Dauroh Adalah Bid’ah Yang Dilakukan Wahabi Setiap Hari Minggu

Dauroh Adalah Bid'ah Yang Dilakukan Wahabi Setiap Hari Minggu

Pecihitam.org – Diantara slogan salafi wahabi dalam dakwahnya adalah “Tegakkan Sunnah Jauhi Bid’ah.” Melalui slogan tersebut mereka menyalahkan komunitas muslim yang melakukan rutinitas ibadah maupun rutinitas dakwah yang dilakukan secara kontinyu pada waktu dan hari tertentu seperti yasinan dan tahlilan di malam jum’at, peringatan maulid dan semisalnya.

Padahal tanpa mereka sadari, mereka sendiri juga melakukan hal yang serupa. Salah satunya adalah dauroh mingguan yang dilaksanakan setiap hari minggu.

Daurah adalah salah satu sarana tarbiyah berupa kegiatan mengumpulkan sejumlah anggota yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian, dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dirasa penting bagi keberlangsungan amal Islami.

Telah maklum bahwa setiap hari minggu, salafi wahabi senantiasa mengadakan pengajian secara jama’ah untuk mencari ilmu dan mendengarkan hadits. Mereka melakukan hal ini secara mudawamah (terus menerus).

Bagaimana komentar Ibnu Taimiyah mengenai hal ini?

Mari kita simak penjelasan Ibnu Taimiyah salah seorang ulama rujukan salafi wahabi dalam Al-Mustadrok Ala Majmu’ Fatawi 3/134

Baca Juga:  Imam Syafii dan Al-Ghazali: Semakin Panjang Jenggot Otak Makin Pendek

والنوع الثاني ما لم يسن له الاجتماع المعتاد الدائم كالتعريف في الأمصار، والدعاء المجتمع عليه بعد الفجر والعصر، والصلاة والتطوع المطلق في جماعة، والاجتماع لسماع القرآن وتلاوته، أو سماع العلم والحديث ونحو ذلك، فهذه الأمور لا يكره الاجتماع لها مطلقا، ولم يسن مطلقا بل المداومة عليها بدعة، فيستحب أحيانا، ويباح أحيانا، وتكره المداومة عليها، وهذا هو الذي نص عليه أحمد في الاجتماع على الدعاء والقراءة والذكر ونحو ذلك.

“Bagian kedua yaitu sesuatu yg tidak disunahkan berkumpul yg dibiasakan secara terus menerus berkumpul untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an dan membacanya atau mendengarkan ilmu (pengajian), mendengarkan hadits dan yg sejenisnya. Masalah ini tidak disunahkan secara mutlak juga tidak dimakrukan secara mutlak tetapi melakukannya secara terus menerus adalah bid’ah.” (Al-Mustadrok Ala Majmu’ Fatawi 3/134)

Dengan demikian, Dauroh semacam salafi wahabi yg dilaksanakan setiap hari minggu adalah bid’ah. Sebab pelaksanaanya secara terus menerus. Begitu kata Ibnu Taimiyah. Jika setiap bid’ah adalah sesat sebagaimana pemahaman mereka, berarti mereka sendiri telah melakukan kesesatan yang tidak disadarinya.

Baca Juga:  Wahabi Enggan Dialog Dengan Pakar, Tapi Tajam Menyerang Awam

Wahai ikhwan wa Akhwat Salafi Wahabi, janganlah kalian suka menyalahkan muslim lainnya dalam masalah khilafiyah, senang menilai Amaliyah orang lain sementara tidak bisa introspeksi diri sendiri. Jangan sampai antum dikatakan sebagai orang yang sombong karena punya sifat merendahkan orang lain karena merasa diri yg paling benar dengan pendapatnya.

Sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu jamil (indah) dan menyukai suatu yg indah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91. Imam Nawawi memberi judul Bab “Haramnya sifat sombong dan penjelasannya.“)

Ingatlah pula sabda Nabi kita agar punya niat yg benar dalam belajar. Dari Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga:  Saat Ulama Salafi Wahabi Berdusta Atas Nama Imam Abu Hanifah

« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »

“Barangsiapa yg menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga di hadapan orang2 bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju pada dirinya, maka Allah akan masukkannya ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654)

Wallahu A’lam Bishshowab

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali