Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3 – Kitab Permulaan Wahyu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3 – Kitab Permulaan Wahyu ini, menjelaskan Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Bab Cara Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah. Halaman 36-45

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata, Telah menceritakan kepada kami dari [Al Laits] dari [‘Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari [‘Urwah bin Az Zubair] dari [Aisyah] -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata:

“Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.” Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”. Waroqoh berkata:

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 222-225 – Kitab Wudhu

“Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu. [Ibnu Syihab] berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin Abdurrahman] bahwa [Jabir bin Abdullah Al Anshari] bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan: “Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”.

Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh [Abdullah bin Yusuf] dan [Abu Shalih] juga oleh [Hilal bin Raddad] dari [Az Zuhri]. Dan [Yunus] berkata; dan [Ma’mar] menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az Zuhri.

Keterangan Hadis: مِنْ الْوَحْيِ (dari wahyu) Lafazh مِنْ di sini mengandung arti sebagian (tab’idh), maksudnya adalah sebagian wahyu. Turunnya wahyu dengan cara mimpi yang benar telah diriwayatkan oleh Ma’mar dan Yunus, hikmah turunnya wahyu yang diawali dengan mimpi adalah untuk latihan bagi nabi untuk menerimanya dalam keadaan sadar, kemudian ketika sadar beliau dapat melihat cahaya, mendengar suara dan batu-batu kerikil memberi salam kepadanya.

فِي النَّوْمِ (ketika tidur) Kalimat ini untuk menekankan bahwa Rasulullah menerima wahyu tidak dalam keadaan sadar.

مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ (seperti jelasnya cuaca pagi) Maksudnya, bahwa malaikat turun (membawa wahyu) bagaikan cahaya di pagi hari.

حُبِّبَ (tertarik)

Subjek dalam kalimat tersebut tidak disebutkan, karena motivasi yang mendorong (Rasulullah) untuk melakukan hal itu tidak ada, meskipun kita mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Disamping itu juga untuk memberi peringatan kepada manusia, bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan berasal dari motivasi manusia, tetapi dari ilham dan wahyu.

Lafazh  الْخَلَاءُ artinya mengosongkan hati dengan mengonsentrasikan diri terhadap apa yang akan dihadapi. Sedangkan gua hira’ adalah salah satu gua yang ada di Makkah. فَيَتَحَنَّثُ (mengasingkan diri) يَتَحَنَّثُ berarti يَتَحَنَّف  yaitu mengikuti ajaran agama Nabi Ibrahim.وَهُوَ التَّعَبُّدُ (yaitu beribadah) Kalimat ini adalah kalimat tambahan dalam hadits, yaitu penafsiran dari Az-Zuhri sebagaimana yang dikatakan Ath-Thibbi. اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ (beberapa malam) Dalam hal ini tidak disebutkan jumlah hari secara pasti, karena masih diperselisihkan. Ada yang mengatakan satu bulan, sebagaimana Ibnu lshaq, karena waktu itu adalah bulan Ramadhan.

Sedangkan lafazh يَتَزَوَّدُ artinya membawa bekal. Khadijah adalah Umul Mukminin anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Izzi. حَتَّى جَاءَهُ (hingga suatu ketika datang kepadanya al haq kebenaran atau wahyu) Atau hingga datang kepadanya perkara yang benar. Disebut dengan haq karena wahyu tersebut berasal dari Allah. Dalam riwayat Abu Aswad dari Urwah dari Aisyah disebutkan, bahwa Nabi pertama kali melihat Jibril dalam mimpi, kemudian Nabi melihat Jibril secara sadar pertama kali di Ajyad.

Ketika mendengar panggilan Jibril, “‘Ya Muhammad,” Nabi melihat ke kanan dan kiri namun tidak menemukan siapa pun, lalu ketika beliau melihat ke atas beliau melihat Jibril di langit. Kemudian Jibril berkata, “Ya Muhammad, ini Jibril,” kemudian Nabi lari menuju tempat keramaian dan beliau tidak melihat lagi. Tapi ketika keluar dari keramaian beliau melihat Jibril kembali sambil memanggilmanggil Nabi dan Nabi pun lari.

Kemudian Jibril baru menemui Nabi di Gua Hira’, sebagaimana telah diceritakan dalam kisah tersebut. Nabi melihat bahwa Jibril memiliki dua sayap yang terbuat dari Yaqut, menurut riwayat Ibnu Lahi’ah dari Abu Aswad. Telah disebutkan dalam Shahih Muslim riwayat lain dari Aisyah, Nabi berkata, “Aku belum pernah melihat Jibril dalam bentuknya yang asli kecuali hanya dua kali.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud, bahwa pertemuan Nabi dengan Jibril dalam bentuknya yang asli hanya dua kali, Pertama, ketika bertemu pertama kali, dan kedua ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Begitu juga Tirmidzi meriwayatkan dari jalur Masruq dari Aisyah, bahwa Nabi tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli kecuali dua kali. Pertama di Sidratul Muntaha, dan kedua di Ajyad.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 366 – Kitab Shalat

Dalam kitab Sirah yang ditulis oleh Sulaiman At-Taimi, diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdul ATa uari anaknya Mu’lamir bin Sulaiman dari bapaknya, bahwa Jibril datang kepada Nabi di Gua Hira. la menyuruh nabi membaca “Iqra bismirabbika..” lalu pergi dan Nabi terdiam kebingungan, kemudian Jibril menampakkan rupanya yang asli di hadapan Nabi.

فَجَاءَهُ (datang kepadanya) Huruf fa’ di sini sebagai fa’ tafsiriyah (menjelaskan), karena datangnya malaikat bukan setelah turunnya wahyu, akan tetapi malaikat datang ketika wahyu turun. مَا أَنَا بِقَارِئٍ (Aku tidak bisa membaca) Nabi mengatakan kalimat ini sebanyak tiga kali, dan ketika beliau mengucapkan yang ketiga kalinya, maka malaikat berkata, “Bacalah dengan nama Allah.” Yakni janganlah membaca dengan kemampuan dan pengetahuanmu, akan tetapi bacalah dengan pertolongan Allah, karena Dialah yang akan mengajarkan kepadamu, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu dan mengeluarkan segumpal darah tempat bersarangnya syaitan ketika kamu masih kecil. Dia juga yang mengajarkan kepada umatmu cara menulis setelah mereka hidup buta huruf, demikian kata Suhaili.

Ath-Thibi menyebutkan bahwa susunan kalimat (aku tidak bisa membaca) menunjukkan penguat (ta’kid), seakan-akan Nabi berkata, “Aku sama sekali tidak bisa membaca.” Apabila dikatakan kenapa Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali? Abu Syamah menjawab, dimungkinkan jawaban pertama (aku tidak bisa membaca) mengandung arti menolak (imtina’), adapun ucapan kedua mengandung arti ketidakmampuan, sedangkan ucapan ketiga mengandung arti pertanyaan apa yang harus dibaca. Abu Aswad dan Zuhri meriwayatkan bahwa ucapan Nabi, “Bagaimana saya harus membaca?” (kaifa aqra’), Ubaid bin Umair menyebutkannya, madza aqra’? “Apa yang harus saya baca?” dimana semua itu menunjukkan pertanyaan.

فَغَطَّنِي (dipeluknya), Seakan-akan Jibril memelukku dengan kuat. لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي (Aku benar-benar ketakutan) Karena bertemu dengan malaikat.

Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga., kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit teras menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orang-orang kafir. Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terusmenerus).

فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا (Khadijah menjawab, “Jangan takut.”) Siti Khadijah menguatkan keyakinan Nabi dengan perangai mulia yang dimilikinya, baik terhadap saudara-saudaranya atau orang lain, atau dari segi harta dan tenaga, begitu juga terhadap orang yang berbuat baik atau orang yang berbuat jahat kepadanya, semua sifat ini ada dalam diri Nabi Muhammad.

