“Dibutuhkan Pembimbing Agama untuk Menteri Agama”

menteri agama kabinet jokowi 2019

Pecihitam.org – Setelah melihat susunan kabinet jilid II beberapa waktu yang lalu, saya agak kurang sreg dengan sebagian nama-nama yang telah dipilih oleh bapak Jokowi untuk mengisi beberapa jabatan menteri. Salah satunya adalah jabatan menteri agama yang diberikan kepada Fazhrul Razi, yang merupakan ahli strategi militer dan bukan ahli agama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Saya jadi bertanya-tanya, apa yang akan dia lakukan dalam mengisi jabatannya di kemenag? Apakah pak Razi akan mengatur strategi perang melawan radikalisme? Saya kira ini kurang tepat dan salah sasaran.

Sebab, sarang kelompok radikalis bukanlah dari kemenag, tapi justru ada di beberapa kementrian lain, seperti BUMN, Kominfo, Kemenpan, atau mungkin Kemenhan.

Kemenag seharusnya diisi oleh para santri, atau lebih tepatnya, diisi oleh para ahli agama, baik dari kalangan NU, Muhammadiyah, atau kalangan luar yang memang sudah mumpuni dan diakui bidang ilmu agamanya. Bukan dari kalangan militer yang tak ngerti soal materi keagamaan secara mendalam.

Di lain hal, saya juga agak heran mengapa di kabinet yang baru ini hampir tidak ada sosok atau tokoh yang dianggap representasi dari kalangan NU atau kalangan pesantren.

Baca Juga:  Gus Dur, Pesantren dan Gelombang Dinamisasi

Beberapa tokoh dari PKB yang juga masuk dalam kabinat, seperti Ida Fauziyah, tidak secara langsung representasi dari kalangan NU, ia lebih tepatnya dari kalangan partai. Begitu pula kehadiran Mahfud MD, yang kurang dianggap sebagai kader NU, meski ia sendiri 100% NU.

Kembali ke soal kemenag, yang agak menarik adalah menteri agama yang sejauh ini biasanya sudah bisa dipastikan akan diisi atau dipegang oleh kader NU kok malah jatuh ke tangan seorang mantan jenderal, yang menurut saya, tidak jelas wawasan keislamannya atau keilmuan agamanya.

Dari fakta ini, banyak bermunculan meme unik di kalangan Nahdliyin dengan judul “Dibutuhkan Pembimbing Agama untuk Menteri Agama”. Meme ini agaknya cukup representatif dalam menggambarkan kegelisahan warga NU di mana orang yang menjabat menteri agama justru orang yang tidak kompatibel dengan Islam.

Lalu pertanyaannya, apakah kalangan NU telah dicuekin atau diabaikan oleh Jokowi?

Padahal, kita tahu bahwa selama ini warga NU-lah yang paling aktif atau berada di garda depan dalam berjuang melawan gerakan Islamisme-radikalisme, baik melalui Kyai, santri, dakwah di medsos, dan di dunia nyata.

Baca Juga:  Menag 'Diserang' Kritikan dari DPR, Diah Pitaloka: Baru Langkah Satu Sudah Bikin Gaduh!

NU juga menjadi “bamper” yang sering memobilisasi masa untuk menghadang kaum radikalis. Lebih dari itu, NU juga sering menggelar pengajian dan istigashah besar-besaran untuk membela Jokowi.

Dari sisi ini, NU-lah yang paling mampu melawan berbagai serangan dan ancaman dari kaum radikalis, misalnya dengan melakukan ‘perang dalil’ dan ‘perang pemikiran’ melawan kelompok ideologis seperti HTI dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, mengapa harus NU yang menjadi benteng utama? Karena NU-lah yang memiliki kekuatan massa yang paling besar dan masif. Juga, hanya dari kader NU saja perang dalil dan pemikiran itu bisa dilakukan.

Kita bisa melihat selai NU, Muhammadiyah misalnya, peran mereka di ranah ini sangat sedikit, sebab kalangan Muhammadiyah hanya sedikit saja yang bisa baca kitab kuning, apalagi sampai menafsirkan Al-Qur’an.

Saya tidak merendahkan Muhammadiyah, mungkin Muhammadiyah memiliki peran dan kontribusi di jalur yang berbeda. Untuk perang ideologis, NU tampaknya lebih ahli dan berkualitas.

Harapan saya, dengan adanya kabinat baru ini, warna NU dari semua lapisan tidak lantas kecewa berat dengan pak Jokowi. Saya sendiri kurang sreg, tapi tidak sampai merasa kecewa. Toh kita juga belum tau bagaimana kinerja kabinat baru ini, terlebih dari menag. Kita tunggu saja apa konstribusinya bagi Islam Indonesia.

Baca Juga:  Soroti Celana Cingkrang ASN, Menag: Kalau Nggak Bisa Ikut Aturan Negara, Keluar!

Yang jelas, NU akan selalu berada di garis paling depan dalam mengawal NKRI. Inilah jatidiri NU yang sebenarnya. NU tidak pernah pamrih dan gila jabatan secara politik, jadi mau siapa saja menterinya, akan tetap didukung selama itu untuk kebaikan Indonesia.

Saya hanya khawatir bila banyak dari kalangan NU kecewa dengan strategi pak Jokowi ini. Dalam bentuknya yang paling tidak mengenakkan, warna NU bisa saja akan berubah dalam melawan radikalisme dan ekstremisme. Semoga tidak terjadi.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published.