Masya Allah!! Akhwat Ini Meninggalkan Salafi Wahabi, Ini Alasannya

Pecihitam.org – Alhamdulillah dulu saya seperti saudara2 salafi yang lain aktif mengikuti pengajian2 di ma’had2 salafi di jakarta… merasa diri saya sudah sangat sesuai dengan ajaran Rasulullah dengan syariat yang murni dan berlandaskan hadits shahih dan kompeten terhadap dakwah tauhid dan sunnah…ketika melihat kalangan yang maulid, hati saya seakan ada sesuatu yang berkata ‘dia ahlul bid’ah’ kadang berdoa mudah2an dia di beri hidayah 🙂 .

Pada awalnya indah tetapi lama kelamaan makin banyak tanda tanya yang muncul didalam pikiran saya… memang ada sih kajian2 yang menarik tetapi tak jarang ada kajian2 membahas ikhtilaf, saya bertanya kok semangat membahas masalah khilafiyyah dan menghakimi orang yg berbeda?

Dan selanjutnya melempar tuduhan yang sinis, pikir saya kenapa ajaran ini selalu membahas masalah ikhtilaf, menuding kelompok yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan tuduhan ahlul bid’ah, musyrik, khurafat, taghut, hizbi, tahayul?

Saya bertanya kenapa syiah begitu di musuhi? kenapa seperti sinis kepada habib2? kenapa sinis kepada yang hobi maulid dan tahlil?

Saya bertanya2 sendiri dan mencoba mencari jawabannya sendiri, akhirnya saya tau alasan kenapa memusuhi pemahaman syiah saya pikir oh iya benar ternyata pemahaman syiah keliru, pertanyaan pertama saya sudah terjawab.

Etalase

Lalu muncul lagi pertanyaan lain kenapa memusuhi dan seperti sinis terhadap ulama2 dari kalangan habib? Saya coba mencari jawaban sendiri, apa benar habib2 mengajarkan orang untuk musyrik, menyembah kubur dll?? Saya coba cari jawabannya sendiri, pada waktu itu saya masih dipihak yang meragukan status habib, lalu saya silaturrahim kebeberapa orang habib dan syarifah di inbox fb dan di Dunia nyata, dan menemukan jawabannya sendiri, rata2 mereka memperlakukan saya dengan menghargai saya, lembut, sopan, penuh tata krama, penuh keikhlasan, hati saya bergidik, subhanallah kenapa mereka lembut2?

Baca Juga:  Felix Siauw: Khilafah Harus Tegak, Pemerintah Merendahkan Ulama dan Menjual Negeri

Saya melempar pertanyaan2 yang kritis tetapi mereka menjawab seperti menjawab pertanyaan anak kandung mereka sendiri, rata2 seperti itu, hati saya terkesima, kenapa saya menemukan sesuatu yang berbeda pada diri mereka? bahkan sebelum berbicara pun saya merasakan sesuatu yang berbeda, tenang, sejuk, lembut, susah di ceritakan 🙂

Hati saya bergidik lagi mungkin mereka benar2 keturunan Rasulullah, didalam tubuh mereka mengalir darah Rasulullah.

Setelah itu saya masih aktif di pengajian salafi sampai pada akhirnya mereka membahas habib lagi, batin saya seakan berontak dan menolak semua ucapan sang ustadz, ingin rasanya saya berteriak “tidakkkkkkkkkkkkkkk apa yang kau katakan tidak benarrrrrrrr” tetapi apalah daya semua hanya terpendam dihati.

Baca Juga:  Karena Hadir di Majelis Sholawat, Wahabi Ini Akhirnya Bertaubat

Penuturan demi penuturan yang diucapan sang ustadz dalam membahas ‘habib’ semakin membuat hati ini tidak tenteram, saya keluar berpura2 kekamar kecil masuk dan mengunci pintu kamar kecil, saya menangis tak tahu kenapa saya keluar kamar kecil dan tidak berniat mengikuti pengajian lagi, pulang ke rumah dengan air mata yang berlinang, saya tidak tahu kenapa menangis tetapi batin saya seakan tidak terima atas pembahasan sang ustadz yang menyudutkan para habib.

Hari berganti minggu2 berikutnya saya masih sering hadir di pengajian salafi seperti biasa tetapi juga dihari lain menyempatkan diri mengikuti pengajian2 yang di laksanakan habib2,, di Majelis Rasulullah, Nurul Musthofa, Al Anwar, Ustadzah Halimah Alaydrus, Majelis Nisa, Petamburan, dan lain lain.

Hati saya tidak bisa berdusta, saya merasa jauh lebih merasa nyaman di majelis aswaja. betapa bahagia ketika mengikuti maulid, saat2 qiyam ada rasa rindu yang membara kepada Rasul yang tidak bisa diungkapan

Baca Juga:  Begini Strategi Dakwah Wali Songo Dalam Islamisasi Di Jawa

Sekarang sudah satu tahun lebih saya tidak pernah lagi mengikuti pengajian salafi manapun,saya hanya aktif di pengajian aswaja.

Puncak penolakan saya terhadap pemahaman salafi ketika salafi beranggapan bahwa kedua orang tua Rasulullah masuk neraka, batin saya menolak sekeras-kerasnya “tidakkkkkkkk” seakan teriakan yang membelah langit, saya tidak terima jika kedua orang tua Nabi Saya dianggap masuk neraka 🙂

  • Hati saya bertanya dan bertanya sendiri:
  • kenapa melarang tabarruk di makam nabi ?
  • kenapa melarang orang bergembira atas kelahiran nabi ?
  • kenapa melarang orang tawassul kepada nabi ?
  • kenapa melarang orang membuat syair pujian kepada nabi sebagai ekspresi ungkapan rasa cinta mereka??
  • kenapa peninggalan2 nabi seperti rumah nabi di saudi seakan tidak terawat?
  • kenapa seperti sinis kepada keturunan nabi?
  • kenapa menganggap kedua orang tua Rasul masuk neraka?

Saya menolak pemahaman ini, ini bukan cinta nabi tetapi seperti ‘memusuhi nabi’

Wallahu a’lam, semoga Allah mengampuni hamba..

Oleh : Akhwat Sunni Salafiyyin
Sumber: Generasi Salaf

2 comments

  1. Ami Reply

    Sebenarnya ia hanya belum tau ilmunya saja bahwa perkataan Allah dan rasulnya harus dan wajib di dahulukan daripada kenyamanan hatinya yang itu hanyalah tipu daya syetan

  2. zainuddin kurniawan Reply

    Masya Allah , Allah telah membimbing di jalan yg haq, dg taufik n hidayahNYA, smg kita yg mencintai AHMAD RASULALLAH , MUHAMMAD RASULALLAH SAW beserta Keluarga n Sahabatnx , akan mendptkan safaatnx di yaumil kiamah , aammiin Allahumma aammiin !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *