Kitab Al Hikam karya Syekh Ibnu Atthoillah Iskandari

kitab al hikam

Pecihitam.org – Kitab Al-Hikam adalah buah karya Syekh Ibnu Athaillah atau nama lengkapnya Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Sikandari mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah. Adapun pendiri pertama thariqaah Syadziliyah ialah Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili, seorang ulama Maroko yang kemudian menetap di Iskandariah, Mesir dan wafat pada 1258 M. Penggantinya adalah Syekh Abu Abbas Al-Mursi, dari Murcia, Andalusia, Spanyol, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Ibnu Athaillah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Syekh Ibnu Athaillah hidup dan tinggal di Mesir pada masa Dinasti Mamluk. Beliau lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), Mesir, kemudian pindah ke Kairo. Di kota inilah beliau menghabiskan umur hidupnya dengan mengajar fikih madzhab Imam Maliki di berbagai lembaga ilmu.

Ibn Athaillah merupakan ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah beliau hasilkan. Karyanya meliputi bidang ilmu tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karya beliau itu yang paling populer ialah Kitab Al-Hikam yang banyak disebut sebagai masterpice beliau.

Kitab ini merupakan gambaran perjalan spiritual para Sufi ketika menempuh (suluk) menuju Ilahi. Di dalamnya berisi panduan lanjut bagi setiap pejalan untuk menempuh perjalanan spiritual. Bukan gambaran dramatisnya, tetapi juga terdapat panduan-panduan, simbol, peringatan, nasehat, sekaligus aturan-aturan rohani yang luar biasa. Kitab ini berisi berbagai terminologi suluk yang ketat, yang merujuk pada berbagai istilah dalam Al-Quran.

Baca Juga:  Syarah al Hikam Karya KH Sholeh Darat as Samarani

Begitu istimewa dan agungnya kitab ini di mata para ulama atau kyai yang mengikuti thariqah Sadziliyah, Qodiriyah, dan Naqsyabandiyah, hingga mereka menyarankan bagi pembacanya haruslah suci, atau punya wudlu terlebih dahulu: “Dan jika Anda mau membaca, hadiahkan fatihah dulu kepada Rasulullah dan Ibnu Athaillah.”

Kitab ini boleh di baca sendiri, akan tetapi dianjurkan tetap dimusyawarahkan kepada ahlinya. “JIka tidak mengerti maka tidak boleh ditafsiri menurut selera pembacanya, karena nanti dikhawatirkan malah jauh dari esensi yang sebenarnya, dan tersandung-sandung.”

Masih ada yang lebih berat lagi dari statemen lainnya menurut para ulama: “Usahakan membaca, tapi hati anda tetap berdzikir. Bacalah menurut nurani anda sendiri-sendiri, bukan menurut akal anda.”

Menurut KH Shihab Ahmad Syakir Lasem Rembang, beliau mengatakan kitab al-Hikam itu kitab orang tua. Kalau dalam bahasa jawa “Istilae wong niku, al-Hikam niku kitabe wong tuo,” ujar Gus Shihab, panggilan cucu KH Ma’shum Lasem. Maksud sebagai kitab orang tua yaitu untuk mengatakan, kitab tersebut diperuntukkan pada orang-orang yang sudah tinggi ilmunya dan terjaga tingkah lakunya.

Baca Juga:  Tanda-tanda Wali Allah Menurut Ibnu Athaillah as Sikandari

Di berbagai pesantren atau komunitas santri, al-Hikam memang hanya diajarkan untuk para santri tingkat atas. Yaitu jika santri nahwunya sudah kuat, kitab fiqih yang besar sudah khatam serta kitab akhlak atau tasawufnya sudah banyak yang dikaji, baru seorang santri boleh mengikuti ngaji kitab al-Hikam.

Misalnya di pesantren Rinungagung, Kediri, Jawa Timur, Mbah Khozin membuka pengajian kitab al-Hikam untuk para santri alumninya, yang sudah maqom kiai, nyai, dan para guru. Di pesantren memang dikenal semacam hirarkhi antara satu kitab dengan kitab lainnya. Bahkan, ada istilah kitab yang ‘diakui’ dan kitab yang ‘tidak diakui’. Yang mana dalam tradisi dirhosah islamiyah yang resmi, umumnya hirarkhi kitab hanya dikenal pada kitab-kitab hadits.

Tentang istilah al-Hikam ialah kitab orang tua, seorang ulama mengatakan, “Istilah boleh-boleh saja. Mau disebut tua atau muda, sakti atau tidak sakti, boleh-boleh saja.Tapi semua orang tua selalu menyesal kenapa tidak sejak muda dulu mengenal kitab Al-Hikam,”

Berkata Ibnu ‘Ibaad An-Nafzy Ar-Randy: “Kitab Al-Hikam adalah kitab yang afdhal dari semua kitab yang ditulis di dalam ilmu Tauhid, dan sebesar-besar pegangan setiap hamba Allah yang hendak berjalan kepadaNya. Maka Al-Hikam adalah pegangannya untuk difahami dan dipelihara isinya, meskipun kitab itu kecil dan tipis, tetapi mengandung ilmu yang agung susunannya enak didengar, dan pergertiannya indah dan bagus. Al-Hikam bertujuan menerangkan jalan hamba-hamba Allah yang ‘Arifin dan Muwahhiddin dan menyatakan pula jalan-jalan apakah harus dilalui oleh shalikin dan hamba-hamba Allah yang betul-betul menjurus tujuannya kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Kitab Nashoihul Ibad Karya Syekh Nawawi al-Bantani

Kalimah-kalimah Hikmah yang terkandung dalam Al-Hikam menurut penelitian sebanyak 264 Hikmah. Inilah karya tulisan berharga dan agung yang ditinggalkan oleh Al-Imam Ibnu Athaillah kepada umat Islam.

Silahkan download kitab tersebut pada link dibawah ini:

Kitab Al Hikam karya Ibnu Atthoillah Iskandari
Terjemah kitab Al Hikam

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *