Kalam Hikmah Imam Ghazali: Aku Tidaklah Lebih Baik Dari Orang Lain

kalam hikmah imam ghazali

Pecihitam.org – Mari kita belajar hikmah. Dewasa ini kata maaf itu lebih sulit dari pada gengsi. Dewasa ini menghargai orang lain lebih sulit dari pada mencaci. Dewasa ini mempertahankan argument yang benar walaupun orang lain tersakiti terasa lebih mulia dari pada duduk bersama saling menghormati. Entah itu karena manusia zaman akhir lebih suka duduk ngopi sendiri di café yang kekinian dan mahal, dari pada duduk bersama diteras emperan dengan kopi seduhan sendiri sambil bercerita tentang kedamaian negeri. Sembari mengingat kalam hikmah Imam Ghazali atau beliau di kenal juga dengan nama Al Imam abu Hamid al Ghazali. Beliau berkata:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Maka keyakinanmu bahwa engkau lebih baik dari orang lain adalah kebodohan yang fatal.

Oleh karena itu sebaiknya engkau tidak melihat siapapun kecuali engkau menganggap dia lebih baik dari pada dirimu. Dan bahwa kelebihan dan keutamaan ada padanya, bukan pada dirimu yang penuh kekurangan.

Sesuai kalam hikmah Al Imam Abu Hamid al Ghazali

Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah di dalam hatimu, Dia ini tidak banyak maksiat kepada Allah karena masih kecil, sedang aku banyak maksiat kepada-Nya, maka jelas ia lebih baik dari pada diriku.

Baca Juga:  Pengertian dan Metode Filsafat Hukum Islam

Jika engkau melihat orang tua berkatalah, “Orang ini telah menyembah Allah sebelum diriku, maka jelas ia lebih baik dariku.

Jika engkau melihat orang lain maka katakanlah, “Orang ini dikaruniakan sesuatu yang aku tidak mendapatkannya. Dia telah mencapai tingkatan yang mana aku belum mencapainya dan mengetahui ilmu yang aku belum memahaminya. Maka bagaimana aku bisa merasa sama dengannya?”

Jika engkau melihat orang yang bodoh maka katakanlah, “Orang ini bermaksiat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat kepada Allah padahal aku berilmu. Karenanya alasan Allah untuk menyaksikanku lebih kuat, apalagi aku tidak tahu takdir akhiranku dan akhirannya ?

Bahkan jika engkau melihat orang kafir pun maka katakanlah, Aku tidak tahu, mungkin saja dia akan masuk Islam dan diakhiri usianya dengan kebaikan. Mungkin dia akan terlepas dari dosa seperti tercabutnya helai rambut dari bubur. Sementara aku belum jelas, aku masih khawatir Allah akan menyesatkan aku lalu aku menjadi kafir dan diakhiri hidupku dengan keburukan. Dengan demikian, mungkin saja dia menjadi orang yang dekat dengan Allah, sedang aku menjadi orang yang jauh dari-Nya. Lalu dengan dalil apa aku bisa merasa lebih baik darinya ?”

“Oleh karena itu, lebih baik engkau sibuk memikirkan akhir kehidupanmu dari pada sombong kepada hamba-hamba Allah yang lainnya. Tidak ada jaminan bahwa keyakinan dan keimanan yang kau miliki sekarang tidak akan berubah di lain waktu yang akan datang, karena sesungguhnya hanya Allah lah yang Maha menggeggam hati dan membolak balikannya. Dia (Allah) memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki dan menyesatkan orang yang Dia kehendaki pula”
(Kalam Hikmah Imam Al Ghazali: Bidayatul Hidayah)

Mari kawan kita renungkan sejenak tentang akhir kehidupan kita. Bicara tentang kedamaian sembari menikmati seduhan kopi, rasa manis pahitnya ibarat dua sisi yang ada dalam diri manusia. Sebetulnya mana yang lebih nikmat? Kita tidak tahu. Karena sesempurna apapun kau menyeduhnya, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kau sembunyikan. Maka tak sepantasnya kita menilai orang lain sedangkan kita sendiri belum tentu tahu siapa yang lebih nikmat akan takdir di akhir hayat. Semoga Allah Tuhan semesta Alam, Dzat yang membolak-balikkan hati senantiasa membimbing dan menetapkan hati kita diatas agama-Nya. Wallahu’alam Bisshawab.

Baca Juga:  Filsafat sebagai Warisan Islam yang Mengagumkan
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.