebuah penyakit yang bersifat material, maka kita harus bisa melawannya.

Sembuh atau meninggal adalah tergantung bagaimana kita mencari obat penangkalnya tanpa menyandarkan perbuatan tersebut pada Allah SWT adalah perbuatan Qadariyah.

Aliran ini menafikan keberadaan kekuasaan Allah SWT sebagai Dzat yang berkuasa dan sebagai pengatur. Aliran ini akan terjebak pada kesombongan akidah yang membahayakan.

Paham ini kepanjangan dari pendapat yaitu Ma’bad Al-Jauhani Al-Bisri dan Ghailan Ad-Dimasyqy seorang orator berasal dari Damaskus. Paham ini menjadikan orang terjerembab tidak adanya tawakkal pada Allah SWT.

Sebagai alternatif pandangan ketiga adalah pandangan Ahlussunah wal Jamaah, yang memandang bahwa sebuah takdir terjadinya wabah merupakan kehendak Allah SWT, dan guna menanggulanginya harus melakukan ikhtiar atau usaha.

Baca Juga:  Israel Kirim Dokter Positif Corona Untuk Obati Tahanan Palestina

Usaha tersebut sebagai sebuah perintah dan keniscyaan, akan tetapi keseluruhannya disandarkan pada Allah SWT tentang tingkat kesembuhan dan keberhasilan keluar dari sebuah wabah. Jalan alternatif ini, adalah sebuah kompromis pandangan dan kebenaran yang hakiki dalam menyikapi sebuah kejadian.

Kita tidak bisa berlepas diri dari sebuah ketentuan Allah SWT, dan tidak pula bisa sepenuhnya melakukan tindakan dalam mencari penangkal tanpa berdoa dan berserah diri pada Allah SWT. Serta tidak pula pasrah, diam dengan sikap fatalis. Sebagaimana Allah mengajarkan doa bagi orang sakit;

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاس أَذْهِبِ الْبَأسَ اِشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إلَّا شِفَائُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

Ya Allah Tuhanku Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah segala penyakit yang hinggap. Berilah kesembuhan karena Kau adalah satu-satunya Penyembuh. Tidak ada yang mampu menyembuhkan segala penyakit selain Engkau. Dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa nyeri”

Doa tersebut mengajarkan kita berserah diri kepada Allah, Dzat maha penyembuh dan sumber segala penyakit. Serta doa sebagai berikut;

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Baca Juga:  Ciri Ulama Akhirat Menurut Imam Abu Hamid al Ghazali

“Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi maha Mengetahui”

Simpulan sebagai seorang Muslim, harus bisa menyelaraskan sikap untuk berikhtiar/ bertindak sesuai ukuran dan berpasrah terhadap segala sesuatu akan akan Allah tentukan kepada kita semua.

Harapannya, dengan adanya wabah corona ini menjadikan kita ingkar kepada Allah SWT. Semoga Allah menjadikan ini sebagai peringatan dan peringan dosa-dosa kita. Ash-shawabu minallah.

 

Mohammad Mufid Muwaffaq