Kemaksuman Nabi Muhammad: Kisah Nabi Muhammad yang Terjaga dari Kemaksiatan

Kemaksuman Nabi Muhammad: Kisah Nabi Muhammad yang Terjaga dari Kemaksiatan

Pecihitam.org- Sejak kecil, Nabi Muhammad terjaga dari kemaksiatan. Dr. Nizar Abazhah dalam bukunya berjudul “Pribadi Muhammad” menyebutkan, bahwa Rasulullah saw terhindar dari segala dosa, baik dosa besar maupun kecil, atau yang disebut kemaksuman Nabi Muhammad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Muhammad melaksanakan semua perintah Allah dan tidak melanggarnya. Akhlaknya begitu terjaga dari sifat-sifat yang buruk. Nabi muhammad saw sendiri menegaskan keterjagaan akhlak dan perilakunya di masa jahiliyah.

Di kalangan Sunni, konsep ma’sûm hanya berlaku bagi para nabi dan rasul saja. Sehingga yang dimaksudkan dengan ‘ismah menurut kelompok ini adalah pemeliharaan Allah SWT terhadap para nabi dan rasul-Nya dari perbuatan dosa dan maksiat, dari kemungkaran-kemungkaran dan perkara-perkara yang diharamkan.

Sifat kemaksuman Nabi Muhammad SAW ini merupakan sifat esensial yang melekat pada diri para nabi dan rasul yang membedakan mereka dengan manusia pada umumnya.

‘Ismah merupakan nikmat yang sangat besar yang dikhususkan oleh Allah SWT untuk para nabi saja, sehingga dengan demikian terselamatkanlah mereka dari segala macam dosa dan maksiat, baik besar maupun kecil, dan terselamatlah dari menyalahi perintah-perintah Allah SWT, tidak seperti orang lain.

Baca Juga:  Kisah Malaikat dan Tiga Orang Bani Israil

Dalam hal ini ‘ismah bukanlah suatu hal yang bisa dicapai oleh setiap orang walaupun melalui usaha-usaha tertentu. Ia hanyalah anugerah dari Allah SWT. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang diyakini oleh komunitas Syi’ah, yang mana mereka berpendapat bahwa ma’sûm tidak hanya disandangkan kepada para nabi dan rasul, tetapi juga kepada para Imam Syi’ah.

Sejak anak-anak, aku telah membenci berhala, benci pada syair (puisi), dan tak pernah melakukan apapun yang dilakukan orang Jahiliyah. Hanya dua perilaku Jahiliyah yang pernah aku lakukan, tetapi kemudian Allah menjagaku dari keduanya dan aku tak mengulanginya lagi.

Buku-buku biografi Nabi Muhammad saw menyebutkan soal dua perbuatan jahiliyah itu, yakni ketika pada malam hari beliau hendak menyaksikan pesta orang Makkah, namun Allah membuatnya tertidur dan bangun karena disengat panas matahari keesokan harinya.

Baca Juga:  Kisah Abu Nawas Gagal Diamuk Istrinya

Nabi Muhammad saw juga tidak pernah bersentuhan dengan dosa menyangkut wanita di saat pemuda lain biasa melakukan hubungan haram. Sebab di masa jahiliyah, orang Makkah kala itu menyembah patung di mana-mana, orang-orang melakukan thawaf tanpa busana, gemar pesta mabuk-mabukan, dan banyak keburukan lainnya.

Namun, Muhammad muda tidak mengikuti kebiasaan masyarakat di sekelilingnya. Selain itu, Nabi saw juga terpelihara dari godaan syetan. Padahal, hadits menyebutkan bahwa semua manusia terkadang tidak lepas dari godaan syetan. Nabi saw bersabda,

“Tak seorang pun dari kalian yang tak ditemani jin dan malaikat.” “Termasuk engkau ya Rasulullah?” Tanya sahabat. “Ya, termasuk aku. Hanya saja, Allah menolongku sehingga ia memeluk Islam dan tak menyuruhku kecuali pada kebaikan.” (HR. Muslim)

Baca Juga:  Dialog Kyai NU dan Seorang Pemuda Bercelana Cingkrang

Semasa hidupnya, Nabi Muhammad saw juga terjaga dari kejahatan manusia yang hendak membunuhnya. Tidak ada satu pun orang kafir atau munafik yang berhasil membunuh sang nabi.

Dalam Sirah Ibn Hisyam, al-Shifa, dan kitab biografi Nabi muhammad lainnya diterangkan bagaimana kaum Quraisyi berupaya dengan segala cara untuk membunuh Nabi Muhammad saw di Makkah, hingga konspirasi kaum munafik untuk melemparkan Nabi dari atas bukit sepulang dari Perang Tabuk. Namun, semua rencana jahat itu gagal. Allah melindungi Muhammad hingga misi kerasulannya selesai saat beliau wafat setelah mengalami sakit. 

Mochamad Ari Irawan