Habluminannas dan Implementasinya di Masa New Normal

habluminannas di masa new normal

Pecihitam.org Fenomena kesalehan individu yang tidak seimbang dengan kesalehan sosial (habluminannas) dalam masyarakat membuktikan bahwa pilar agama Islam yakni lima Rukun Islam yang terdiri atas syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji tidak bisa dipahami hanya sebagai bentuk kewajiban ritual individual semata.

Rukun Islam juga mengandung arti sebagai sarana untuk membina hubungan sosial (habluminannas) antara seorang Muslim dengan orang lain, bahkan dengan makhluk lainya. Kewajiban menjalankan rukun Islam mesti memenuhi kewajiban spiritual seorang Muslim juga kewajiban sosialnya.

Melaksanakan kewajiban spiritual dan sosial akan membentuk karakter kesalehan sosial. Lima rukun Islam secara sosiologis memberikan pemahaman bahwa di dalam menjalankan kewajiban ritual agama, seorang Muslim mestinya juga memenuhi aspek lain yakni membina hubungan harmonis dengan sesama manusia.

Jika sudah begitu, maka tercipta keharmonisan hubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta (habluminallah) dan hubungan harmonis dengan manusia (hablum minannas). Dua aspek yang terpenuhi akan mewujudkan seorang insan kamil atau manusia sempurna.

Tapi, bagaimana caranya mengimplemetasikan habluminannas pada masa new normal di mana masyarakat diwajibkan berjarak satu sama lain agar meminimalisir kemungkinan tertular virus Covid-19? Pandemi ini membuat kaum Muslimin mesti menata ulang hablum minannas yang selama ini dilaksanakan.

Pesan Moral Agama Islam

Pemahaman Rukun Islam yang mengandung maksud menjadi sarana membina hubungan sosial antara seorang Muslim dengan orang lain, bahkan dengan makhluk lainya hampir sama dengan pesan moral sosial agama yang ditulis oleh Kiai Husein Muhammad dalam bukunya Spiri-tualitas Kemanusiaan (2006). Kiai Husein menuliskan bahwa ibadah sosial memiliki dimensi sosial yang lebih luas dibandingkan dengan dimensi ibadah personal.

Baca Juga:  Khilafah dalam Pandangan Habib Umar bin Hafidz

Kiai Husein menambahkan bahwa dalam teks fiqih klasik, kita bisa melihat bahwa bidang ibadah personal hanya ada satu bagian saja dari sekian banyak bidang keagamaan lain seperti muamalat atau hubungan sosial, muna-kahat atau hukum keluarga, jinayat atau pidana, qadha atau peradilan, dan imamah atau siyasah atau politik.

Menurut Kiai Husein, ini adalah bukti bahwa prinsip beragama pada dasarnya mengarahkan pandangan pada kesalehan sosial dalam arti yang luas. Contoh sederhana yang bisa kita perhatikan adalah bahwa ajaran Islam sangat menganjurkan orang melaksanakan shalat berjamaah ketimbang melaksanakan shalat sendirian.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab, shalat berjamaah bisa membangun hubungan sosial yang harmonis, terciptanya solidaritas yang kuat, empati satu sama lain dan aspek sosial lainnya. Betapa pentingnya faktor keimanan apabila dibarengi dengan amal saleh. Dalam setiap perintah agama Islam, memang ada hikmah yang bisa diambil oleh setiap Muslim.

Baca Juga:  Tantangan Umat Islam di Era New Normal

Salah satu hikmahnya yakni membangun kekuatan mental. Kekuatan mental ini tentu saja berbasis pada keimanan kepada Allah Swt yakni kesalehan spiritual. Selanjutnya, amal saleh juga bisa membentuk adanya kesadaran bahwa beragama bukan hanya diyakini saja, tapi juga harus membuahkan amal sosial yang nyata.

Pelaksanaan shalat berjamaah pada masa new normal yang sesuai dengan mematuhi protokol kesehatan adalah cara terbaik untuk tetap melaksanakan habluminannas dalam kehidupan bermasyarakat.

Pandemi Covid-19 sebenarnya membuat kita mendapatkan banyak pelajaran hidup yang bisa mengubah hidup menjadi lebih baik. Pandemi memberi kesempatan pada kita untuk belajar dan berubah, salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Sebagai misal, apabila dengan sesama tetangga dan kawan kita hanya bertemu saat shalat berjamaah di masjid, pada masa pandemi ini kita bisa mengajaknya untuk berkebun bersama di halaman rumah maaing-masing, membuat konten positif di media sosial, bahkan berdiskusi secara daring.

Pandemi Covid-19 memang membuat orang berhenti bepergian dan beribadah bersama. Tapi di sini lain, kita bisa berefleksi dan memikirkan apa yang benar-benar esensial. Kita memang tidak bisa lagi berkumpul dan makan bersama merayakan perayaan agama, tapi punya waktu banyak untuk berdialog lebih intens dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Kita dipaksa oleh semesta untuk mampu mempelajari cara hidup yang baru.

Baca Juga:  Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Kalimatul Haq Urida Bihal Bathil

Maka, Rukun Islam yang bukan saja sarana membina hubungan dengan Allah Swt., tapi juga bentuk hubungan horizontal dengan sesama manusia, atau habluminannas dan habluminallah. Jika dibedah lebih luas lagi, peran ibadah dalam Islam bisa membentuk karakter bangsa yang berbasis pada kesalehan sosial setiap individunya.

Pada masa pandemi dan new normal ini, kita bisa meningkatkan kualitas kesalehan sosial dengan memanfaatkan teknologi dan saling menjaga satu sama lain dengan mematuhi protokol yang telah ditentukan pemerintah Indonesia.

Seperti apa yang ditulis Kiai Husein bahwa ibadah sosial memiliki dimensi sosial yang lebih luas ketimbang dimensi ibadah personal, maka kita sebagai umat Islam mesti benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kualitas sebagai seorang Muslim untuk menjadi insan kamil.[]

Ayu Alfiah
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG