Macam-macam Takdir Sejak 50.000 Tahun Sebelum Penciptaan Langit dan Bumi

macam macam takdir

Pecihitam.org – Rukun iman yang kelima adalah iman kepada qadha dan qadar yang berarti percaya dengan segenap hati bahwa apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan belum terjadi di seluruh alam semesta ini semua merupakan ketetapan Allah Swt. Qadha dan Qadar sering disebut juga dengan takdir. Secara umum, menurut para ulama ada dua macam takdir yaitu takdir mu’allaq dan takdir mubram.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

  • Takdir mubram adalah takdir Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari kejadiannya.
  • Takdir mu’allaq adalah takdir yang berkaitan dengan usaha dan ikhtiar makhluk-Nya.

Akan tetapi, sebagian ulama juga berpendapat bahwa pembagian takdir menjadi takdir mu’allaq dan takdir mubram tidak aplikatif dan rancu karena beberapa terdapat dalil yang bertentangan.

Misalnya, sebagian dalil Al-Qur’an dan hadits mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz dan pena yang mencatatnya telah kering sehingga tak mungkin berubah.

Namun dalil lain menegaskan bahwa doa dapat mengubah takdir, demikian juga silaturahim dapat memperpanjang umur dari waktu yang telah ditentukan.

Ini mengisyaratkan bahwa ikhtiar manusia punya andil besar dalam menentukan jalan takdir yang akan ia tempuh. Lantas bagaimana sebenarnya takdir itu?

Sebenarnya, kerumitan dan kerancuan tersebut terjadi akibat ketiga pandangan ini dicampur menjadi satu. Padahal, semua kerumitan diatas akan mudah dipahami apabila kita melihat takdir dari tiga perspektif yang berbeda.

Oleh karenanya, agar tidak menimbulkan kerancuan, sebagian ulama berpendapat bahwa takdir dapat dilihat dari tiga macam sudut pandang yaitu sudut pandang Allah, sudut pandang malaikat, dan sudut pandang manusia.

Daftar Pembahasan:

1. Takdir dari sudut pandang Allah.

Dari sudut pandang Allah Swt, hanya terdapat satu macam takdir yaitu takdir mubram atau takdir azali, yakni segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah sejak lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa,

Baca Juga:  Sejarah Tahlilan Ternyata Sudah Ada Sejak Dahulu di Mekkah dan Madinah

“Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Dalam perspektif Allah ini, seluruh takdir (qadha) adalah mubram tanpa kecuali. Seluruhnya telah diketahui sebelumnya dan akan berubah menjadi kenyataan (qadar) pada waktunya.

Sisi inilah yang tak mungkin mengalami perubahan sama sekali, sebab jika ada perubahan di level ini sama saja kita menganggap adanya hal-hal yang tidak diketahui Allah. Ketidaktahuan Allah ini adalah sifat yang mustahil adanya.

Al-Qur’an, hadits dan dalil-dalil rasional telah memastikan bahwa Allah Maha Mengetahui. Tak ada satu pun kejadian, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang tak Allah ketahui. Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. al-An’am: 59)

2. Takdir dari Sudut Pandang Malaikat.

Dari sudut pandang malaikat, terdapat dua macam takdir yaitu takdir setiap manusia yang tercatat di Lauh Mahfudz ada yang mubram (paten tak bisa berubah) dan ada yang masih mu’allaq (kondisional).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari menjelaskan:

فَالْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ بِالنِّسْبَةِ لِمَا فِي عِلْمِ الْمَلَكِ وَمَا فِي أُمِّ الْكِتَابِ هُوَ الَّذِي فِي عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا مَحْوَ فِيهِ أَلْبَتَّةَ وَيُقَالُ لَهُ الْقَضَاءُ الْمُبْرَمُ وَيُقَالُ لِلْأَوَّلِ الْقَضَاءُ الْمُعَلَّقُ

