Gus Dur dan Gereja; Rela ‘Kotor Bajunya’ Demi Menjaga Tauhid Manusia

Gus Dur dan Gereja; Rela 'Kotor Bajunya' Demi Menjaga Tauhid Manusia

PeciHitam.org – Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, tokoh intelektual yang selalu konsisten dalam memperjuangankan keadilan, pluralitas dan kesetaraan tanpa meninggalkan nilai Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Meskipun bagi para pembenci dan orang yang tidak memahami alur pemikirannya, beliau selalu tertuduh sebagai munafik, murtad dan sebagainya.

Selepas menjadi Presiden, secara berkala beliau sering keluar masuk gereja untuk memberikan ceramah dan khotbah. Dibelakang  sikap beliau yang kontroversial, jika mau memahami dengan kepada dingin maka tindakan Gus Dur memiliki landasan dalil Normatif yang tepat, yaitu menjaga Tauhid manusia.

Gus Dur dan Pengakuan KH Marzuqi Mustamar

Gus Dur merupakan tokoh yang  sangat sentral dalam mengembangkan nilai-nilai keadilan menghilangkan sekat-sekat agama, budaya dan ras tertentu.

Keadilan beliau tidak memandang bulu, sebagai nilai hidup yang selalu melekat dalam diri dan tindakan beliau. Pun Al-Qur’an memerintahkan keadilan sebagaimana dalam ayat;

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya; “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. al-Maidah: 8)

Selain sikap keberadilan beliau yang sangat luar biasa, beliau juga menjadi tokoh kontroversial yang sering menghadirkan pro-kontra karena tindak-tanduknya.

Baca Juga:  Kisah Gus Dur Menyelamatkan Rumah Besar Indonesia

Beliau diketahui sering diundang ke Gereja bukan dengan kapasitas sebagai Presiden atau Pejabat Negara, namun sebagai tokoh pluralitas. Disamping itu, ada nilai yang diperjuangkan Gus Dur ketika mengunjungi gereja.

KH Marzuqi Mustamar menceritakan bahwa tujuan Gus Dur ke Gereja bukan hanya bermotif untuk menyuarakan perdamaian antar agama, namun menjaga Tauhid orang Islam.

Realitas yang terjadi dimasyarakat  menunjukan bahwa bukan hanya orang Kristen yang hidup dari Gereja. Bahkan banyak orang Islam yang menggantungkan hidup di Gereja sebagai pegawai, baik pegawai kebersihan, pembangunan dan lainnya.

Sikap Gus Dur dengan jelas menunjukan pembelaan dan penjagaan Tauhid orang Islam yang  karena realitas hidup bekerja di Gereja. Jika tidak ada Muslim yang ‘Mau Kotor Bajunya’ untuk masuk ke Gereja dan menjaga Akidah/ Tauhid mereka maka Niscaya akan murtad.

Gus Dur menunjukan bahwa peran ‘Mau Kotor Bajunya’ beliau ambil guna menyelamatkan Akidah Orang Islam yang bekerja di Gereja.

Baca Juga:  Beethoven Symphony 9 dan Cita Rasa Musik Gus Dur

Dalil Normatif Sikap Gus Dur

Melihat  secara sepintas sikap Gus Dur memang tidak ada benarnya sama sekali. Bagaimana mungkin seorang Muslim masuk kedalam Rumah Ibadah Non-Muslim dan memberikan Khotbah kepada mereka.

Tuduhan keras dari golongan salafi wahabi bahkan oleh para Kiai dengan mengatakan Gus Dur sebagai orang Murtad, Fasik bahkan Kafir.

Bahwa jika tidak ada dakwah yang sampai kepada orang Muslim yang bekerja di Gereja, siapa yang bertanggung jawab untuk itu? Dan Rasulullah SAW sendiri mengingatkan untuk selalu menjaga, merawat dan memupuk keimanan. Imam Thabrani dan Imam al-Hakim meriwayatkan;

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

Artinya; “Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!” (HR. al-Hakim)

Selayaknya baju, Iman juga akan menjadi Usang jika tidak dirawat, dijaga dan diperbaharui dengan dakwah. Alasan utama Gus Dur memasuki Gereja adalah dengan tujuan memperbaharui keimanan, merawat dan menjaga mereka agar tetap Islam.

Baca Juga:  Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Hartawan dan Ahli Surga

Peran berat Gus Dur mengambil peran ‘Mau Kotor Bajunya’, memasang badannya untuk dicaci maki, dilecehkan dan tertuduh sebagai munafik, muted dan kafir tidak menjadi soal.

Karena kepentingan Gus Dur adalah untuk menjaga Tauhid, Akidah orang Islam yang hidup dan bekerja di gereja. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq