Gus Miftah; Biografi, Metode Dakwah Hingga Islamnya Deddy Corbuzier

Gus Miftah; Biografi, Metode Dakwah Hingga Islamnya Deddy Corbuzier

PeciHitam.org – Ujung jalan Malioboro Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menjadi icon Wisata, terdapat tempat “Istimewa” bagi seorang KH. Maulana Miftah Habiburrahman  atau akrab disebut Gus Miftah. Tempat Istimewa tersebut adalah lorong-lorong sempit nan pengap di kanan kiri hotel mewah dijantung wisata Yogyakarta.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lorong-lorong sempit itu adalah tempat Prostitusi berjuluk “SARKEM” (pasar Kembang) yang menurut sebagian orang adalah tempat paling kotor di Dunia. Akan tetapi tidak bagi Gus Miftah yang memandang bahwa disana adalah jalan dakwah.

Metode dakwah yang tidak umum dilakukan oleh para Dai kondang di Nusantara. Biasanya seoran Ustadz/ Dai atau Kiai akan menyukai obyek dakwah di Masjid atau tempat lainnya bukan ditempat “kotor” sebagaimana dilakukan oleh Gus Miftah.

Biografi KH. Maulana Miftah Habiburahman

Beliau merupakan putra daerah desa Adiluhur Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung, yang terlahir pada tanggal 05 Agustus 1981. Baru genap berumur 39 Tahun beliau sudah merasakan asam manis perjuangan sebagai seorang  pendakwah kepada Ilahi Rabb.

Jalan terjal pengasuh Pondok Pesantren “ORA AJI” (Tidak Berharga) Kalasan Sleman DIY dengan sering mendapat cacian, cemoohan dan bahkan kekerasan psikis dari orang yang tidak suka dengan metode dakwah beliau.

Jika kita telisik nasab beliau ternyata bersambung kepada salah satu Ulama ternama daerah Jawa Timur. Beliau merupakan keturunan ke-9 dari Kiai Ageng Hasan Besari, Ulama Kharismatik daerah Ponorogo Jawa Timur yang juga menjadi guru para pesohor Negeri.

Kiai Ageng  Hasan Besari adalah pendiri Pesantren Tegalsari atau Pesantren Gebang Tinatar jetis Ponorogo. Pesantren dengan masa eksis pada abad 18-19 Masehi, dengan ribuan santri banyak menjadi pejuang Islam dan Indonesia.

Sebut saja seperti Raja Keraton Kartasura dan Keraton Surakarta Paku Buwono II adalah santri dari pesantren Tegalsari. Murid lainnya adalah Pangeran Diponegoro, pahlawan Nasional Indonesia dan Kanjeng Raden Mas Ronggowarsito, pujangga keraton Surakarta.

Gus Miftah pada masa mudanya menempuh pelajaran Agama di Pesantren Bustanul Ulum di desa Jayasakti Lampung Tengah. Beliau pada masa mudanya juga terkenal pandai dan cerdas, dengan bukti bahwa beliau menyelesaikan Madrasah Aliyah (jenjang Sekolah Menengah Atas) dengan Nilai UN tertinggi.

Baca Juga:  Syekh Jumadil Kubro, Nenek Moyang Wali Songo di Nusantara

Bermodal uang beasiswa 1 juta rupiah, beliau nekat untuk melanjutkan Kuliah di kota lain. Beliau kemudian melanjutkan pengembaraan Ilmiahnya menuju kota Yogyakarta tepatnya masuk Kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang Universitas Islam Negeri) pada tahun 1999.

Jurusan yang  dipilih beliau adalah Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah. Dengan bekal uang cekak dan terbatas, Gus Miftah muda tidka meminta tambahan uang kepada kedua orang tuanya, beliau hanya meminta untuk dikirimi al-Fatihah setiap habis shalat oleh Ibunya.

Karena uang terbatas, maka beliau berinisiatif menjadi marbot atau Takmir masjid Baiturrahman di daerah Taman Siswa Kota Yogya. Bahkan karena sering kekurangan uang beliau bekerja serabutan menjadi tukang kebun dan tukan becak selama 6 bulan.

Beliau Lulus pada tahun 2004 dari Fakultas Tarbiyah kemudian memperistri Ning Astuti pada tahun yang sama.

Dakwah Gus Miftah di Kalangan Marjinal

Gus Miftah sering berkata kepada jamaahnya, “Orang Baik punya Masa Lalu, dan Orang Jahat punya Masa Depan”

Prinsip dan perkataan yang  menjadi motivasi sekaligus dasar untuk menyasar obyek dasar beliau. Obyek yang dimaksud adalah orang terbuang dan dianggap tidak mungkin lagi beriman.

Oleh karena hal ini beliau kemudian terkenal dengan “Dakwah Marjinal” yang pada awalnya banyak sekali pertentangan dan cacian yang didapatkan oleh Gus Miftah. Cacian yang muncul karena beliau mempunyai metode dakwah yang “aneh” dan tidak biasa dalam dunia Dai.

Berceramah dan memberi Nasihat Agama ditempat prostitusi, bar, dan karaoke maupun diskotek memberi kesan kebodohan dan kelancangan pada kesucian Islam.

