Mengenal Muqatil bin Sulaiman dan Karya-karyanya

Mengenal Muqatil bin Sulaiman dan Karya-karyanya

PeciHitam.org – Salah satu tokoh tafsir awal yang karyanya dapat dijumpai utuh saat ini dan sering menggunakan metode ta’wil adalah Muqatil bin Sulaiman. Ia merupakan salah satu mufasir awal, sehingga pemikirannya dapat memotret dinamika penafsiran di masa awal terbentuknya Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam penafsirannya, Muqatil tidak hanya fokus pada makna tersurat, tetapi juga arti yang tersirat. Ini diperkuat dengan karya khusus yang ditulisnya berjudul al-Wujuh wa al-Naza’ir. Ia juga mengelaborasi karya tafsirnya dengan sumber-sumber israiliyat dari ahl al-kitab.

Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Muqatil bin Sulaiman bin Bashir. Ia lahir di daerah Balkhi, Khurasan, kemudian hijrah ke Basrah dan Baghdad. Sebagaimana diketahui, di kota tersebut telah banyak berkembang agama dan kepercayaan terdahulu seperti agama Kristen.

Kota tersebut juga merekam banyak dialektika pemikiran filsafat Yunani dan kebijaksanaan dari Persia. Lingkungan tersebut turut berperan dalam membentuk horizon intelektual Muqatil, khususnya dalam memahami al-Quran.

Di dalam tafsirnya, Muqatil banyak mengambil hadis dari Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Abi Ishaq al-Sabi’i, al-Dhihak bin Muzahim dan Muhammad bin Muslim al-Zuhri. Meski demikian, ulama berbeda pendapat seputar kredibilitas Muqatil.

Baca Juga:  Inilah Jejak Hidup Seorang Sufi Syekh Zulfiqar Ahmad

Ada yang memuji, tetapi tidak sedikit yang mencaci. Kebanyakan kritik negatif (jarh) terhadapnya menyasar pada kredibilitasnya sebagai seorang ahli hadis, begitupun para ulama memberikan pujian (ta’dil) kepadanya, dalam kapasitasnya sebagai seorang penafsir.

Yahya bin Ma’in menyebut Muqatil sebagai laysa bi tsiqqah (bukan termasuk orang yang kredibel). Sedangkan al-Bukhari menilai Muqatil sebagai perawi hadis yang munkar.

Senada dengan kedua ulama tersebut, al-Nasa’i menyampaikan bahwa ada empat perawi hadis yang dikenal sebagai pendusta dan pembuat hadis palsu, yaitu Ibrahim bin Abi Yahya di Madinah, Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi di Baghdad, Muqatil bin Sulaiman di Khurasan, dan Muhammad bin Sa’id di Syam. Meskipun demikian, secara umum, kritik Muqatil ditujukan karena meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat, sehingga ia dinilai tidak mempunyai kredibilitas dalam periwayatan hadis.

Maqatil sangat jarang dalam penyertaan sanad ketika melakukan pengutipan terhadap riwayat-riwayat israiliyat. Namun, disatu sisi pengutipan riwayat israiliyat dalam tafsir Muqatil sebagai upaya dirinya untuk mengelaborasi informasi-informasi dari ahl al-kitab dalam pemahaman terhadap al-Quran yang justru hal tersebut menjadi salah satu karakteristik yang menonjol dalam tafsir tersebut.

Baca Juga:  Siapa yang Belum Kenal Gus Mus? Seorang Seniman, Budayawan, dan Kyai yang Terkenal Santuy!

Keahlian Muqatil dalam memahami al-Quran juga tidak terlepas dari guru-guru yang membekalinya dalam kajian ilmu-ilmu al-Quran. Di antara gurunya yang terkenal di kalangan tabi’in adalah ‘Atha’ bin Abi Rabah, Ibn Shihab al-Zuhri, Nafi’ Mawla Ibn ‘Umar, ‘Atiyah bin Sa’id al-‘Awfi, ‘Amr bin Shu‘ayb dan Abd Allah bin Buraydah.

Sedangkan beberapa nama yang menjadi murid Muqatil adalah Abd al-Razzaq bin Hammam al-San’ani, Abd Allah bin al-Mubarak, Isma‘il bin ‘Iyash, Sufyan bin Uyaynah, dan al-Walid bin Muslim.

Muqatil wafat di Basrah pada tahun 150 H dengan meninggalkan banyak karya. Di antara beberapa karyanya dikenal adalah al-Tafsir al-Kabir, Nawadir al-Tafsir, al-Nasikh wa al-Mansukh, al-Radd ‘ala al-Qadariyah, al-Wujuh wa al-Naza’ir fi al-Quran, Tafsir Khamsamiah Ayat min al-Quran al-Karim, al-Aqsam wa al-Lughat, dan al-Ayat al-Mutasyabihat.

Baca Juga:  Biografi Hasan al-Basri, Ulama Hadits pada Masa Tabi'in

Dari sekian banyak karya tersebut, setidaknya ada tiga karya utama yang memotret pemikiran Muqatil. Pertama, al-Tafsir al-Kabir. Dalam karyanya ini, Muqatil menggunakan metode tafsir tahlili dengan menjelaskan ayat per ayat berdasarkan tartib mushafi.

Muqatil juga berupaya menjelaskan ayat-ayat al-Quran dengan menggali konteks, yaitu konteks teks dan konteks sejarah. Sehingga tidak hanya sekadar terjebak pada analisis kebahasaan semata.

Mohammad Mufid Muwaffaq