Mengenal Konsep Ma’rifah dalam Dunia Tasawuf

Mengenal Konsep Ma’rifah dalam Dunia Tasawuf

Pecihitam.org – Sebagai Masyarakat yang mendalami Tasawuf pastinya akan terus membenahi diri sampai pada tingkat Ma’rifah. Dan itu karena tingkat Ma’rifah sendiri dipandang sebagai tingkatan tertinggi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perlu diketahui bahwa Ma’rifah, dari segi bahasa berasal dari kata Arafa, ya’rifu, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman (IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, hlm. 122). Namun adapula yang mengartikan Ma’rifah sebagai ilmu yang berada pada tingkatan tertinggi dalam dunia tasawuf.

Itulah mengapa orang orang yang bergelut pada dunia tasawuf akan beranggapan bahwa Ma’rifah adalah pengetahuan mengenai Tuhan melalui sanubari atau pengetahuan yang objeknya bukan pada hal hal yang berzifat Zahir melainkan lebih mendalam lagi terhadap Batin-nya dengan mengetahui rahasianya. Dan tentu hal ini didasari bahwa pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan, dan hakikat itu satu, dan segala yang maujud berasal dari yang satu. (Jamil Saliba, Mu’jam Al Falsafi, jilid II, hlm. 72)

Maka tak heran jikalau para sufi mengatakan “Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka kepalanya akan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah Swt”

Ma’rifah adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Yang dilihat orang arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah

Baca Juga:  Badiuzzaman Said Nursi, Tokoh Pembaharu Islam Turki

Sekiranya ma’rifah mengambil dalam bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan dan keindahannya, dan semua cahaya akan gelap disamping cahaya keindahan yang gilang gemilang (Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam, cet iii, hlm. 75-76)

Pertanyaannya kemudian ialah, apakah konsep Mahabbah (Konsep Cinta kepada Tuhan) dan Konsep Ma’rifah berada dalam satu tingkatan atau bagaimana?

Tentu, para sufisme berbeda beda pendapat dalam hal ini. seperti yang dinyatakan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Al Din memandang Ma’rifah datang sebelum Mahabbah, sedangkan Al Kalabazi malah menjelaskan bahwa Ma’rifah datang sesudah Mahabbah.

Bahkan adapula yang beranggapan bahwa Ma’rifah dan Mahabbah berada dalam satu tingkatan atau dua kembaran yang selalu disebut berbarengan.

Selain itu, dalam memahami Konsep Ma’rifah tentu kita memerlukan alat, dimana alat yang dimaksud sangat berperan penting sebagai orang yang memang ingin menggeluti dunia Tasawuf. Dan alatnya ialah Qalb (Hati) namun hati yang dimaksud bukan hanya sekedar merasa tetapi juga untuk berpikir. Sehingga Qalb disini tidak semakna dengan Heart dalam bahasa inggris. Atau hati dalam pengertian secara umumnya yang hanya terpaku pada persoalan perasaan.

Baca Juga:  Tasawuf serta Hubungannya dengan Disiplin Ilmu Filsafat dan Psikologi

Lantas apa bedanya Qalb dengan akal jikalau Qalb diartikan selain dapat merasa pun dapat berpikir?

Bedanya ialah akal tak bisa mengetahui atau memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedangkan Qalb bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada, bahkan jika dilimpahi cahaya Tuhan tentu diapun bisa mengetahui rahasia rahasia Tuhan.

Sehingga dari sampainya Qalb pada cahaya Tuhan akan dikenal dengan konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Dimana ketiga konsep ini saling berkaitan dan berurutan. Dimana Takhalli yaitu mengosongkan diri Dari Akhlak tercela, kemudian mengisi diri dengan akhlak aklhak mulia yang dinamakan dengan Tahalli dan barulah kita mengenal konsep Tajalli yakni terbukanya Hijab sehingga jelas cahaya Tuhan.

Mengenai Tajalli lebih lanjut dijelaskan dalam Kitab Isan al Kamil dalam buku Mustafa Zahri, kunci memahami Tasawuf, cet. I, hlm. 246:

Tajalli Allah Swt dalam perbuatannya, ialah ibarat daripada penglihatan dimana seorang hamba Allah melihat pada-Nya berlaku kudrat Allah pada sesuatu. Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah perbuatan seorang hamba, gerak dan diam serta isbat adalah bagi Allah semata mata.

Sedangkan kalau kita menoleh akan tokoh tokoh pengembangnya, jelas kita akan menemukan dua nama yang cukup Familiar seperti Al Ghazali atau yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Al Ghazali yang lahir pada tahun 1059 M di Ghazale. Dan dikenal pula Zun al Nun Al Misri yang berasal dari kota Naubah yang wafat sekitaran 860 M.

Baca Juga:  Mengenal Madzhab Tasawuf; Akhlaqi, Amali dan Sunni

Dalam pengertian Ma’rifah, Al Ghazali mengatakan Memandang wajah Allah. Sedangkan Zun al Nun Al Misri mengatakan bahwa Ma’rifah adaah pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Bahkan ketika Zun al Nun Al Misri ditanya tentang bagaimana ia memperoleh Ma’rifah tentang Tuhan ia menjawab “Aku Mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku akan tahu Tuhan

Sehingga dari ungkapan ini menandakan bahwa Ma’rifah tidak didapatkan begitu saja melainkan adanya Rahmat Tuhan atau pemberian Tuhan.

Sumber Referensi:
Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.