Baca Juga:  Bukan 25, Ternyata Jumlah Nabi 124.000 dan Rasul 313, Ini Buktinya

“Penghapusan dan penetapan takdir itu adalah dalam perspektif apa yang diketahui para malaikat dan apa yang tercatat di Lauh Mahfudz (Ummul Kitab). Adapun dalam pengetahuan Allah, maka tak ada penghapusan sama sekali. Pengetahuan Allah ini disebut takdir mubram, dan pengetahuan malaikat itu disebut takdir mu’allaq.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz X, halaman 416)

Para Malaikat mempunyai tugas yang beragam, sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan mereka. Ada malaikat yang bertugas terkait dengan rezeki, amal, ajal dan celaka dan bahagia manusia. Dan, masih banyak sekali jumlah malaikat yang info tentang tugasnya tak sampai pada kita.

3. Takdir dari Sudut Pandang Manusia.

Bila malaikat bisa melihat takdir dari sisi yang mubram dan mu’allaq, manusia hanya sepenuhnya bisa mengetahui sisi mu’allaq saja apabila belum tiba waktu kejadiannya. Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

وَأَنَّ الَّذِي سَبَقَ فِي عِلْمِ اللَّهِ لَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَتَبَدَّلُ وَأَنَّ الَّذِي يَجُوزُ عَلَيْهِ التَّغْيِيرُ وَالتَّبْدِيلُ مَا يَبْدُو لِلنَّاسِ مِنْ عَمَلِ الْعَامِلِ وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَتَعَلَّقَ ذَلِكَ بِمَا فِي عِلْمِ الْحَفَظَةِ وَالْمُوَكَّلِينَ بِالْآدَمِيِّ فَيَقَعُ فِيهِ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ كَالزِّيَادَةِ فِي الْعُمُرِ وَالنَّقْصِ وَأَمَّا مَا فِي عِلْمِ اللَّهِ فَلَا مَحْوَ فِيهِ وَلَا إِثْبَاتَ

“Sesungguhnya yang telah diketahui Allah itu sama sekali tak berubah dan berganti. Yang bisa berubah dan berganti adalah perbuatan seseorang yang tampak bagi manusia dan yang tampak bagi para malaikat penjaga (Hafadhah) dan yang ditugasi berinteraksi dengan manusia (al-Muwakkilin). Maka dalam hal inilah terjadi penetapan dan penghapusan takdir, semisal tentang bertambahnya umur atau berkurangnya. Adapun dalam ilmu Allah, maka tak ada penghapusan atau penetapan.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz XI, halaman 488).

Manusia hanya bisa mengetahui takdir mubram yang menimpanya hanya saat suatu hal sudah terjadi. Misalnya, hal-hal yang berhubungan dengan umur. Manusia bisa tahu umur seseorang telah mubram hanya ketika orang itu sudah positif meninggal.

Baca Juga:  3 Golongan Hamba yang Akan Dimurkai oleh Allah pada Hari Kiamat

Apabila seseorang masih hidup, maka usia yang dimiliki masih sepenuhnya terlihat mu’allaq sehingga ia dituntut untuk menjaga diri. Manusia dilarang bunuh diri atau melakukan hal yang mencelakakan jiwanya yang membuat usianya menjadi pendek. Demikian juga, ia dituntut untuk hidup sehat dan menjaga diri sehingga usianya bisa semakin panjang (dalam perspektif manusia). Kaidah yang sama berlaku pada segala hal lainnya.

Dengan memahami sudut pandang ini, semoga kebingungan tentang takdir cukup terjawab. Seorang muslim yang beriman harus yakin bahwa segala hal sudah ditetapkan oleh Allah sejak dulu dan pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya.

Selain itu, manusia juga tak boleh berdiam diri dan menjadikan takdir sebagai alasan sebab ia tak tahu apa takdirnya. Yang wajib dilakukan oleh manusia adalah berusaha yang terbaik guna menyambut masa depannya. Baik masa depan di dunia maupun masa depan di akhirat. Rasulullah Saw bersabda;

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Berusahalah, semua akan dimudahkan.” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik