Kyai Penggemar Sepak Bola; Dari Gus Dur Hingga Quraish Shihab

Kyai Penggemar Sepak Bola; Dari Gus Dur Hingga Quraish Shihab

PeciHitam.org – Sudah tiga bulan lamanya para penggemar sepak bola harus puasa dukungan kepada club favoritnya. Pasalnya seluruh pertandingan sepak bola juga ditiadakan karena covid-19, sama halnya dengan kegiatan-kegiatan lain yang berpotensi mengumpulkan banyak massa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seperti yang kita ketahui, sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga terfavorit di dunia. Sepak bola memiliki penggemar yang sangat banyak nan fanatik. Selain itu, semua kalangan dapat memainkan dan menikmatinya.

Penggemar sepak bola mencakup berbagai kalangan, dewasa hingga anak-anak, mulai dari presiden, elit politik, mahasiswa, dosen, kaum buruh, ibu-ibu rumah tangga, bahkan para ulama besar pun dapat menikmati olahraga yang satu ini.

Kyai tersohor pun banyak juga yang menjadi penggemar sepak bola. Berikut ini merupakan beberapa kyai penggemar sepak bola, antara lain:

KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)

Beberapa hari belakangan, euphoria penggemar sepak bola kembali bergelora. Berbagai pertandingan akan resmi digelar, salah satunya Premier League. Kegembiraan tersebut juga dirasakan oleh Gus Yusuf.

Gus Yusuf, panggilan akrab KH Muhammad Yusuf Chudlori, yang merupakan pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah.

Kecintaannya terhadap sepak bola juga mengantarkannya untuk terjun secara langsung. Tercatat ia pernah menjabat sebagai CEO PPSM Magelang. Di Twitter, ia sering bercanda tentang sepak bola.

Terlebih kalau tim sepakbola favoritnya, Manchester United (MU), bertanding. Ia menjadi penggemar MU sejak tahun 1995, atau dua puluh lima tahun lamanya. Sejak era keemasannya MU, ketika Beckham dan Giggs berada pada performa terbaiknya.

Sekarang ini, jikalau performanya MU sedang buruk dan bahkan tidak lolos ke liga Champions, dirinya pun rela menjadi salah satu sosok yang jadi bulan-bulanan bagi para netizen.

Memanglah jika benar-benar penggemar, apapun komentar netizen tak akan digubrisnya. Ia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia pada Manchester United.

Setelah digaungkannya new normal di dunia, Premier League pun akhirnya digelar Kembali. Gus Yusuf pun turut bergembira, ia bahkan mengungkapkannya dengan “Marhaban Yaa Premier League!” dalam akun sosial medianya.

Baca Juga:  Kewajiban Menghormati Ahlul Bait dalam Al-Quran

Dari ungkapannya tersebut, seolah-olah ingin mengatakan bahwa Premier League adalah tamu spesial yang perlu disambut dengan kegembiraan, seperti bulan Ramadhan.

KH Ahmad Dahlan

Sama seperti kita, Darwis, panggilan masa kecil KH Ahmad Dahlan, bermain bola bersama teman-temannya ketika menjelang sore atau setelah usai mengaji di sore hari kepada kyai Kamaludiningrat di Masjid Gedhe Kauman yang tak jauh dari rumahnya.

Bagi Darwis, sepakbola adalah permainan. Kerja sama dan sportivitas merupakan elemen inti yang tak dapat ditinggalkan. Kalah dan menang bukan yang utama.

Dalam sepakbola, nilai kepemimpinan terlihat dalam diri pelatih dan kapten tim. Pelatih dapat dikatakan sebagai mastermind dalam meracik strategi bagi timnya.

Kapten tim hadir untuk mengganti peran pelatih di lapangan, untuk memimpin teman-temannya dalam menerapkan strategi yang telah ditetapkan oleh pelatih, dan juga untuk memberikan semangat bagi teman-teman satu tim.

Seorang kapten tim harus memiliki kharisma khusus, di mana rekan satu timnya dapat menaruh kepercayaan untuk memimpin mereka di lapangan.

Tak mengherankan jika ketika dewasa, Darwis (KH Ahmad Dahlan) dapat memimpin Muhammadiyah yang telah ia dirikan pada tahun 1912 masih terus eksis. Strategi dan kerja sama, merupakan dua hal yang dibangun bersama dalam tim.

Hingga saat ini pun, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi dengan kepemimpinan secara kolegial. Kepemimpinan model ini tidak menonjolkan kharisma seseorang, melainkan dengan kerja sama dan mencari titik temu jika terjadi perbedaan di antara para pemimpin.

Masyarakat pun akan lebih mengenal amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya, daripada nama pemimpinnya.

KH Abdurrahman Wahid

Gus Dur, sapaan akrab presiden keempat Republik Indonesia ini, merupakan sosok pengamat sepak bola yang brilian. Kejelian dan ketelitian dalam menganalisa sepak bola tak ada yang bisa menyangkal.

Meski lahir dari kalangan pesantren, justru hal tersebut mampu menyalurkan hobinya. Terlebih dengan banyaknya santri yang juga turut gemar bermain sepak bola. Ada sebuah kisah menarik dari Gus Dur dan sepak bola.