Akan tetapi beliau selalu berpegang pada ayat Allah yang menjadi harapan orang Marjinal;

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”(Qs. Yusuf: 87)

Ayat di atas adalah perintah dan harapan Nabi Yaqub kepada anak-anak beliau untuk mencari Yusuf yang hilang dihutan. Kisah tentang Nabi Yusuf AS, tentang perjuangan Hidup saudara yang hampir dibunuh oleh saudaranya sendirinya.

Baca Juga:  Bid'ah Dan Ghuluw Saat Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Yusuf yang kemudian hari dikenal sebagai perdana menteri Negara Mesir adalah seorang mantan budak, tahanan.

Akan tetapi hal itu tidak membuat Yusuf putus asa dengan harapan dari Allah SWT. Karena ciri Khas orang beriman adalah mempunyai sandaran dan harapan kepada Allah SWT.

Hal tersebut juga disampaikan kepada para orang Marjinal dengan pengalaman dan pengalaman beragama yang minim. Mereka selalu didorong untuk  terus beroptimis dengan kehidupan dan takdir dari Allah SWT.

Karena Allah selalu menerima taubat orang yang mau bertaubat dan memohon ampun dengan benar-benar kepadaNya.

Ayah dari Adzkiya dan Mecca memberi motivasi bahwa Allah SWT bukan sebagai Algojo dosa Manusia, tapi sebagai dzat Rahman-Rahim sebagaimana narasi yang selalu dikedepankan Ormas NU, tempat beliau bernaung.

Beberapa santri Gus Miftah yang mesantren di Pesantren Ora Aji adalah bekas preman, wanita kupu-kupu malam dan beberapa orang tuna sosial lainnya. Orang-orang bertato juga banyak yang sowan kepada beliau untuk meminta fatwa atau pertimbangan masalah keagamaan.

Dalam acara harlah Pesantren Ora Aji juga disebutkan bahwa beliau sering melakukan munajah dengan bertahajud di kawasan Sarkem pada awal tahun 2000an.

Santri beliau pertama-tama adalah seorang “Bajingan” Sarkem yang takjub dengan cara dakwah tanpa “muni-muni” mencaci obyek dakwah yang bertato.

Bajingan tersebut dikenal dengan Gun Jack atau Gunardi. Gun terkesima dengan pendekatan dan cara dalam menyampaikan ayat-ayat Allah bagi orang dengan penuh dosa.

Awal mula dakwahnya adalah dengan membuat majlis taklim di tengah kawasan Sarkem. Penerimaan secara perlahan menjadikan jalur dakwah evolutif yang sangat mengena kepada orang-orang di Sarkem.

Ternyata keresahan para pekerja malam tersebut berkaitan dengan akses terkait kajian yang  ramah dan menyentuh mereka. Para pekerja seperti mendapat Oase ditengah kegersangan kehidupan malam.

Gus Miftah Menuntun Deddy Corbuzier Menjadi Mualaf

Berita berhentak juga datang dari seorang pesulap kondang Indonesia, yaitu Deddy Corbuzier yang mengucapkan dua Kalimat Syahadat. Dua kalimat tersebut menjadi penanda bahwa Deddy dengan resmi masuk ke Islam (Muallaf) dari Agama lamanya, Katolik.

Guru spiritual dan sekaliagus pembimbing dua Kalimat tersebut adalah Gus Miftah. Deddy dalam pengakuannya mempelajari islam sebelum masuk, dan kecocokan spiritual Deddy tertaut pada Gus Miftah karena metode dakwah beliau yang menyentuh kaum marjinal yang  sering dikesampingkan.

Baca Juga:  Zaid bin Haritsah, Satu-Satunya Sahabat yang Namanya Tercantum dalam Al-Quran

Pandangan Deddy juga mendasar pemikiran panjang tentang Islam, ternyata indah tergantung siapa yang membawanya. Pembawaan seorang penceramah yang “Garang” akan memperlihatkan islam Garang.

Dan jika wajah pendakwah lemah lembut akan mencitrakan Islam yang lemah lembut penuh welas asih. Keyakinan Deddy Corbuczier juga menjadi mantap akan berislam dengan jalur pemikiran Gus Miftah, sebagaimana disebutkan dalam Harlah Pesantren Ora Aji.

Berstatus sebagai publik figure tidak menjadikan Deddy Corbizier langsung naik panggung sebagai penceramah. Gus Miftah menekankan bahwa sebagai seorang Muallaf  tidak harus langsung naik panggung, tetapi belajar dengan seksama dulu tentang Islam.

Jangan langsung gagap naik panggung dakwah dan berfatwa dengan apa yang dia tidak ketahui, atau menjelekkan agama lain sebagaimana ramai belakangan ini.

Seorang Muallaf berceramah hanya untuk membuat list kejelakan orang lain dan agama lain. Hal ini sesuai ayat;

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan (Qs. Al-Anam: 108)

Begitulah sedikit kisah mengenai Gus Miftah, sosok Kyai Milenial yang memiliki metode dakwah yang berbeda dan lain daripada kyai yang lain. Ketika banyak orang berdakwah di Zona Nyaman, Gus Miftah memilih melakukannya di tempat tempat yang jarang kita pikirkan.

Mohammad Mufid Muwaffaq