Macam-macam Shalat Sunnah Muakkad dan Rawatib

macam Shalat Sunnah Muakkad dan Rawatib

Pecihitam.org – Shalat-shalat sunnah dalam Islam sangat banyak, sehingga tidak terbatas hitungannya. Apabila ditelusuri dalam kitab-kitab fiqh yang panjang lebar maka akan didapatkan berbagai jenis shalat sunnah yang sangat banyak. Jika seorang muslim mengerjakan semua jenis shalat sunnah itu maka ia akan sibuk seluruh waktunya dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kendatipun demikian, semua macam shalat sunnah itu mendapat pahala apabila dikerjakan. Dalam artikel kecil ini, saya hanya ingin membahas mengenai shalat-shalat sunnah muakkad dan sunnah rawatib saja.

Kedua macam shalat sunnah muakkad dan rawatib tersebut saya uraikan dalam tiga bagian:

1. Shalat Sunnah Muakkadah

Shalat-shalat sunnah ini sudah menyerupai dengan shalat wajib dari segi sangat di anjurkan, dianjurkan secara berjamaah dan sangat banyak kelebihannya. Adapun shalat-shalat sunnah ini ada lima macam:

  1. Shalat Idul Fitri
  2. Shalat idul adha
  3. Shalat gerhana matahari
  4. Shalat gerhana bulan
  5. Shalat istisqa’ (meminta hujan).

Semua shalat tersebut adalah shalat sunnah muakkad yang lebih ditekankan daripada shalat-shalat sunnah lainnya karena dikerjakan secara independen dan berjamaah.

2. Shalat sunnah rawatib

Shalat sunah rawatib adalah shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu lima waktu, baik sebelum shalat fardhu yang disebut sunnah qabliyah atau sesudahnya yang disebut sunnah ba’diyah.

Shalat sunnah rawatib ada sebagian sunnah muakkadah dan sebagian lain ghairu muakkadah. Adapun shalat sunnah rawatib yang muakkadah ada 10 rakaat:

  1. Dua rakaat sebelum shalat Subuh
  2. Dua rakaat sebelum shalat Dhuhur
  3. Dua rakaat setelah shalat Dhuhur
  4. Dua rakaat setelah shalat Magrib
  5. Dua rakaat setelah shalat Isya
Baca Juga:  Hukum Membasuh Tangan Sebelum Wudhu, Ini Ragam Pendapat Ulama

Sepuluh rakaat shalat sunnah rawatib muakkadah itu adalah berdasarkan hadis Ibnu Umar:

حفظت من النبي صلى الله عليه وسلم عشر ركعات: ركعتين قبل الظهر وركعتين بعدها وركعتين بعد المغرب في بيته، وركعتين بعد العشاء في بيته، وركعتين قبل الصبح. رواه الشيخان

“Saya hafal dari Nabi saw. 10 rakaat: dua rakaat sebelum shalat Zuhur, dua rakaat setelah shalat Zuhur, dua rakaat setelah shalat Magrib di rumah, dua rakaat setelah shalat Isya di rumah dan dua rakaat sebelum shalat Subuh”.

Sedangkan shalat sunnah rawatib yang ghairu muakkadah (tidak dikuatkan) ada 12 rakaat:

  1. Dua rakaat sebelum shalat Zuhur
  2. Dua rakaat sesudah shalat Zuhur
  3. Empat rakaat sebelum shalat Asar
  4. Dua rakaat sebelum shalat Magrib
  5. Dua rakaat sebelum shalat Isya

Semua shalat sunnah rawatib yang ghairu muakkadah itu adalah berdasarkan petunjuk-petunjuk hadis Nabi saw., yaitu:

من حافظ على أربع ركعات قبل الظهر واربع بعدها حرّمه الله على النار. رواه أصحاب السنن

“barangsiapa mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat Zuhur dan empat rakaat setelahnya maka Allah mengharamkannya kekal dalam neraka”.

رحم الله امرأ صلى قبل العصر اربعا. رواه ابو داود والترمذي

“Mudah-mudahan Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat Asar”.

