Mengenal Syekh Mahfudz al-Tarmasi dan Karya-karyanya

Mengenal Syekh Mahfudz al-Tarmasi dan Karya-karyanya

PeciHitam.org – Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Manan bin Dipomenggolo al-Tarmasi al-Jawi atau yang biasa disebut Mahfudz al-Tarmasi. Beliau dilahirkan di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, pada tanggal 12 Jumadil Awal 1285 H, yang bertepatan dengan hari Senin, 31 Agustus 1868 M. Beliau wafat di Makkah pada awal bulan Rajab pada malam Senin tahun 1338 H/1920 M pada usia 53 tahun dan dimakamkan di al-Ma’la.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada usia 6 tahun, beliau sudah hafal Al-Quran atas bimbingan dan asuhan ibu dan pamannya. Kemudian ia diajak oleh ayahnya ke Makkah pada tahun 1291 H/1874 M. Di Makkah, ayahnya memperkenalkan beberapa kitab penting kepadanya di antaranya adalah kitab Syarh al-Ghayah li Ibn Qasim al-Ghuzza, al-Manhaj al-Qawim, Fath al-Mu‘in, Fath al-Wahhab, Sharh Sharqawi ‘ala al-Hikam, dan sebagian Tafsir al-Jalalain hingga Surat Yunus.

Pada tahun 1878 M, Mahfudz al-Tarmasi berguru kepada Kyai Muhammad Shaleh Darat. Kyai Shaleh Darat atau yang biasa disebut Mbah Shaleh Darat dalam beberapa referensi disebutkan juga sebagai guru dari RA. Kartini. Di antara kitab-kitab yang dipelajari kepada Kyai Shaleh Darat adalah Syarh al-Hikam (dua kali hatam), Tafsir al-Jalalain (dua kali hatam), Syarh al-Mardini dan Wasilah al-Tullab (kitab yang membahas mengenai ilmu falak).

Baca Juga:  21 Juni Adalah Hari Wafatnya Bung Karno, Inilah Kisah Perjalanan Hidup Sang Proklamator

Pada tahun 1307 H/1889 M, al-Tarmasi kembali menginjakkan kakinya di tanah haram. Selama di Makkah, beliau mendalami benyak disiplin ilmu agama, ia belajar dan mengkaji al-Quran, tafsir, hadis, fikih, ilmu bahasa Arab dan keilmuan Islam lainnya. Salah satu guru yang paling berjasa selama beliau menempuh pendidikan di Makkah ialah Abu Bakr bin Muhammad Shata al-Makki.

Beliau merupakan ayah angkat al-Tarmasi yang banyak membimbing dan memberikan pengaruh besar atas keberhasilannya al-Tarmasi mencapai gelar ulama Nusantara yang berkaliber internasional. Kepadanya al-Tarmasi tidak kurang dari 4 kali menghatamkan Shahih Bukhari, dan tentunya menghabiskan waktu yang cukup lama.

Selain Abu Bakr Shata, Husain al-Habshi dan juga Muhammad Sa‘id al-Hadrami juga mempunyai andil besar dalam menjadikan al-Tarmasi sebagai muhaddis yang tidak hanya menguasai Shahih Bukhari, tetapi juga kutub al-Sittah lainnya, termasuk Syarh Alfiyah al-Suyuti.

Baca Juga:  Gus Dur dan Ketertarikannya dengan Kebudayaan Perancis

Berkat kegigihan dan ketekunan al-Tarmasi menuntut ilmu, ia dikenal oleh banyak ulama Makkah, bahkan diberi kesempatan untuk mengajar di Masjid al-Haram. Posisi ini merupakan posisi yang prestisius, karena tidak semua orang bisa melakukan ataupun mendapatkan ijazah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Al-Tarmasi mengajar di sana sekitar tahun 1894 M.

Di antara ulama Indonesia yang mendapatkan kesempatan serupa untuk mengajar di Masjid al-Haram yaitu Nawawi al-Bantani, Ahmad Khatib al-Minangkabawi (Sumatra Barat), Muhtaram Banyumas (Jawa Tengah), Bakir Banyumas (Jawa Tengah), Asy’ari Bawean (Jawa Timur), dan Abdul Hamid Kudus (Jawa Tengah).

Mahfudz al-Tarmasi yang merupakan salah satu ulama Nusantara di era akhir abad ke-19 yang aktif dan banyak menghasilkan karya dalam bidang berbagai ilmu pengetahuan. Dari sinilah kemudian terbentuk jaringan ulama hadis Nusantara. Beliau menguasai bidang ilmu hadis, fiqih, qiraat dan sebagaimnya.

Baca Juga:  Gus Dur dan Hobi Nyelenehnya Nonton Film

Namun, beliau memiliki perhatian lebih terhadap disiplin hadis dibandingkan dengan Ulama Indonesia lainnya, sehingga menjadikan beliau mendapat julukan sebagai pembangkit ilmu dirayah hadis, khususnya ilmu kritik sanad dan kritik matan hadis.

Karya-karyanya yang monumental, seperti kitab ‘Inayah al-Muftaqir bima Yata’allaq bi Sayyidina al-Khadir yang secara garis besar kitab ini mendiskusikan polemik seputar sosok Nabi Khidir AS, kitab Manhaj Dhawi al-Nazar fi Syarh Manzumah ‘Ilm al-‘Athar yang merupakan kitab ilmu hadis yang menjelaskan bait-baitnya al-Suyuti, dan kitab al-Minhah al-Khairiyyah yang merupakan kitab kumpulan 40 hadis Rasulullah saw, dan lain sebagainya.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Latest posts by Mohammad Mufid Muwaffaq (see all)