Ketika Nabi Muhammad Saw Memerintahkan untuk Membunuh Ahli Ibadah

Ahli Ibadah

Pecihitam.org – Pada majelis Nabi saw di Madinah. Sahabat memuji sahabat yang lain, “Ya Rasulullah, ada orang yang ibadahnya membuat kami sungguh takjub (kagum). Para sahabat menyebutkan namanya dan gambaran dirinya. Nabi tidak mengenalnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di tengah-tengah perbincangan, orang itu muncul. Inilah dia, Ya Rasulullah! Beliau memandang orang itu sebentar, kemudian berkata, “kalian sampaikan kepadaku orang yang di mukanya aku lihat sentuhan Setan!

Orang itu datang, duduk bersama mereka tanpa mengucapkan salam. Rasulullah saw lalu bertanya. Aku minta kepadamu bersumpah dengan nama Allah. Apa benar bila kamu duduk di Majelis, kamu berkata dalam hatimu, “Ditengah-tengah orang banyak ini tidak ada orang yang lebih mulia dan lebih baik dari saya?” Dia menjawab, ‘memang begitu’.

Ia berdiri dan masuk ke dalam masjid lalu melaksanakan salat. Tiba-tiba Rasul berkata, ‘siapa yang ingin membunuh orang itu? Saya, kata Abu Bakar. Abu Bakar melihat orang itu sedang rukuk dengan sangat khusyk. Ia berkata, Subhanallah, mana mungkin aku membunuh orang yang sedang salat, padahal Rasulullah saw melarang membunuh orang-orang yang salat.

Siapa yang ingin membunuh orang itu?  Rasulullah bertanya lagi. Umar berdiri. Ia mendapati orang itu sedang meletakkan mudanya di atas tanah dengan khusuk. ‘Abu Bakar lebih baik dariku dan ia tidak membunuhnya.

Siapa yang ingin membunuh orang itu?  Saya, kata Ali. Ali berlari ke Masjid. Namun orang itu sudah keluar dari masjid. Lalu Ali pulang tanpa membunuhnya. Lalu Nabi saw berkata: ‘Jika kamu bunuh orang itu, baik sekarang maupun nanti, umatku tidak akan terpecah-belah’ [1]

Baca Juga:  Menjadi Ahli Ibadah atau Ahli Syariah, Pilih yang Mana?

Hadis ini tentu saja, tidak harus dipahami bahwa Nabi saw memerintahkan membunuh orang yang sedang salat atau yang rajin ibadah shalat, tetapi Nabi saw ingin mengajarkan kepada kita tentang bahaya orang atau kelompok yang merasa diri paling benar, paling saleh, paling alim. Sesudah itu, ia mudah mengkafirkan, menyesatkan bahkan membolehkan darah saudara-saudaranya untuk ditumpahkan karena berbeda paham pemikiran.

Menurut al-Qur’an orang takabbur itu ialah orang yang selalu merasa dirinya lebih baik, lebih mulia daripada yang lain. al-Qur’an mengabadikan ucapan Iblis ketika dia tidak mau sujud kepada Nabi Adam as atas perintah Allah. Allah swt berfirman dalam Qs. al-A’raf/7: 12:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12)

Terjemahnya: Allah swt berfirman, “Apa yang menghalangimu tidak mau sujud ketika Aku perintahkan? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Kau ciptakan aku dari api dan K auciptakan dia dari tanah.

Dengan ucapan itu, Iblis terlempar dari Rahmat Allah swt walaupun dengan ibadah ribuan tahun yang pernah ia lakukan. Seluruh amalnya terhapus seketika karena ucapan aku lebih baik dari pada dia (sombong).

Ucapan “aku lebih baik daripada dia|” lebih berat timbangannya dari ibadah ribuan tahun ia tunaikan. Menurut sejarah, Iblis makhluk yang paling ahli ibadah dan para malaikat terkagum-kagum dengan ibadahnya, bahkan tidak sejengkal yang ada di muka bumi ini kecuali Iblis pernah tempati sujud.

