Ibadah Serta Yaqin adalah Kunci Keselamatan Dunia dan Akhirat

Ibadah Serta Yaqin adalah Kunci Keselamatan Dunia dan Akhirat

Pecihitam.org – Ketahuilah, bahwa agama Islam tiangnya adalah ibadah serta yakin kepada Allah SWT. Yakin adalah tempatnya dalam hati, dan keyakinan itu adalah disaksikan dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diperintah Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh Allah, adalah tidak terlepas dari pada dua sisi, di mana pada satu sisi merupakan pengabdian kita kepada Allah, apakah hati kita mengakui adanya Yang Maha Kuasa lagi Yang Maha Esa itu, yakni Allah SWT.

Apabila kita telah meyakini-Nya dan telah mengakui-Nya berdasarkan “dalil-dalil akal (aqliah)” dan “dalil-dalil naqal (naqliah)”, yakni perintah-perintah yang harus dikerjakan dan larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Semuanya telah terkandunng dalam kitab suci-Nya, yakni kitab suci Al-Qur’anul Karim.

Saksi atas keyakinan dan keimanan itu adalah perbuatan-perbuatan kita yang induknya telah disebutkan dalam rukun-rukun Islam. Perbuatan-perbuatan kita itulah sebagai dalil nyata, bahwa kita telah beriman dan betul-betul yakin kepada-Nya.

Sembahyang yang kita lakukan lima kali sehari semalam, puasa yang diperintahkan oleh-Nya dalam bulan suci Ramadhan, zakat yang kita keluarkan khususnya untuk fakir miskin, dan ziarah ke Baitullah dalam melakukan ibadah Haji yang merupakan suatu ziarah kepada-Nya sebagai syariat daripada nabi dan rasul khususnya abul anbiya Ibrahim a.s., sedangkan mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan perbuatan lidah sebagai kesaksian atas keyakinan dan keimanan itu. 

Apa saja yang kita lakukan di dunia ini, asal tidak menyimpang dari ridha Allah SWT adalah diperbolehkan bahkan ada yang wajib, dan ada yang sunat, juga ada yang mubah, boleh dikerjakan dan ditinggalkan dan kadang kala yang mubah itu bisa naik kepada nilai wajib atau nilai sunat sejalan dengan niat untuk itu, maka adalah perbuatan lahiriah ditentukan oleh niat kita kepada Allah, artinya karena mengharapkan ridha-Nya dan kasih sayang-Nya.

Baca Juga:  Tasawuf serta Hubungannya dengan Disiplin Ilmu Filsafat dan Psikologi

Manusia tidak terlepas dari nafsu, dan nafsu manusia ada yang baik dan ada yang tidak baik. Apabila nafsu manusia itu baik, akan tetapi manusia tidak luput dari pada godaan syaitan, di mana syaitan sangat berusaha supaya manusia itu lupa kepada Allah SWT, supaya manusia itu lalai dengan dunia yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Allah SWT telah menggambarkan hal keadaan ini. Dan ini banyak terjadi oleh karena kelalaian manusia. Hal keadaan ini telah diungkapkan oleh Allah dalam Surat At-Takaatsur. Delapan ayatnya adalah menggambarkan hal keadaan tadi dan menggambarkan akibat yang akan dipertanggungjawabkan oleh manusia di hari kiamat kepada Allah SWT.

Berikut ayat-ayat dan terjemahannya:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Artinya :

  1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu
  2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
  3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
  4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
  5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
  6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
  7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.
  8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Bermegah-megahan dengan banyak harta, bahkan banyak anak atau keturunan, apalagi dengan banyak isteri, bermegah-megahan dengan kekayaan, bermegah-megahan dengan kekuasaan, bermegah-megahan dengan banyak pengikut, bermegah-megahan dengan dengan kemuliaan dan kehormatan, dan lain-lain; inilah yang telah melalaikan manusia itu dari ketaatan.

Baca Juga:  Kisah Para Sufi Perempuan dalam Kancah Dunia Tasawuf

Semuanya itu akan sirna apabila manusia telah berada di ambang pintu kubur, barulah manusia itu mulai mengetahui akibat perbuatannya, bahkan akan diketahui selanjutnya sejak mulai masuk kubur sampai berada pada persimpangan jalan, apakah ia akan masuk surga ataukah ia akan masuk neraka.

Ini semua adalah hal yang pasti. Di dunia ini kita wajib meyakininya, dan apabila kita yakin sedemikian rupa, lantas diikuti dengan ibadah dan taat kepada Allah, selamatlah kita. Ibadah serta yakin, itu kuncinya.

Keyakinan yang demikian disebutkan dengan Ilmul Yaqin. Dan apabila semuanya itu telah disaksikan oleh penglihatan mata kepala, maka itu disebutkan dengan ‘Ainul Yaqin, dan setelah kita rasakan baik atau tidak baik kenyataan yang terjadi mulai dari alam kubur hingga seterusnya, maka itu disebutkan dengan Haqqul Yaqin. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah dalam Surat Al Waqi’ah ayat 92 – 96 :

Baca Juga:  Mengekang Nafsu Menurut Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani

Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, Maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, Dan dibakar di dalam jahannam. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu “keyakinan yang benar (haqqul yakin)”. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.”

Kita semua dari sekarang, apakah kita meyakininya apa tidak, kalau kita tidak yakin maka kita menjadi manusia yang sesat, yang akan mendapat hidangan air yang mendidih, akan dibakar di dalam neraka, dan itu semua merupakan suatu kenyataan. Maka yakinlah, itu adalah ungkapan Allah yang harus kita yakini dan kita imani.

Apabila kita yakini dan kita imani, maka tunduklah kepada Allah, kerjakan shalat, bertasbihlah terhadap-Nya, perintah-perintah-Nya jangan ditinggalkan, larangan-larangan-Nya jangan dikerjakan, dan betul-betullah karena Allah dan jangan menjadi orang-orang yang munafik.

Allah sangat marah kepada hamba-Nya yang munafik. Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Camkanlah ini, semoga kita dengan rahmat Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman dan melaksanakan ibadah serta yakin. Amin.