Ibrahim Al-Khawwash, Kisah Waliyullah; Karomah Dan Kalam Hikmahnya

Ibrahim Al-Khawwash, Kisah Waliyullah; Karomah Dan Kalam Hikmahnya

Pecihitam.org – Ibrahim Al-Khawwash bernama lengkap Ibrahim bin Ahmad bin Isma’il al-Khawwash, salah seorang tokoh Sufi yang agung, waliyullah yang telah sampai pada maqam tajrid yang terkenal dengan sifat tawakkalnya. Sering bermusafir ke Mekkah dan daerah lainnya. Berasal dari kota Saamarra’. Hidup semasa dengan Syeikh Junaid bin Muhammad dan Syeikh Ahmad an-Nuri. Wafat tahun 291H.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata: “Ibrahim al-Khawwash tidak pernah menetap dalam suatu negeri/daerah melebihi 40 hari lamanya, ia pemimpin dalam masalah tawakkal, baginya berpegang kepada sebab dapat mencemari/mengotori tawakkal”. (Kitab Kawakib-ad Durriyyah fii tarajimis-Saadatis-Shufiyyah, Syeikh Imam Abdurrauf Al-Manawi jilid: 1, hal: 328, cet: Maktabah al-Azhariyyah Litturats)

Beberapa kisah Karomahnya

*Hamid al-Aswad bercerita: “pada suatu waktu aku bermusafir dengan Ibrahim Al-Khawwash, ketika tiba waktu malam kami berada disebuah gurun dan bermalam di dekat satu pohon, ketika aku hendak tidur, aku melihat seekor binatang buas datang mendekat, lalu kupanjat pohon tersebut dan melihatnya dari atas, sedangkan Ibrahim al-Khawwash masih tertidur.

Binatang tersebut mengendus Ibrahim dari kepala hingga ke kakinya, kemudian pergi menjauh. Pada malam berikutnya kami menetap di satu masjid dalam pedesaan dan bermalam disana.

Ketika Ibrahim sedang tertidur aku melihat ada seekor kutu yang jatuh kewajahnya, lalu kupukul kutu tersebut, kemudian tiba-tiba Ibrahim pun merintih dan terbangun.

Akupun berkata kepadanya “Luar biasa ajaib!,  malam kemarin engkau tidak cemas terhadap binatang buas, tapi malam ini engkau terbangun dengan sebab satu ekor kutu?,

Ibrahim pun menjawab “malam kemarin adalah suatu keadaan dimana aku bersama Allah, sedangkan malam ini aku bersama dengan diriku”

Baca Juga:  Mengenal Sosok Salman al Farisi, Pencari Kebenaran Islam

*Hamid al-Aswad juga pernah bercerita: pada lain waktu aku pernah bersama-sama dengan Ibrahim Al-Khawwash di sebuah padang pasir, kami berada disana selama tujuh hari.

Pada hari ketujuh tubuhku sudah mulai terasa lelah dan letih, akupun terduduk terhenti tak sanggup lagi berjalan. Lalu Ibrahim berpaling kepadaku dan bertanya : “apa yang terjadi ?”, aku lelah wahai Ibrahim, jawabku.

Kemudian ia bertanya lagi “Apa yang saat ini sangat kau inginkan, air atau makanan?, lalu kujawab “air”. Ibrahim pun berkata : “itu air di belakangmu!”.

Seketika itu kupalingkan wajahku kebelakang, dan tiba-tiba muncul mata air yang sangat jernih dan segar, lantas aku pun meminumnya hingga puas dan bersuci dengan air tersebut, sedangkan Ibrahim sama sekali tidak mendekat, ia hanya melihat kearah ku dari tempatnya.

Kemudian aku berencana untuk membawa sedikit air tersebut bersamaku, tetapi Ibrahim melarang dan berkata kepadaku : “hentikan perbuatanmu!, karena hajatmu hanya sekedar yang barusaja kau gunakan tadi, tidak lebih dari itu”.

*Ibrahim Al-Khawwas pernah bercerita perihal keadaannya, ia berkata : “aku pernah berjumpa dengan Nabiyullah Khidir as di sebuah gurun,  lantas ia menawarkan diri untuk menemani perjalananku, namun aku khawatir akan merusak tawakkal ku pada Allah, maka aku putuskan meninggalkannya.

