Bagaimana Korelasi Tasawuf dengan Keilmuan? Berikut Penjelasannya

Bagaimana Korelasi Tasawuf dengan Keilmuan? Berikut Penjelasannya

Pecihitam.org- Cita-cita seorang sufi adalah mengkombinasikan kehidupan spiritual dan duniawi sehingga cahaya spiritual memotifasi dan bersinar melalui aktivitas duniawi. Tidak hanya itu, menemukan korelasi tasawuf dengan keilmuan menjadi media tersendiri bagi mereka yang ingin menemukan cara bertasawuf yang benar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Amalan dalam tasawuf dapat membantu dalam mempertahankan keseimbangan spiritual. Tasawuf memulihkan pandangan dunia yang utuh dengan menawarkan pengalaman mistis yang tidak berkonflik dengan sain modern.

Korelasi ilmu tasawuf dengan keilmuan terletak pada proses pengetahuan yang dimiliki sufi. Di mana sufi dalam mengembangkan spiritual melalui proses riyadhah atau yang disebut olah batin/spiritual dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mengenal secara mendalam hakikat Tuhannya.

Dalam proses riyadhah tersebut terjadi proses transendensi, yaitu upaya seorang sufi meningkatkan kualitas spiritual untuk mencapai maqom tertinggi yang disebut ma’rifat.

Dalam istilah lain disebut ma’rifatullah yang berarti mengenal Allah. Pada maqom ma’rifat inilah pengetahuan sufi akan tersingkap sehingga mampu memahami pengetahuan yang bersifat khusus yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Kemudian, dilakukanlah imanensi yaitu mengejawantahkan pengetahuan Tuhan ke dalam kehidupan riil.

Sebagai contoh sederhana, pesan imam al-Waqi’ kepada imam Syafi’i “Syakautu ila al-Waqi’ su’a al-hifdzi fa arsyadani ila tarki alma’asyi wa akhbarani bianna ilmu nur wa nurullah la yuhda li al-asyi” (aku telah mengadu kepada al-Waqi’ mengenai buruknya hafalanku maka beliau menasehatiku agar meninggalkan ma’siat. Ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli ma’siat).

Baca Juga:  Mungkinkah Seseorang Tidak Mengetahui Bahwa Dirinya Seorang Wali?

Dengan demikian ilmu akan dengan mudah didapat jika seseorang menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat. Dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf yaitu taubah. Taubah merupakan pintu yang pertama untuk seorang ahli tasawuf dalam mencapai maqom-maqom berikutnya.

Begitu juga seseorang yang ingin mencari ilmu menjauhkan diri dari maksiat (taubah) merupakan kunci utama untuk dapat membuka pikiran manusia dalam menyerap pengetahuan.

Kemudian dalam suatu hadis juga dituliskan “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Robbahu”, (Barang siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya).

Sederetan intelektual muslim juga banyak mengkaji tentang jiwa dan roh diantaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali. Menurut sebagian ahli tasawuf nafs (jiwa) adalah roh dan jasad.

Pengaruh ini akhirnya memunculkan kebutuhan jasad yang dibangun oleh roh jika jasad tidak memiliki tuntutan-tuntutan yang tidak sehat dan disitu tidak terdapat kerja pengekangan nafsu, sedangkan qolbu (hati) tetap sehat, tuntutan jiwa terus berkembang, sedangkan jasad menjadi binasa karena melayani hawa nafsu.

Baca Juga:  Habib Luthfi bin Yahya: Belajar Ma’rifat dari Sesuap Nasi

Berdasarkan pemahaman tersebut akan muncul Psikologi yang mempelajari permasalahan mengenai jiwa. Psikologi Islam juga membahas bagaimana tingkah laku manusia menjadi positif dan dekat dengan Tuhan. Sehingga antara psikologi dengan tasawuf sangat erat hubungannya.

Para psikolog banyak menerapkan sistem tasawuf dalam mengatasi permasalahan jiwa. Karena didalam tasawuf, para sufi mencoba memberikan latihan dengan amalan-amalan yang diterapkan untuk kesehatan batin dan jasad.

Hati adalah tempat bercokolnya keimanan. Dengan demikian wirid dan zikir tidak bisa lepas dari sarana sebagai pendidikan dalam permasalahan spiritual.

Setelah melewati persinggahan dalam (maqomat) dan rasa kebatinan yang begitu dalam, banyak tokoh tasawuf berharap untuk bersatu dengan Tuhan. Mereka berusaha mendapatkan kesejatian diri, kesejatian alam, dan kesejatian Tuhan.

Pesona indah kalimat yang diucapkan para sufi mengharap pancaran Illahi menyelam kedalam hati, berbeda dengan pengalaman pahit yang mereka alami. Dalam persinggahan tersebut muncul keindahan bahasa yang luar biasa.

Dalam kesustraan Islam, karya-karya paling universal termasuk ladang garapan tasawuf. Semangatnya yang membangkitkan kesusteraan Arab dan persia, mulai dari lirik-lirik lokal dan sajak-sajak epiknya sampai kepada karya-karya didaktik dan mistik yang dimensinya sangat universal.

Baca Juga:  Zuhud yang Sebenarnya, “Hanya Orang Bodoh dan Gila yang Tidak Ingin Kaya”

Bersadarkan penjelasan diatas didapat pemahaman bahwa ketika seseorang sudah mencapai tingkatan makrifat, akan bertambahlah ilmunya.

Tidak hanya ilmu tentang mencapai kedekatan dengan Tuhan tetapi juga akan tersingkap ilmu-ilmu Alloh yang ada di alam semesta. Dengan demikian akan muncul semangat untuk tholabul ilmi dan menggali terus ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seorang sufi modern selalu memiliki inovasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana, sehingga ilmu baru yang akan didapatkan bisa dimanfaatkan dengan bijaksana pula.

Mochamad Ari Irawan