Keutamaan Rasa Malu dalam Hadits Nabi Muhammad SAW

keutamaan rasa malu

Pecihitam.org – Sebagai umat islam perlunya kita mengetahui bahwa diantara sifat utama dalam deretan nilai nilai kislaman ialah dengan memelihara rasa malu. maka sepatutnya kita meresa beruntung sebagai umat islam karena dalam lingkungan dan ajaran rupanya kita telah dididik menjadi pribadi yang sangat menjunjung tinggi terkait rasa malu itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dan tentu ini tidak hanya sekedar memelihara malu, karena pada dasarnya memelihara rasa malu itu rupanya memiliki keutamaan keutamaan yang wajib kita ketahui , untuknya berikut penulis paparkan terkait keutamaan rasa malu itu.

1. Merupakan Salah Satu Cabang Keimanan

Siapa sangka? Rasa malu adalah salah satu cabang keimanan sebagaimana yang diriwayatkan enam perawi Hadits dari Abdullah bin Umar r.a., ia menceritakan bahwa Rasulullah saw berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan kepada saudaranya tentang sifat malu (dia berkata tidak kah kau malu?) lantas Rasullah saw bersabda “Tinggalkanlah dia, karena malu adalah sebagian dari Iman”

Selain itu, Hadits diatas dipertegas oleh Hadits riwayat Abu Al-Syaikh Ibnu Hibban dari Mujammi’ bin Haritsah, dari pamannya yang merupakan seorang sahabat bahwa Rasulullah Saw., bersabda “Malu adalah salah satu cabang keimanan; dan tidak ada iman bagi orang yang tidak punya malu”. diketahui pada hadits ini terdapat seseorang yang bernama Bisyr bin Ghalib Al-Asadi, seseorang yang tidak dikenal (Majhul)

2. Rasa Malu akan Mendatangkan Kebaikan

Seperti yang diutarakan pada point pertama diatas bahwasanya rasa malu memiliki keutamaan yang mana merupakan salah satu cabang keimanan. Tentu tanpa adanya rasa malu maka berkuranglah keimanan seseorang sehingga memicu terjadinya keburukan dalam dirinya. Mengapa? Sebab dengan adanya rasa malu, pastilah hanya akan mendatangkan kebaikan.

Baca Juga:  Yang Penting Berjilbab Dulu atau Sholat Dulu? Ini Jawabannya

Kita bisa tengok tentang kasus kasus diluaran sana yang bisa dikatakan bahwa itu terjadi dikarenakan hilangnya rasa malu seseorang. Seperti kasus perzinahan, menggunjing, mengadu domba,  ataupun kasus korupsi yang dilakukan oleh orang orang yang berpendidikan.

Mengapa mereka melakukan korupsi, jelas ini karena ketidakhadiran rasa malu yang mengetuk hati mereka. Sehingga keimanannya tidak teraktualisasi dengan baik.

Karena seandainya saja mereka menyadari akan pentingnya rasa malu itu, ditambah kuatnya iman mereka yang telah mendarah daging, tentulah keburukan keburukan seperti perzinahan, adu domba, korupsi dan lainnya tidak pernah mereka coba yang ujungnya ujungnya hanya merugikan dirinya sendiri terlebih pada orang lain.

Itulah mengapa penting untuk kita pahami bahwa dalam diri umat islam pastilah ada rasa malu, karena selain dikatakan sebagai pendatang kebaikan pun rupanya memang sudah dilukiskan bahwasanya rasa malu adalah akhlak umat islam, sebagaimana  Sabda Rasulullah Saw., dari Anas bin malik bahwa

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (Shahîh: HR. Ibnu Majah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr)

3. Merupakan Warisan dan Pesan para Nabi Terdahulu

Seperti ajaran atau pesan Rasulullah Saw., dan para nabi terdahulu terkait  kebaikan kebaikan yang patut kita lakukan selaku umat, maka sebanding dengan rasa malu yang rupanya warisan dari mereka untuk kita amalkan.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para Nabi terdahulu adalah ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu’”

Bahkan Rasulullah Saw., dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sa’id al-Khudri yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

Baca Juga:  Ikhlas Itu Bukan Sebatas Rela, Ini Kata Quraish Shihab

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”

Begitupun yang dilukiskan Allah Swt., dalam Firman-Nya pada QS. Al Ahzab [33]: 53. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar),”

Sehingga dari penjelasan singkat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa fondasi keimanan seorang hamba tidak lain adalah rasa malu, dan yang menjadi catatan pentingnya ialah kita pun harus jauh lebih malu kepada Allah, maksudnya yang bagaimana?

Berikut uraiannya sesuai dengan arahan Rasulullah kepada para sahabat, dalam riwayat  At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a., ia menyatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda Saw.,

“Malulah kepada Allah dengan sebenar benarnya.” Ibnu Mas’ud mengatakan  “Kami lantas mengatakan, ya Nabi Allah, Alhamdulillah kami merasa malu”. Beliau pun bersabda “Bukan seperti itu, melainkan malu kepada Allah dengan sebenar benarnya,

yaitu dengan menjaga kepala dengan apa yang ada dipikirannya, menjaga perut beserta isinya, mengingat kematian dan segala cobaan, serta apabila menginginkan Akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa melakukan semua itu, ia malu kepada Allah dengan sebenar benarnya”

Pertanyaanya kemudian ialah bagaimana jadinya jika Allah mencabut rasa malu seorang hamba? Jelas ini merupakan peringatan akan datangnya kehancuran.

Baca Juga:  Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram

Tentulah sikap sikap keburukan akan terus dilakukan dan mengisi keseharian kita selaku manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam periwayatan Ibnu Majah perihal pencabutan rasa malu seorang hamba, dari Abdullah bin Umar r.a., bahwa Nabi Saw., pernah bersabda

“Apabila Allah Azza wajalla hendak membinasakan seorang hamba, maka dia akan mencabut sifat malu darinya. Apabila sifat malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu mendapatinya sangat dibenci maka akan dicabut amanah darinya. Apabila amanah telah dicabut darinya maka kamu tidak akan mendapatinya, kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu.

Apabila kamu hanya menjumpainya dalam keadaan menipu dan tertipu maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang. Apabila sifat kasih sayang sudah dicabut darinya, maka kamu tidak akan menjumpainya, kecuali dalam keadaan terlaknat dan terkutuk. Dan apabila kamu hanya menjumpainya dalam keadaan terlaknat dan terkutuk maka dicabut darinya ikatan keislaman”

Semoga bermanfaat, Aamiin!

Rosmawati