Kalimat ini adalah ibrah, untuk menggambarkan betapa luar biasanya ibadah Iblis, namun dengan kesombongan sesaat seluruh pahala ibadahnya tak ternilai di hadapan Allah swt.

Baca Juga:  Makna Islam Kaffah dalam Pandangan Nadirsyah Hosen dan Ibnu Asyur

Di masa Nabi Muhammad saw, ada sahabat yang melapor kepada Nabi Muhammad saw tentang tetangganya yang suka beribadah siang dan malam hari, di siang hari ia berpuasa. Di malam hari ia melakukan ibadah tahajjud, namun prilakunya buruk terhadap tetangganya. Maka Nabi saw berkata, Dia (perempuan) itu di neraka (HR. Bukhari).

Ada sahabat pada masa Nabi saw dikenal sebagai ahli ibadah, namun ketika ia meninggal, lalu dishalati dan diantarkan jenazahnya ke liang lahad, saat di masukkan di liang lahad. Nabi Muhammad saw berkata, “Kasihan sekali fulan bin fulan ia terhimpit dalam kuburnya.”

Maka sahabat yang mendengar ucapan Nabi Muhammad saw itu heran, bagaimana mungkin ia terhimpit dalam kuburnya sementara ia adalah sahabat yang ahli ibadah? Tanya sahabat kepada Nabi saw. “Karena fulan bin fulan, telah menyakiti hati keluarganya.” Kata Nabi Muhammad saw.

Hari ini kita pun menyaksikan hal yang sama sekelompok orang yang merasa diri paling alim, paling benar, paling islami begitu mudah menyalahkan saudaranya yang lain hanya karena perbedaan cara beribadah.

Sebagian orang menganggap rendah saudaranya yang lain karena secara kuantitas ibadah ia lebih rajin pergi salat berjamaah daripada saudaranya yang lain padahal tanpa ia sadari itu adalah jebakan setan. Ungkapan bijak mengatakan,

“Jika engkau melihat saudaramu melakukan kemaksiatan disiang hari, maka esok harinya jangan kau rendahkan sebab kita tidak tahu amalan apa yang ia lakukan di malam harinya.”

Imam Ali dengan penuh bijaksana berkata,

“Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu maka tanamkan dalam hatimu bahwa dia lebih banyak melakukan ibadah dari pada saya, bila melihat orang yang lebih mudah darimu maka yakinlah bahwa dia lebih sedikit melakukan dosa dari pada saya.”

Artinya, sedikitpun tidak boleh ada ruang untuk merendahkan saudara-saudara kita. Bukankah ibadah salat dimulai dengan takbir dari di akhir dengan salam. Artinya takbir bermakna membesarkan Allah dengan segala ciptaanya dan salam bermakna memberikan keselamatan kepada sesama manusia sebagai ciptaan yang sama oleh Allah swt.

Baca Juga:  Pengaruh Ilmu Shalahuddin Al Ayyubi Hingga ke Nusantara dan Seluruh Dunia Islam

Mungkin ada yang bertanya kenapa ibadah yang ribuan tahun lamanya dilakukan Iblis bisa terhapus seketika “hanya” karena sifat sombong? Kenapa Ahli ibadah diperintahkan untuk dibunuh oleh Nabi Muhammad saw? Kenapa seorang sahabat ahli ibadah tetapi suka mengganggu tetangganya, Nabi menunjukkan tempat perempuan itu, ‘Dia di Neraka?

Sebab, dalam ibadah yang dinilai bukan kuantitasnya, namun yang dinilai adalah kualitasnya. Kelak di hari kiamat yang nilai oleh Allah swt adalah amal yang shalih (amal yang baik, sehat). Kita ingin berjumpa dengan Allah swt yang dipersiapkan adalah amal yang shalih. Dan amal shalih itu berbicara pada kualitas bukan pada kuantitas. Wallahu A’lam bis Shawa.


[1] Jalaluddin Rakhmat tentang Jangan Kau Bakar Taman Surgamu.

Muhammad Tahir A.