صلّوا قبل المغرب ركعتين. رواه البخاري وابو داود

“Shalatlah kalian sebelum shalat Magrib dua rakaat”.

بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة ثم قال في الثالثة لمن شاء. رواه الخمسة

“Antara tiap-tiap dua azan ada shalat, antara tiap-tiap dua azan ada shalat, kemudian berkata pada yang ketiga kalinya bagi siapa yang mau”.

Baca Juga:  Perkawinan Beda Agama dalam Pandangan Islam

Maksud dua azan dalam hadis adalah azan dan iqamah.

Setelah mengerjakan shalat sunnah rawatib ba’diyah Isya maka sangat disunnahkan juga mengerjakan shalat sunnah witir. Sekurang-kurangnya adalah satu rakaat, dan sebanyak-banyaknya adalah 11 rakaat. Dalil yang menunjukkan tentang ini adalah hadis Nabi saw.:

الوتر حقّ على كل مسلم فمن احب ان  يوتر بخمس فليفعل ومن احب ان يوتر بثلاث فليفعل ومن احب ان يوتر بواحدة فليفعل. رواه ابو داود والنسائي

“Shalat witir berhak atas setiap individu muslim, maka barangsiapa ingin mengerjakan shalat witir 5 rakaat maka kerjakanlah, barangsiapa ingin mengerjakan shalat witir 3 rakaat maka kerjakanlah dan barangsiapa ingin mengerjakan shalat witir 1 rakaat maka kerjakanlah”.

3. Shalat sunah muakkadah tambahan

Selain shalat sunnah rawatib dan shalat sunah muakkadah di  atas ada lagi shalat sunnah muakkadah sebagai shalat tambahan dari shalat fardhu. Shalat-shalat tersebut ada tiga shalat, yaitu:

Shalat malam (shalat tahajjud)

Dalil yang menunjukkan atas sunah mengerjakan shalat malam adalah sabda Nabi saw:

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل. رواه الخمسة الا البخاري

“Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”.

Shalat malam adalah shalat yang dikerjakan sebelum tidur atau setelah tidur, tetapi yang lebih dikuatkan adalah setelah tidur. Shalat malam ini dinamakan juga shalat tahajjud. Adapun jumlah rakaatnya tidak ada batas.

Shalat dhuha

Waktu mengerjakan shalat dhuha adalah saat matahari telah terbit ukuran tinggi  satu tongkat pada pandangan mata hingga matahari tergelincir. Jumlah rakaatnya paling sedikit adalah dua rakaat dan sebanyak-banyaknya adalah delapan rakaat. Dalil yang menunjukkan tentang shalat dhuha adalah hadis Nabi saw.:

Baca Juga:  Hukum Menggunakan Gratisan Internet, Begini Pendapat Ulama

يصبح على كل سلامي من احدكم صدقة فكل تسبيحة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وكل تكبيرة صدقة وامر بالمعروف صدقة ونهى عن المنكر صدقة ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى. رواه مسلم وابو ذاود

“tiap-tiap tulang jari salah seorang kamu bisa menjadi sadaqah, maka tiap-tiap tasbih sadaqah, tiap-tiap tahmid sadaqah, tiap-tiap tahlil sadaqah, tiap-tiap takbir sadaqah, memerintahkan dengan yang baik adalah sadaqah, mencegah mungkar adalah sadaqah, dan semua itu dicukupkan dengan dua rakaat shalat dhuha”.

Shalat tarawih

Dinamakan shalat qiyamu ramadhan, waktunya seperti waktu shalat witir, yaitu antara shalat Isya dan shalat Subuh. Jumlah rakaatnya adalah 20 rakaat menurut Mazhab Empat. Dalil tentang ini adalah hadis Bahaqi:

انهم كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب في شهر رمضان بعشرين ركعة

“Mereka pada masa Umar bin Khatthab mengerjakan shalat qiyamu ramadhan 20 rakaat”.

Demikian uraian fiqh ringkas tentang shalat-shalat sunnah muakkad dan sunnah rawatib berdasarkan Mazhab Syafii. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *