Haid, Nifas dan Istikhadhah, Apa dan Bagaimana Hukum-hukumnya?

Haid Nifas dan Istikhadhah, Apa dan Bagaimana Hukum-hukumnya

Pecihitam.org – Haid, nifas dan istikhadhah adalah ketetapan Allah atas para wanita yang terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Asal kajian masalah haid, nifas dan istikhadhah adalah dari Alquran dan hadis Nabi saw.:

وَيَسْئَلُوْنَكَ عَنِ المَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذى

“Mereka bertanya kepada kamu tentang haid maka katakanlah haid itu adalah penyakit”.

هذا شيئ كتبه الله على بنات آدم. رواه البحاري و مسلم

“Haid merupakan ketetapan Allah yang Allah tetapkan atas kaum hawa”.

Ketahuilah, bahwa ada tiga darah yang keluar dari kemaluan wanita, yaitu: darah haid, darah nifas dan darah istikhadhah. Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan dengan cara yang sehat, bukan karena melahirkan. Warnanya merah kehitam-hitaman. Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Sedangkan istikhadhah adalah darah yang keluar bukan pada waktu haid dan bukan pada waktu nifas.

Masing-masing dari haid, nifas dan istikhadhah itu ada masa tertentu. Mengenai batasan waktu haid dan nifas berdasarkan hasil penilitian para mujtahid pada wanita-wanita yang berhaid dan nifas bahwa masa haid paling pendek adalah 1 hari dan 1 malam, sedangkan paling lama adalah 15 hari. Namun yang biasa terjadi pada wanita adalah 6 hari atau 7 hari.

Kendatipun demikian, hasil penelitian itu beranjak atas dasar dalil juga. Adapun dalil yang menunjukkan atas demikian adalah hadis Nabi saw:

أقل الحيض يوم وليلة. رواه البخاري

“Sekuran-kurang masa haid adalah satu hari dan satu malam”.

ما زاد على خمسة عشر فهو استحاضة. رواه البخاري

Baca Juga:  Pahami Dulu Sighatnya! Begini Analisis Praktek Lelang di Pegadaian

“Darah yang keluar lebih dari masa 15 hari adalah darah istikhadhah”.

تحيضي في علم الله ستا او سبعا كما تحيض النساء ويطهرن. رواه البخاري

“Berhaidlah kamu (Hannah binti Jahsyi) dalam masa ketetapan ilmu Allah yaitu selama enam hari atau tujuh hari sebagaimana masa haid dan sucinya para wanita lain”.

Berdasarkan itu, maka masa suci wanita antara dua haid adalah menurut masa haidnya. Apabila haidnya 15 hari maka masa suci pun 15 hari. Apabila masa haid 1 hari maka masa suci adalah 29 hari. Apabila masa haid 6 hari maka masa sucinya adalah 24 hari. Apabila masa haid adalah 7 hari maka masa sucinya adalah 23 hari. Ketentuan ini pun berdasarkan penelitian para mujtahid menurut dalam kitab Tahqiq Matn al-Ghayah wa al-Taqrib fi al-Fiqh al-Syafii.

Adapun seorang perempuan itu mulai haid ada yang pada usia 9 tahun, ada yang pada usia 10 tahun, ada yang pada usia 11 tahun, ada yang pada usia 15 tahun dan ada juga yang sangat lama.  

Lalu hasil penelitian para mujtahid tentang nifas menetapkan bahwa masa nifas paling pendek adalah sejenak, sedangkan paling lama adalah 60 hari. Namun yang biasa terjadi adalah 40 hari. Hasil penelitian ini pun atas dasar hadis Ummu Salamah:

كانت النفساء تجلس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أربعين يوما. رواه أبو داود و الترمذي

Baca Juga:  Pengertian Haid dan Hukumnya Dalam Islam

“Para perempuan yang nifas pada masa Rasulullah saw. duduk 40 hari”.

Nifas tersebut terjadi setelah melahirkan. Adapun masa hamil (mengandung) para wanita sampai melahirkan, sekurang-kurangnya adalah 6 bulan, sebanyak-banyaknya adalah 4 tahun. namun yang biasa terjadi adalah 9 bulan. Ketentuan ini menjadi kuat berdasarkan ada penelitian para fukaha. Dan penelitian itu pun dilakuakan atas dasar dalil dalam Alquran surat al-Ahqaf ayat 15 dan surat Luqman ayat 14.

Hukum Wanita Sedang Haid, Nifas dan Istikhadhah

Ketika seorang wanita sedang haid atau nifas maka ia diharamkan melakukan 8 perkara:

  1. Mengerjakan shalat.
  2. Berpuasa
  3. Membaca Alquran
  4. Menyentuh mushaf Alquran dan menanggungnya
  5. Masuk dalam mesjid
  6. Melakukan thawaf
  7. Berhubungan badan dengan suami
  8. Melakukan istimta’ (bersenang-senang) dengan suami pada tempat antara pusat dan lutut.

Semua larangan bagi perempuan yang sedang haid dan nifas di atas adalah berdasarkan Alquran surat al-Waqiah ayat 79 dan al-Baqarah ayat 222, dan hadis riwayat Bukhari pada nomor 298 dan 315, hadis riwayat Muslim pada nomor 80, 335 dan 298, hadis riwayat Ibnu Majah pada nomor 596, hadis riwayat Abu Dawod pada nomor 232 dan 212.

Adapun mengenai haram masuk masjid bagi wanita haid dan nifas adalah apabila ia khawatir kotor masjid. Adapun apabila pada zaman sekarang merupaka zaman canggih, jika kekhawatiran itu tidak ada maka tidak haram, tetapi hanya makruh saja menurut Syeikh al-Bajuri dalam kitabnya Khasyiyah al-Bajuri, hal. 173 cetakan Bairut.

Larangan-larangan bagi wanita yang haid dan nifas tersebut adalah sama juga dengan larangan-larangan bagi orang yang berjunub (berhadas besar), hanya saja orang yang berhadas besar dibolehkan berpuasa, berhubungan badan dan istimta’. Maka larangan bagi orang yang berjunub adalah ada lima perkara:

  1. Mengerjakan salat
  2. Membaca Alquran
  3. Menyentuh mushhaf Alquran dan menanggungnya
  4. Mengerjakan thawaf
  5. Menetap dalam mesjid
Baca Juga:  Masa Haid Seorang Wanita dan Waktu Diharuskannya Mandi Wajib

Larangan-larangan bagi orang yang berjunub tersebut adalah berdasarkan Alquran surat al-Nisa’ ayat 43 dan hadis riwayat Muslim pada nomor 224.

Adapun hukum bagi wanita yang melanda istikhadhah adalah disamakan dengan hukum orang yang berhadas. Sedangkan larangan-larangan bagi orang yang berhadas ada tiga perkara:

  1. Menegerjakan salat
  2. Mengerjakan thawaf
  3. Menyentuh dan membawa mushaf Alquran.

Semua larangan bagi orang yang berhadas itu adalah berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari pada nomor 6554 dan Muslim pada nomor 225.

Perlu diketahui bahwa apabila Alquran di dalam koper pakaian atau dalam peti besar yang terletak bersama barang-barang lain, maka menanggungnya bagi orang yang sedang haid, nifas, junub dan berhadas adalah tidak haram. Ketika itu boleh dibawa kalau mereka niatkan membawa barang, bukan membawa Alquran, menurut KH. Sirajuddin Abbas dalam buku Fiqh Ringkas Ahlussunnah wal Jamaah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.