Inilah Metode Takhrij Hadits yang Wajib Diketahui Peneliti Hadis

Inilah Metode Takhrij Hadits yang Wajib Diketahui Peneliti Hadis

Pecihitam.org – Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa di antara fungsi takhrij hadits adalah mengetahui tempat keberadaan hadits dari sumber aslinya. Yang dimaksud sumber asli ialah kitab-kitab hadits induk, kitab-kitab pengikut dan kitab-kitab selain hadis. Terdapat metode takhrij hadits yang dapat digunakan untuk mempermudah kegiatan tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun metode takhrij hadits yang telah dirumuskan para ulama jumlahnya ada lima. Penulis akan menyebutkan dan menjelaskannya satu persatu sebagai berikut:

  • Pertama, dengan cara mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis.
  • Kedua, dengan cara mengetahui lafal pertama dari lafaz hadis.
  • Ketiga, dengan cara mengetahui lafal matan hadis yang jarang digunakan/sedikit berlakunya.
  • Keempat, dengan cara mengetahui pokok bahasan hadis/tema suatu hadis.
  • Kelima, dengan cara mengetahui kualitas hadis baik sanad maupun matannya.

Dari kelima metode ini, tentu masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Metode pertama mengharuskan peneliti/pentakhrij mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis.

Jika ia tidak mengetahuinya, maka metode ini tidak dapat digunakan. Contoh kitab yang dapat digunakan untuk membantu metode ini adalah Musnad Ahmad bin Hanbal.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 502 – Kitab Waktu-waktu Shalat

Metode kedua mengharuskan peneliti mengetahui lafal pertama dari lafal pertama dari lafal hadis. Jika tidak mengetahuinya, maka metode ini tentu tidak dapat digunakan. Contoh kitab yang dapat digunakan untuk membantu metode ini adalah Jami’us Shagir min Hadisil Bayirin Nzair.

Metode ketiga mengharuskan peneliti mengetahui lafal matan hadis yang jarang digunakan dalam bahasa Arab. Jika ia tidak mengetahuinya, jelas metode ini tidak dapat digunakan. Contoh kitab yang dapat digunakan untuk membantu metode ini adalah Mu’jam Mufahras li Alfadzil Hadis an-Nabawi.

Metode keempat mengharuskan peneliti mengetahui pokok bahasan hadis. Jika ia tidak mengetahuinya, jelas metode ini tidak dapat digunakan. Contoh kitab yang dapat digunakan untuk membantu metode ini adalah Miftah Kunuzissunnah.

Metode kelima mengharuskan peneliti mengetahui kualitas hadis baik sanad maupun matannya. Jika ia tidak mengetahuinya, jelas metode ini tidak dapat digunakan. Contoh kitab yang dapat digunakan untuk membantu metode ini adalah Asmaul Mubhamah fii Anbail Muhkamah.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 143 – Kitab Wudhu

Dengan menggunakan salah satu atau kelima metode ini (berdasarkan kunci atau modal dasar yang telah dimiliki) maka kita akan mendapat beberapa manfaat.

Di antaranya adalah mengetahui keberadaan hadis dalam kitab aslinya, menjabarkan sanad dan matan hadis secara lengkap, meneliti kualitas sanad dan matan hadis, mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi’ pada sanad dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis, dari ketiga metode takhrij hadits di atas, yang paling mudah dikerjakan dan diaplikasikan adalah metode ketiga, yaitu mengetahui lafal matan hadis yang jarang digunakan.

Dengan metode ini, peneliti tidak diharuskan mengetahui sahabat yang meriwayatkan, tidak diharuskan juga mengetahui lafal pertama hadis, tema pembahasan dan kualitasnya.

Peneliti cukup mengetahui salah satu lafaz yang termuat dalam hadis tersebut. Misalnya seseorang ingin mencari suatu hadis yang lengkap (sanad dan matannya) dalam kitab induk hadis. Namun yang ia tahu hanya satu lafaz saja dari hadis tersebut, yaitu “tabda’u”.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 179 – Kitab Wudhu

Cara mencarinya adalah lafaz “tabda’u” dicari dahulu fiil madhinya, (yaitu bada’a). Kemudian yang dicari dalam kitab Mu’jam Mufaharas adalah lafaz “bada’a”, cari di huruf abjad “ba’”.

Namun dewasa ini, teknologi sudah sangat membuat segalanya menjadi mudah, termasuk takhrij hadits. Kita dapat melakukannya di PC atau komputer dengan menginstall program aplikasi Maktab Syamilah.

Meski demikian, perlu kiranya menyertainya dengan kitab aslinya. Agar kekeliruan yang mungkin tidak terhindarkan dalam program aplikasi tersebut dapat terminimalisir.

Demikian uraian mengenai metode takhrij hadits, wallaahu a’lam bishshawaab.

Azis Arifin