Doktrin Paham Jabariyah dan Dampaknya bagi Kehidupan

paham jabariyah

Pecihitam.org – Menurut istilah jabariyah yaitu menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semuanya kepada Allah SWT. Sehingga paham Jabariyah menganggap manusia tidak memiliki kebebasan dalam menentukan perbuatannya, dan mutlak hanya terikat pada kehendak Allah.

Benih-benih Paham Jabariyah

Dalam sejarah munculnya aliran Jabariyah, beberapa ahli berpendapat aliran ini muncul dari daerah Arab yang kehidupannya bernuansa gurun pasir yang tandus dan gersang, sehingga mereka merasa tidak mampu mengubah alam untuk disesuaikan dengan dengan kehendak mereka.

Benih-benih paham Jabariyah diduga juga telah ada semenjak Rasulullah SAW masih hidup dan berkembang semakin kompleks setelah beliau wafat, bahkan ketika pemerintahan Umar dan Ali yang meluas hingga masa kekuasaan Bani Umayyah. Manusia dalam aliran jabariyah dianggap sangatlah lemah, tidak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan.

Benih-benih itu terlihat dalam peristiwa sejarah berikut ini:

  • Suatu ketika Rasulullah SAW menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Rasulullah melarang mereka untuk berdebat persoalan takdir, supaya terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat mengenai takdir Tuhan.
  • Khalifah Umar bin Khathab pernah menangkap seorang yang ketahuan mencuri. Ketika diinterogasi, pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri.” Mendengar ucapan itu, Umar marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Kemudian, khalifah Umar memberikan dua jenis hukuman kepada si pencuri. Pertama, hukuman potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman dera karena mengggunakan dalil Takdir Tuhan.
  • Khalifah Ali bin Abi Thalib seusai Perang Siffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar (ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Orang tua itu bertanya, “Bila perjalanan (menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tak ada pahala sebagai balasannya.” Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadar bukanlah paksaan Tuhan. Terdapat pahala dan dosa atas  balasan amal dan perbuatan manusia. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, batallah pahala dan siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan, serta tidak ada celaan Allah atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang yang baik.
  • Pada pemerintahan Bani Umayyah. Pandangan tentang al-jabar semakin mencuat ke permukaan. Abdullah bin Abas, melalui suratnya, memberikan reaksi keras kepada penduduk Syiria yang diduga berpaham Jabariyah.
Baca Juga:  Sejarah Singkat Munculnya Aliran Jabariyah dan Paham Sesatnya

Doktrin Paham Jabariyah

Aliran Jabariyah ekstrim dengan tokoh utamanya Jahm bin Shafwan, doktrin pokok ajarannya adalah :

  1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak punya daya, tidak punya kehendak sendiri, serta tidak punya pilihan apapun.
  2. Surga dan neraka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah Swt.
  3. Iman adalah makrifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murji’ah.
  4. Kalam Tuhan adalah makhluk.
  5. Allah Swt tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat.
  6. Allah Swt tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.

Aliran Jabariyah moderat yang dipelopori dan di bawa oleh al-Husain Ibn Muhammad al- Najjar

  1. Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Usaha yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.
  2. Manusia tidak dipaksa dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan.
  3. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.
Baca Juga:  Paham Qadariyah dan Jabariyah; Sejarah Kemunculan dan Perbedaannya

Dalil-dalil yang digunakan paham aliran Jabariyah dalam mengukuhkan pahamnya antara lain :

  1. Q.S. Ash-Shaffat : 96, Yang artinya : “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
  2. Q.S. Al-Anfaal : 17, Yang artinya : “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
  3. Q.S. Al-Insaan : 30, Yang artinya : “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
  4. Q.S. An-Nisaa’ : 13, Yang artinya : “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”

Dampak positif aliran jabariyah yaitu dapat dimanfaatkan sebagai pembenar bagi tindakan mereka atas umat islam. Namun dampak negatinya secara ekstrim, akan menimbulkan hilangnya rasa tanggung jawab manusia atas perbuatannya, sikap pasif dalam kehidupan didunia karena terlalu pasrah dan dapat menjadikan takdir Tuhan sebagai alasan tindakan kejahatan.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Munculnya Aliran Jabariyah dan Paham Sesatnya
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *