Tiga Fase Perjalanan Hidup Ibnu Athaillah As-Sakandari hingga Menjadi Sufi Terkenal

Ibnu Atahillah

Pecihitam.org– Siapa yang tak kenal dengan Ibnu Athaillah As-Sakandari, sufi terkenal yang awalnya begitu ‘fanatik’ dengan ilmu dzahir (Fiqh) madzhab Maliki dan menentang Tasawuf hingga ia bertemu dengan Abul Abbas Al-Mursi, tokoh sufi dan mursyid tharoqah Syadziliyah yang kelak menjadi guru spritualnya?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tulisan ini akan menyajikan kisah perjalanan panjang Ibnu Atahillah hingga pengarang kitab Al-Hikam ini menjadi serorang sufi legendaris.

Daftar Pembahasan:

Kelahiran & Kehidupan Keluarga Ibnu Athaillah

Nama lengkap beliau adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Al-Sakandari Al-Judzami al-Maliki Al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yastrib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aribah.

Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya, DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.
 
Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili, pendiri Thariqah al-Syadziliyyah, sebagaimana diceritakan sendiri oleh Ibnu Athaillah dalam kitabnya Lathaiful Minan.

“Ayahku bercerita kepadaku. ‘Suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah, kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”


Keluarga Ibnu Athaillah adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama. Kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya.

Ibnu Athaillah remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Athaillah memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Shalihin.


Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Athaillah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. inilah yang kemudian membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Athaillah menceritakan dalam kitabnya Lathaiful Minan bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi ia sabar akan serangan dari kakeknya.

Di sinilah guru Ibnu Athaillah yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Athoillah) datang ke sini, tolong beritahu aku”.

Dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ”Wahai Muhammad, kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”.

Dengan bijak Nabi mengatakan: ”Tidak, aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Athoillah) demi orang yang alim fiqih ini (Ibnu Atahillah).
 
Pada akhirnya Ibn Athoillah memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya. Dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf.

Baca Juga:  AGH Muhammad As'ad, Mahaguru Para Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan

Fase Perjalanan Hidup Ibnu Athaillah

Transformasi hidup Ibnu Athoillah yang awalnya mengikuti Fiqh murni dan kemudian bisa memadukan Fiqh dan Tasawuf menarik diketahui. Dan dalam buku-buku biografi tentang Ibnu Athaillah disebutkan setidaknya tiga fase perjalanan hidup beliau sebagai berikut:

Fase Pertama

Kota Iskandaria, Tempat Kelahiran Ibnu Athaillah

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah.

Pada periode ini, beliau mengikuti pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf, karena kefanatikannya pada ilmu fiqih. Mengenai hal ini, Ibnu Athoillah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”.

Lebih lanjut, ia bercerita. “Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir (Fiqh), tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya.”

Fase Kedua

Kota Kairo, Tempat Tinggal Ibnu Athaillah

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo.

Dalam masa ini sirnalah keingkarannya pada ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf. Suatu ketika Ibn Athaillah mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya: “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi?”

“Setelah lama aku merenung; mencerna. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar, maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya, biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf”
 
“Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya”.

“Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf, hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain.

Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.
 
Dalam hal ini Ibnu Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan:

Baca Juga:  Biografi Syaikh Zakariya Al Anshari Ulama Kenamaan Mazhab Syafii

“Di kota Qous, aku mempunyai kawan namanya Ibnu Nasyi. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata: “Tuanku, apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”.

“Aku memandangnya sebentar kemudian kukatakan: “Tidak seperti itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.


Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku, beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”.

“Mendengar uraian panjang lebar semacam itu, aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Fase Ketiga

Fase Ketiga Perjalanan Ibnu Athaillah

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’illah dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Allah pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Athoillah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf.
 
Ibnu Athoillah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah.

Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Athoillah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”.

Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Athoillah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”.

Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Tobaqoh al-Syafiiyyah al-Kubro.


Karya Ibnu Athoillah

Karya Ibnu Athaillah

Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitabah. Dan yang paling fenomenal adalah Kitab Al-Hikam yang berisi untaian mutiara hikmah beliau yang hingga hari ini menjadi rujukan utama bagi mereka yang meniti jalan mennuju Allah.
 

Pandangan Ibnu Athaillah tentang Uzlah dan Khalwah

Pandangan Ibnu Athaillah tentang Uzlah dan Khalwah

Ibnu Athoillah membedakan antara Uzlah dan Khalwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia.

Baca Juga:  Ketika Imam at Thabari di Tuduh Syiah dan Atheis Bagian 2

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan Uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya, maka ia memasuki tahapan Khalwah. Dan Khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan. Khalwah adalah perendahan diri di hadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain-Nya.
 
Menurut Ibnu Athoillah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.


Karomah Ibn Athoillah

Karomah Ibnu Athaillah As-Sakandari

Al-Munawi dalam kitabnya Al-Kawakib Al-Durriyyah mengatakan: Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal, tidak ada diantara kita yang celaka”.

Demi menyaksikan karomah agung seperti ini, Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Athoillah ketika meninggal kelak.
 
Karomah lainnya dari pengarang kitab Al-Hikam ini adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’a dan Arafah.

Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”.

Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya: “Siapa saja yang kamu temui?”

Lalu si murid menjawab: “Tuanku, saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum, Al-Arif billah ini menerangkan: “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb dipanggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya.

Ibnu Athoillah Wafat

Makam Ibnu Athaillah

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta.

Namun demikian, Madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

Faisol Abdurrahman