Baca Juga:  Bukan Nasab yang Menyelamatkanmu tapi Amal Soleh dan RidhoNya

Saat kecil, teman-temannya kerapkali memergoki Gus Dur absen dari pelajaran di kelas hanya karena ia ingin bermain di luar kelas. Sorenya sebelum mengaji bersama kakeknya, Gus Dur dengan teman sebayanya bermain sepak bola di pekarangan pesantren.

Gus Dur memiliki kegemaran membaca buku. Segala disiplin keilmuan, mulai dari agama, filsafat, sastra pun dibacanya. Buku catur dan sepak bola pun tidak luput dari koleksinya.

Gus Dur juga sering mengungkapkan analisis opininya tentang sepak bola di media massa. Hasilnya tulisan-tulisan tentang sepak bola bertebaran di media nasional.

Buku Gus Dur dan Sepak Bola (2014), terbitan Imtiyaz merupakan bentuk apresiasi bagi Gus Dur sebagai seorang pengamat sepak bola sekaligus kolomnis sepak bola.

Dalam konteks sistem demokrasi, Gus Dur telah menganalogikan bahwa demokrasi itu bagaikan bola.

“Bola tidak harus langsung ditembak ke gawang lawan, tetapi juga harus dikejar, direbut, di-dribble, dijadikan passing pendek, diolah dalam kombinasi dan kerja sama tim dimainkan dalam tempo yang tidak selalu sama.” 

KH Muhammad Quraish Shihab

Habib Quraish lahir dan tumbuh di lingkungan yang kental dengan pendidikan agama. Sebagaimana anak-anak muda lainnya, jiwa fanatisme juga menjangkiti Habib Quraish. Habib Quraish Shihab merupakan seorang penggemar setia Los Blancos, Real Madrid. Sosok yang diidolakannya ialah Alfredo de Stefano dan Klub Real Madrid.

Hal tersebut ditulisnya dalam buku yang berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab (2015) terbitan Lentera hati.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa ketika sedang menempuh Pendidikan di Mesir, ia pernah menyisihkan uang tabungannya demi menyaksikan tim jagongannya ketika tandang ke Mesir.

Ia dengan penuh antusias menyaksikan Alfredo Di Stefao, peraih Ballon d’Or tahun 1957 dan 1959 itu. Kala itu, tim Real Madrid sedang melakukan uji coba dengan klub lokal Al Zamayek.

Ada sebuah fakta mencengangkan juga mengenai Habib Quraish Shihab. Ketika masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, ia juga pernah bergabung dengan klub sepak bola Zamalek.

Ia juga sering bermain bola bersama mahasiswa Indonesia lainnya, di antaranya adalah Abdullah Zarkasy (pengasuh Pondok Modern Gontor) dan Mustofa Bisri (Gus Mus).

Baca Juga:  Menghina Agama Lain dalam Islam, Apakah di Perbolehkan? Yuk Pahami

KH Mustofa Bisri

Seperti yang telah di sebutkan di atas, Gus Mus merupakan kawan Gus Dur dan Habib Quraish sejak di Mesir dulu. Sejak nyantri, Gus Mus memang dikenal memiliki kemampuan menjebol gawang lawan. Ia mengaku sempat bermain untuk PSIM Yogyakarta–saat nyantri di Krapyak–sebagai playmaker.

Di tim sepak bola Bu’uts, ia bersama Syukri dan Nunung jadi trisula di bagian depan. “Dulu posisi dan gocekan saya itu mirip Lionel Messi, tidak ada yang mengalahkan,” klaim Gus Mus.

Selepas tim Bu’uts bermain, biasanya Gus Dur menganalisa pertandingan. Gus Dur bilang, dirinya kadang terlalu lama menggiring bola. “Saya bilang ke dia, sampean saja yang masuk ke lapangan, jangan analisa saja ha-ha.

Tim Bu’uts ini dilatih pelatih asal Afrika. Gus Mus ingat latihannya diadakan tiap Jumat. Lawan-lawan mereka cukup berat. Selain tim-tim dari Mesir dan Afrika, terkadang mereka menghadapi dari Asia juga, termasuk Malaysia dan Thailand. “Saya sempat ditawar tiga klub Mesir jadi pemain profesional, tapi saya tidak mau.”

Dari uji tanding sepak bola itu Gus Mus dapat uang saku tambahan. Karena uang beasiswanya yang hanya 8 Pound Mesir per bulan ia nilai tak cukup.

Ia pun harus mengatur uangnya secara ketat. Apalagi dirinya bisa menghabiskan sebanyak 6 Pound Mesir hanya untuk rokok saja. “Merek rokoknya Cleopatra, enak seperti kretek,” ujarnya.

Sebab itu ia memburu hadiah dari pertandingan bola agar bisa tetap beli rokok. Jumlah hadiahnya cukup lumayan: 10 Pound Mesir. Tapi dibagi-bagi dengan tim.

Tentunya, masih banyak lagi kyai yang menjadi penggemar sepak bola. Namun kami cukupkan sampai di sini.

Mohammad Mufid Muwaffaq