*Diceritakan bahwa suatu waktu Ibrahim al-Khawwas pernah didatangi setan ketika sedang beristirahat diatas sebuah batu besar, setan tersebut menyuruh Ibrahim tuk bangun dari tidurnya, namun Ibrahim tak mau dan menyuruh setan itu pergi.

Baca Juga:  Inilah Nama Tokoh Tokoh Pendiri NU (Nahdlatul Ulama)

Oleh karena itu setan pun  berniat hendak mencelakai Ibrahim dengan cara menendangnya, ketika kakinya menghantam tubuh Ibrahim, Ibrahim hanya merasakan seperti tersentuh sehelai kain.

Lantas setan pun berkata kepadanya: “kau adalah wali Allah, siapa engkau sebenarnya?”, Ibrahim lalu menjawab: “aku Ibrahim Al-Khawwash”. Setan berkata : “ternyata engkau benar wali Allah!

Wahai Ibrahim, ditanganku ada dua jenis makanan, yakni makanan yang halal dan yang haram. Ada dua buah delima halal yang kupetik dari bukit yang mubah dalam rimba, dan ada dua ekor ikan yang aku curi dari dua orang nelayan yang saling berkhianat satu sama lain. Makanlah yang halal ini wahai Ibrahim, dan tinggalkan yang haram”.

Beberapa Kalam Hikmahnya

  • Ada 4 perkara yang sangat langka lagi berharga : 1. Orang ‘alim yang beramal dengan ilmunya, 2. Orang ‘Arif yang berbicara mengenai hakikat perbuatannya, 3. Laki-laki yang bergantung dengan Allah dengan tanpa sebab, 4. Si Murid yang hilang rasa tamak dari dalam dirinya.
  • Hikmah yang turun dari langit tidak akan menetap didalam hati yang bersarang 4 perkara ini yaitu: 1.tunduk kepada dunia, 2.gelisah tentang kelanjutan hidupnya besok, 3.suka mencurigai atau suka mencari harta berlebihan, dan 4.mendengki saudaranya.
  • Obat hati ada lima; 1.membaca Quran dengan tadabbur (perenungan), 2.mengosongkan bathin dari selain Allah, 3.shalat malam, 4.berdoa sepenuh hati diketika waktu sahur dan 5.duduk dalam majelis orang-orang shaleh.
  • Tawakkal itu ada 3 tingkatan, pertama kesabaran, kedua keridhaan dan ketiga kecintaan (mahabbah). Karena seseorang itu jika berwakkal maka dapat  membawakinya kepada sabar, dan apabila ia telah dapat bersabar maka akan dapat redha ia terhadap apa saja yang telah ditetapkan keatasnya, dan bila ia telah dapat meredhainya maka itu dapat membuatnya mencintai apa saja yang diperbuat terhadapnya.
  • Semua ilmu terkumpul dalam dua kalimat. Yakni jangan bersusah diri terhadap apa yang telah dicukupkan, dan jangan kau sia-siakan kecukupan yang telah kau minta.
  • Pedagang yang bermodalkan harta milik orang lain adalah pedagang yang bangkrut.
  • Tidak ada sesuatu pun yang menakutkanku melainkan aku akan menungganginya. Barangsiapa yang meninggalkan nafsu syhawat tetapi tidak mendapatkan gantinya didalam hati maka orang itu adalah pendusta dalam hal meninggalkannya.
  • Menumpuk-numpuk harta dapat mencegah ketentraman, ‘ujub dapat mencegah dari pada mengetahui ukuran/tingkatan nafsu, takabbur dapat mencegah dari pada mengetahui kebenaran dan kikir dapat menegah sifat wara’.
  • Kesejahteraan itu ada empat macam: 1.agama dengan tanpa bid’ah, 2.amalan dengan tanpa penyakit, 3.hati yang tiada kesibukan didalamnya dan 4.nafsu dengan tanpa syahwat (keinginan).
  • Sebahagian daripada penyebab kemurkaan adalah mencaci dunia secara terang-terangan tetapi secara sembunyi-sembunyi menginginkan dan menggapainya.
Baca Juga:  Upaya Imam Qushayri dalam Meluruskan Penyimpangan Kaum Sufi

Demikian sedikit paparan mengenai kisah Ibrahim Al-Khawwash beserta beberapa kalam hikmah dan karomah yang Allah beri kepadanya, mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Wallahu a’lam bis shawaab!

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published.