Maksud kalimat (وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ) adalah memberikan pertolongan kepada orang fakir miskin. Seakan-akan Khadijah berkata kepada beliau, “‘Orang-orang ingin menikmati dan memanfaatkan hartanya, tapi engkau ingin memanfaatkan orang yang lemah untuk engkau beri pertolongan.” Memang lafazh ‘Yaksibu’ menurut pendapat para ulama memiliki pengertian yang banyak, tapi yang kuat adalah memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa.

فَانْطَلَقَتْ بِهِ (Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi) Mereka pergi bersama Nabi ke rumah Waraqah, sepupu Khadijah.

تَنَصَّرَ (yang telah memeluk agama Nasrani) Beliau dan Zaid bin Amru bin Nufail pergi ke Syam karena benci terhadap praktek peganisme yang ada, untuk mencari agama baru, sehingga Waraqah tertarik dan masuk agama Nasrani. Waraqah bertemu para pendeta yang masih berpegang teguh kepada ajaran agama Nasrani yang benar, maka di sanalah dia mendapat kabar akan kedatangan nabi terakhir, yaitu kabar yang disembunyikan oleh para pendeta pada saat itu.

فَكَانَ يَكْتُب الْكِتَاب الْعِبْرَانِيّ فَيَكْتُب مِنْ الْإِنْجِيل بِالْعِبْرَانِيَّةِ (ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani) Yunus bin Ma’ma r dan Muslim meriwayatkan, bahwa Waraqah menulis Injil dengan bahasa Arab. Semua pendapat ini benar karena Waraqah juga mengetahui bahasa Ibrani, sehingga dia mampu menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani sebagaimana dia mampu menulisnya dengan bahasa Arab, karena dia menguasai kedua bahasa tersebut.

Dalam beberapa kitab disebutkan, Waraqah hanya menulis kitab Injil saja dan tidak menghafalnya, karena untuk menghafal Injil dan Taurat tidak semudah menghafal Al Qur’an. Kalimat يَا ابْنَ عَمِّ (Wahai anak pamanku) adalah panggilan yang benar, karena dalam kitab Muslim lafazhnya berbunyi يَا عَمّ (Wahai pamanku) dan ini masih diragukan.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 442 – Kitab Shalat

Perkataan Khadijah, اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ (dengarkan apa yang akan dikatakan oleh keponakanmu) Ada pertanyaan mengapa Khadijah menjulukinya demikian? Karena silsilah keturunannya bertemu di kakeknya yang bernama Qushai bin Kilab, dengan begitu masih ada hubungan kekeluargaan. Atau juga ucapan Khadijah itu, karena memandang usia Waraqah yang lebih tua dari Nabi Muhammad. Ucapan Khadijah tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian Waraqah agar mendengarkan benar-benar apa yang akan dikatakan oleh nabi.

هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى (Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa) Namus adalah pemegang rahasia yang baik, sedang Jasus adalah pemegang rahasia yang buruk. Maksud dari Namus di sini adalah Jibril. Perkataan “datang kepada Nabi Musa” bukan kepada Nabi Isa, adalah karena kitab Nabi Musa “Taurat” lebih banyak mencakup hukum-hukum dibandingkan dengan kitab Injil nabi Isa, sehingga sama dengan Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebab lain, karena nabi Musa menghadapi cobaan dalam berdakwah menghadapi penguasa Fir’aun, sedang Nabi Isa tidak, sebagaimana akan dihadapi oleh nabi Muhammad dalam menyampaikan dakwah, yaini Abu Jahal bin Hisyam dan bersama-sama kelompoknya di perang Badar, atau juga karena orang-orang Yahudi telah mengakui bahwa Jibril telah turun kepada nabi Musa, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Jibril turun kepada nabi Isa, karena mereka menentang kenabian Isa.

Pada kesempatan lain Waraqah juga menyebutkan “Namus Isa”, sebagaimana diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dari jalur Abdullah bin Muadz dari Zuhri. Tapi pendapat yang benar adalah ucapan pertama, yaitu “Namus Musa”, karena Abdullah bin Muadz termasuk periwayat yang lemah.

Akan tetapi dalam riwayat lain dari Abu Nu’airn dengan sanad hasan tentang riwayat ini bahwa khadijah datang kepada Waraqah dan menceritakan apa yang terjadi dengan nabi Muhammad, kemudian Waraqah berkata kepadanya, “Jika kamu mempercayaiku, maka sesungguhnya telah datang kepadanya namus Isa yang tidak diajarkan oleh Bani Israil kepada anak-anak mereka.”

Dengan demikian terkadang Waraqah mengatakan, “Namus Isa” dan terkadang mengatakan “Namus Musa”. Ketika Waraqah berbicara kepada Khadijah, ia mengatakan “Namus Isa,” karena Waraqah adalah orang Nasrani, sedang ketika berbicara dengan Nabi dia mengatakan “Namus Musa” karena apa yang akan dihadapi Nabi sama dengan yang dihadapi nabi Musa, dan kedua pendapat ini benar. Wallahu a’lam.

يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا (Duhai, semoga saya masih diberi kehidupan) Jadz’ adalah binatang kecil, seakan-akan Waraqah beranganangan jika saja waktu datangnya dakwah Islam, dia masih berusia muda, sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, maka kita dapat mengetahui rahasia dijelaskannya bahwa Waraqah adalah orang yang sudah tua dan buta pada saat itu.

إِذْ يُخْرِجُكَ (ketika kamu diusir) Ibnu Malik berkata bahwa makna lafazh i; menunjukkan masa yang akan datang seperti makna lafazh إِذْ sebagaimana firman Allah, “Peringatilah mereka akan hari kebangkitan ketika akan dilaksanakan pengadilan.” Pada saat itu Waraqah mengharapkan agar kembali menjadi muda sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, tapi hal itu sangat mustahil.

Pelajaran yang dapat diambil adalah kita boleh mempunyai angan-angan dan cita-cita yang baik. Akan tetapi menurut saya maksud Waraqah mengatakan hal itu bukan mengharapkan agar kembali menjadi muda, melainkan meyakinkan kepada Nabi akan kebenaran dakwahnya.

أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ (Apakah mereka akan mengusirku) Nabi mempertanyakan apakah mungkin mereka akan mengusirnya, karena tidak ada sebab yang menjadikan mereka malakukan perbuatan itu. apalagi kalau melihat bahwa beliau mepunyai perangai yang sangat mulia.

عُودِيَ (dimusuhi) Waraqah mengatakan hal itu, karena melihat sejarah-sejarah terdahulu dari kitab Injil dan Taurat bahwa mereka akan melakukan penyiksaan, penentangan dan permusuhan kepada para nabi. إِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمك (Apabila saya masih mendapati hari ini) Artinya apabila aku masih hidup di saat kamu diusir, maka aku pasti akan menolongmu. ثُمَّ لَمْ يَنْشَب (Tidak lama kemudian) Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia.

Berbeda dengan riwayat Ibnu Ishaq yang mengatakan, bahwa Waraqah menyaksikan ketika Bilal disiksa, hal itu berarti Waraqah masih menyaksikan dakwah Islam. Kita dapat menggabungkan kedua pendapat ini, dengan mengatakan huruf وَ pada kalimat وَفَتَرَ الْوَحْيُ bukan menunjukkan rangkaian kejadian (tartib), karena mungkin saja para perawi tidak menyebutkan kehidupan Waraqah selanjutnya berdasarkan pengetahuan mereka bukan menurut realita kejadian.

M Resky S