Keunikan Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Menjelaskan Fungsi Akal dan Wahyu

Keunikan Pendapat Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Menjelaskan Fungsi Akal dan Wahyu

PeciHitam.org Sudah bukan rahasia lagi, akal dan wahyu adalah dasar untuk berargumen dalam beragama. Dalam hal ini memang terdapat banyak sekali perdebatan perihal fungsinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun pada tulisan ini hanya akan secara khusus membahas dari segi pemikiran hasbi, karena menurut penulis terdapat beberapa keunikan dalam temuan hasbi terkait fungsi akal dan wahyu. Berikut penjelasannya

Keagungan Akal

Menurut Hasbi, setelah wahyu, akal itu mendapatkan tempat khusus dalam Islam. Diingatkannya, pembahasan tentang Tuhan ini telah ada sejak zaman purba, hanya saja penjelasan-penjelasan mereka itu tidak berdasarkan alasan-alasan akal.

Bahkan, mereka kurang sekali mendasarkan kepercayaan kepada hukum dan karakter alam. Sehingga, untuk menyempurnakan segala yang masih kurang, segala yang belum sempurna, itulah Al-Qur’an didatangkan.

Al-Qur’an membawa cara dan sistem yang sesuai dengan perkembangan akal dan kemajuan ilmu. Al-Qur’an menerangkan iman dengan mengemukakan alasan-alasan yang membuktikan kesalahannya.

Al-Qur’an menghadapkan pembicaraannya kepada akal serta mem bangkitkan dari tidurnya dan membangunkan pikiran dengan meminta pulsa supaya ahli-ahli akal itu memperhati kan keadaan alam.

Bahkan, dikatakannya, Al-Qur’an memposisikan akal itu bersaudara kembar dengan iman. Dalam Al-Islam, Hasbi menulis:

 … bahwa di antara “ketetapan agama”, ada yang tidak dapat diitikadkan (diterima kebenarannya) kalau bukan karena akal menetapkannya, seperti: mengetahui (meyakini) ada-Nya Allah, qudrat-Nya, ilmu-Nya dan seperti membenarkan kera sulan seseorang rasul. [Di lain pihak-pen.), mungkin agama mendatangkan sesuatu yang belum dipahami akal. Akan tetapi, tidak mungkin agama mendatangkan yang mustahil pada akal.

Di bagian lain, Hasbi menambahkan bahwa akal itu mempunyai kemampuan memahami hakikat. Karena itu, kedatangan Al-Qur’an dengan seruannya untuk mengakui adanya Allah dan keesaan-Nya, pada hakikatnya adalah membangkitkan akal dari tidurnya. Menurutnya, Nabi telah menyabdakan bahwa “Agama itu akal, tak ada agama bagi orang yang tidak berakal“.

Baca Juga:  Keren, Inilah 5 Jenderal Perang Terhebat dalam Sejarah Islam

Di sini sangat jelas: Kita pergunakan akal untuk memikiri kebesaran Allah, ketinggian, kemahaagungan-Nya. Kita pergunakan untuk menyelidiki hikmah suruhan dan larangan. Kita merdekakan dia dari segenap kepercayaan yang berdasar waham, karenan kita yakin bahwa waham-waham itulah yang menutupi akal, menjadi pendiding antara akal dengan hakikat. Agama kita ini agama yang membersihkan akal dari kepercayaan yang bukan-bukan, ia memasukkan pengajaran tauhid dan ia membersihkan akal dari segala waham.

Di tempat lain, Hasbi menegaskan: “manusia, dengan kekuatan akalnya, mempunyai kemampuan dan ilmu yang tidak terhingga. Ia mengelola dan mengolah alam ini. Ia menjadi deposit dari perut bumi. Ia menciptakan aneka barang. Ia kuasai laut, darat dan udara. Ia dapat mengubah kondisi bumi, tanah kering dijadikan subur, tanah berbukit dan berbelukar dijadikannya datar. Ia dapat meningkatkan kualitas tumbuh-tumbuhan dan ternak. Semua itu untuk memberi manfaat yang lebih besar bagi manusia.

Dengan pernyataan-pernyataan di atas, tidak berarti Hasbi “mendewakan” akal dan mengabaikan wahyu (agama). Ia tetap mengakui adanya keterbatasan akal.

Bahkan, agama atau wahyu itu berfungsi untuk membersihkan akal dari pencemaran-pencemaran iktikad, mengenai kekuasaan gaib bagi para makhluk-Nya, supaya terhindarlah jiwa-jiwa itu dari tunduk dan memperhambakan diri kepada sesa manya.

Di samping itu, hanya agamalah yang mampu menjelaskan persoalan-persoalan akhirat, karena itu agama mutlak dibutuhkan untuk menjelaskan persoalan-persoalan tersebut.

Baca Juga:  Harkat dan Martabat Manusia Adalah Anugerah, Ini Dalil-Dalilnya

Lebih jauh dalam Tafsir An-Nur, Hasbi mengatakan:

… dalam tabiat kejadian manusia ada satu perasaan, yaitu perasaan adanya kekuatan gaib yang menguasai alam semes ta. Kepada kekuasaan inilah ia sandarkan segala apa yang tidak diketahui sebabnya. Pun ia merasakan, bahwa sesudah hidup di dunia ini ada lagi hidup kedua. Akan tetapi manusia tidak dapat mengetahui dengan akalnya, apa yang wajib bagi yang mempunyai kekuasaan mutlak itu. Lagi pula, manusia tidak dapat berpegang kepada pikirannya dalam hidup yang kedua itu. Oleh karenanya, manusia sangat memerlukan hidayah agama yang dianugerahkan dan dilimpahkan Allah kepadanya.

Akal Menjadi Pengingat Murni untuk Beragama

Mungkin timbul pertanyaan: bagaimana dengan orang orang yang belum menerima dakwah agama [Islam]? Menjawab pertanyaan ini, Hasbi mengutip dua pendapat kelompok ulama:

Kelompok pertama mengatakan bahwa orang orang yang belum menerima dakwah agama belum dibebani kewajiban menjalankan syariat. Mereka tidak diazab di akhirat nanti, karena tidak menjalankan syariat.

Kelompok kedua mengatakan bahwa mereka tetap berkewajiban menjalankan syariat (taklif), karena itu akan diazab jika tidak menjalankannya, sebab akal cukup menjadi dasar bagi kewajiban terbebasnya syariat.

Dengan mempergunakan akal, manusia wajib memperhatikan jagad raya dan bumi, bagai mana asal kejadiannya, siapa penciptanya dan apa yang wa jib kita lakukan untuk Penciptanya, walau hanya sebatas tingkat kemampuan akal dan ijtihadnya.

Jika manusia mau menggunakan akal untuk mengetahu hal-hal tersebut, maka ia akan terbebas dari azab neraka. Jika tidak, pasti ia akan menerima azab.

Baca Juga:  Masjid al Aqsa, Tempat Bersejarah Umat Islam yang Hampir Terlupakan

Dari dua pendapat di atas, Hasbi tampaknya memihak pendapat kedua. Alasannya, karena Allah sebenarnya telah memberi manusia akal dan fitrah untuk mengenal keesaan Nya. Ia mendasarkan pendapatnya pada firman Allah:

“Dan di ketika Tuhanmu mengambil dari anak-anak Adam, yakni dari punggung-punggung mereka, anak cucu mereka dan menjadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri (seraya Tuhan berkata kepada mereka): Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar, Eng kau Tuhan kami, kami saksikan yang demikian. Kami perbuat yang demikian supaya kamu jangan mengatakan pada hari kiamat bahwa Kami adalah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf (7]: 172).

Juga sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل مولود يولدُ عَلی الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه.

Artinya: Bersabda Rasulullah Saw., “Segala anak yang dilahirkan, dila hirkan atas dasar fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan atau menasranikan atau memajusikan.”

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan