Tips Memilih Presiden yang Baik di 17 April 2019 Ala Buya Yahya

Buya Yahya Tips Memilih Presiden

Pecihitam.org – Pesta demokrasi bagi bangsa Indonesia akan berlangsung tak lama lagi. Rabu, 17 April 2019 mendatang, menjadi momen yang menentukan siapa pemimpin Indonesia hingga lima tahun mendatang.

Buya Yahya, sebagai ulama yang kerap menayangkan ceramahnya dalam kanal YouTube Al Bahjah TV, membahas mengenai bagaimana memilih pemimpin pada Pilpres maupun Pemilu yang akan datang.

Di depan para jemaah, Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah itu menyampaikan bahwa kita, sebagai pemilih, harus memperhatikan setidaknya lima kriteria pada calon pemimpin yang akan kita beri suara.

“Yang pertama dia baik. Baik di sini, seperti apa sih ukuran baik? Ya, baiknya tidak harus seperti Anda, deh. Anda kan banyak sholat Dhuha, Tahajud. Enggak perlu itu,” ujar Buya dalam tayangan video yang diunggah pada 18 Februari 2019 itu. Buya menjelaskan, ukuran baik yang dimaksud adalah sudah cukup apabila pemimpin tersebut tidak melakukan dosa-dosa besar, misalnya: judi, zina, dan minum arak.

Baca Juga:  Inilah 5 Kriteria Jika Ingin Menilai Suatu Hadis Shahih atau Tidak

“Sholat lima waktu tok. Enggak apa-apa. Enggak pakai sholat sunat. Lumayan. Baiknya itu kelas-kelas gitu aja deh. Secara pribadi juga dia baik,” tambah Buya.

Yang kedua, menurut Buya, kita perlu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya juga memiliki sifat baik. “Biar pun dia (pemimpin) orang baik, tapi yang mengusungnya tidak baik, maka ketahuilah dia akan terbawa pada ketidakbaikan,” kata Buya.

Ketiga, sosok yang layak menjadi pemimpin hendaknya memihak rakyat dan penuh kasih pada umat.

Akan tetapi, dari tiga kriteria tersebut, Buya sepertinya memahami bahwa masih ada kebingungan di kalangan umat, lantaran tidak mengenal secara langsung sosok calon pemimpin yang akan dipilih. Bisa saja umat terpedaya dengan berbagai pemberitaan di media maupun perkataan tim sukses yang cenderung subyektif dan sebagian tidak netral.

Untuk itu, Buya menegaskan bahwa pada poin yang keempat berikut ini, sifatnya tidak dapat ditawar. Bahkan jika dilanggar, maka seorang Muslim dapat dianggap sebagai orang munafik.

Baca Juga:  Dialog Antara Syeikh Albani Dengan Syeikh Dr.Ramadhan Al Buti

“Satu, dua, tiga, Anda masih bingung. Tinggal yang keempat dan kelima, Anda tidak boleh bingung,” kata Buya.

Poin yang keempat, yaitu dalam memilih pemimpin hendaknya tidak berdasarkan kepentingan pribadi. Misalnya, memberikan suara pada calon pemimpin itu karena ia menjanjikan sesuatu apabila berhasil menjadi pemimpin.

“Tolong keluarkan diri Anda dari kepentingan pribadi Anda. Kalau Anda memilih dia karena kepentingan pribadi, maka artinya Anda munafik,” ujar Buya.

“Maksud kami begini, hai para ustad, hai para kiai, jangan Anda pilih dia hanya karena dia menawarkan pembangunan untuk pesantren Anda. Awas jangan! Jangan pilih dia hanya karena dia menjanjikan Anda untuk umroh,” imbuhnya.

Menurut Buya, meski niat ingin umroh adalah untuk ibadah dan pembangunan pesantren demi kepentingan umum, namun tidak terlepas dari ego pribadi. “Kalau pondok itu sudah ‘pondokku’, maka di situ ada egonya,” kata Buya.

Baca Juga:  Mempelajari Sihir untuk Menolak Sihir, Bagaimana Hukumnya?

Kriteria keempat ini juga berlaku untuk siapa pun, misalnya yang memberikan hak pilih karena tergiur iming-iming jabatan tertentu, atau demi memetik manfaat pribadi. Tidak terkecuali bagi tim sukses. Terlebih jika mengetahui pihak yang ia bela sebenarnya tidak memenuhi kriteria sebagai pemimpin yang baik.

Adapun yang kelima adalah kita dianjurkan untuk banyak berdoa pada Allah SWT. Siapa pun yang menganggap kepemimpinan dalam bernegara adalah hal penting, Buya mengajak agar kita mengadu pada Allah. Karena segalanya milik Allah. Manusia tidak dapat sepenuhnya mengandalkan akal pikiran. Bangkitkan diri untuk bangun malam, dan menangis dalam sholat Tahajud, meminta agar pemimpin Indonesia adalah sosok yang baik, sholeh, dan mengenal Nabi Muhammad SAW. (ar/ob)

Ceramah Buya Yahya tentang Tips Memilih Presiden
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG