Hukum Ghibah dan Buruk Sangka Dalam Hati

Hukum Ghibah dan Buruk Sangka Dalam Hati

PeciHitam.org – Ghibah dan buruk sangka bisa diucapkan secara lisan, tetapi bisa juga disimpan di dalam hati. Kita bisa saja menggunjing atau bahasa jawanya “ngerasani“ orang lain di dalam hati. Kita bercakap-cakap dengan diri kita senfiri perihal kekurangan orang lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ghibah dan buruk sangka ini jelas dilarang seperti tertera dalam keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

اعلم أن سوء الظن حرام مثل القول، فكما يحرم أن تحدث غيرك بمساوئ إنسان، يحرم أن تحدث نفسك بذلك وتسئ الظن به، قال الله تعالى: (اجتنبوا كثيرا من الظن) [الحجرات: 2]. وروينا في صحيحي البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث والأحاديث بمعنى ما ذكرته كثيرة، والمراد بذلك عقد القلب وحكمه على غيرك بالسوء

Artinya, “Ketahuilah, buruk sangka haram sebagaimana perkataan. Sebagaimana keharaman perkataanmu kepada orang lain terkait kekurangan seseorang, maka kau juga haram mengatakan kekurangan orang lain kepada dirimu sendiri dan buruk sangka terhadapnya. Allah berfirman, ‘Jauhilah banyak sangka.’ (Al-Hujurat ayat 2). Kami diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Jauhilah sangka karena sangkaan adalah perkataan paling dusta.’ Hadits yang maknanya serupa dengan ini cukup banyak. Yang dimaksud dengan sangkaan adalah pembenaran dan keputusan oleh hati atas keburukan orang lain,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 295).

Baca Juga:  Hukum Ghibah dalam Islam yang Dilarang dan yang Diperbolehkan

Sementara angan-angan yang terlintas di benak kita terkait kekurangan orang lain tidak bisa ditolak. Ketidak berdayaan kita mengontrol angan-angan itu menjadi sebab atas ampunan Allah SWT.

Angan-angan buruk yang terlintas di benak kita harus segera dilenyapkan dengan cara mendustakannya atau menyangkalnya. Contoh; di jalan kita melihat orang yang berpakaian nyeleneh atau nyentrik. Kemudian kita berburuk sangka kecil dengan bergumam “itu orang cari perhatian banget sih.”. nah cara menyangkalnya dengan berpikiran bahwa mungkin memang itu style kesukaannya dan bentuk idealismenya.

Sementara itu, dalam riwayat lain dijelaskan bahwa sanya ghibah dan buruk sangka dalam hati termaafkan oleh allah, begini bunyi riwayatnya:

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء، لانه لا اختيار له في وقوعه، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه وهذا هو المراد بما ثبت في الصحيح عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: إن الله تجاوز لامتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم به أو تعمل.

Baca Juga:  Inilah Unsur-Unsur yang Mempengaruhi Hukum Pacaran Jarak Jauh dalam Islam

Artinya, “Adapun angan-angan yang lewat di benak seseorang dan bisikan di dalam hati bila tidak tetap atau tidak ditetapkan oleh yang bersangkutan maka itu dimaaf berdasarkan kesepakatan ulama. Pasalnya, lalu lalang angan-angan (khawatir) itu bukan pilihan kita. Tiada jalan untuk melepaskan diri. Ini yang dimaksud dalam sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, Allah memaafkan umatku atas ucapan yang terbersit di dalam dirinya selagi tidak diutarakan atau diamalkan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).

Pendapat diatas dijelaskan Imam Nawawi dalam kitabnya, dan bisa dicerna dengan mudah bahwasanya angan angan tentang keburukan seseorang tidak bisa kita cegah. Selama hal itu tidak dikeluarkan melalui lisan, tentu saja hal itu tidak bisa disalahkan.

Baca Juga:  Apakah Air Ketuban Najis? Ayah dan Bunda Wajib Tahu!

Ulama menjelaskan bahwa angan-angan di dalam batin tidak selalu ghibah atau gunjingan atas kekurangan orang lain. angan-angan itu dapat berupa kemaksiatan apa saja yang terlintas dan terbersit di benak kita. Semua “pikiran” negatif itu mesti segera dilenyapkan dan diganti dengan pikiran positif. Wallahu a‘lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.