Mengenal Tipologi Pesantren ala Buya Husain Muhammad

Mengenal Tipologi Pesantren ala Buya Husain Muhammad

“Pesantren adalah a place where santri live”
(Abdurahman Wahid)

Pecihitam.org – Dalam banyak kesan keumuman, pesantren dipahami merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling klasik, paling ortodoks, tradisional dan konservatif. Sehingga disebut sebagai Kaum Sarungan yang diidentikkan sebagai kaum terbelakang dan ketinggalan.

Namun kenyataanya Pesantren justru menjadi lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih diminati oleh banyak orang.

Akan tetapi dalam beberapa waktu belakangan ini pesantren banyak menarik perhatian banyak pihak apalagi dengan dicetuskannya Hari Santri Oleh Presiden Joko Widodo melalui KEPRES No 22 tahun 2015 lalu. Sehingga Resonansi Santri begitu tinggi dan terus menerus menjadi topik pembicaraan terutama oleh Kaum santri itu sendiri.

Efek dari KEPRES No. 22 tersebut memicu kaum sarungan sedikit demi sedikit muncul ke permukaan dan ada rasa bangga menjadi kaum sarungan. Terlebih kemudian disahkannya UU Pesantren dan dipilihnya Kyai Ma’ruf Amin sebagai Wakilnya Jokowi menjadi Wakil Presiden Indonesia. Hal demikian menjadi pemantik semangat kepada para santri di seluruh Nusantara.

Dalam perjalanannya semenjak berabad-abad yang lalu, Pesantren selalu mengalami perubahan demi perubahan dilatarbelakangi berbagai alasan, seperti halnya pesantren yang kemudian disisipi sekolah formal dari mulai tingkat SLTP, SLTA sampai perguruan tinggi, akan tetapi tanpa sedikitpun menanggalkan intisari pembelajaran Agama dalam pesantren.

Baca Juga:  Bertemu Jodoh Karena Bersin, Kisah Nyata Bukti Jodoh Tak Kemana

Lebih jelasnya Buya Husain Muhammad membagi tipologi Pesantren dalam beberapa jenis.

Pertama, Tipe Pesantren “Tradisional Ketat”.

Tipe ini adalah tipe pesantren tradisional murni, yang materi pelajaran sepenuhnya ilmu-ilmu agama dan dengan menggunakan kitab-kitab klasik (kitab kuning) dan sama sekali tidak mengajarkan keilmuan yang sekuler.

Tingkatan pendidikan dalam pesantren model ini juga berdasarkan materi kitab kuning yang diajarkan. Contohnya seperti tingkatan kelas satu dengan nama kelas ‘awamil kelas dua kelas al-jurumiyah dst.

Pesantren model ini tidak memberikan Ijazah sama sekali. Biasanya model pesantren ini proses pengajarannya dilakukan oleh kiyai atau pengasuh langsung tanpa melalui bantuan ustadz atau santri senior dan umumnya pengajian dilakukan dalam setiap selesai sholat fardu.

Tipe Kedua, adalah model pesantren tradisional terbuka-terbatas.

Pada pesantren model ini juga sepenuhnya mengajarkan keilmuan keagamaan (al ‘Ulum al Diniyyahal Islamiyah), tetapi proses belajarnya sudah menggunakan jenjang seperti sekolah formal dan kurikulumnya sudah mulai tertata rapih.

Tenaga pengajarnya juga selain pengasuh sudah ada bantuan dari santri-santri yang sudah senior yang dipercaya oleh kiyai tentunya. Sama seperti tipe pertama pesantren tipe ini juga tidak mengeluarkan Ijazah.

Baca Juga:  Kitab Gundul, Kurikulum Pesantren yang Tak Lekang Oleh Zaman

Tipe Ketiga, model tradisional-terbuka.

Pesantren model ini terbuka untuk masuknya kurikulum umum (sekuler), tetapi masih terbatas seperti Bahasa Indonesia dan Matematika.

Namun pelajaran umum tersebut masih tetap ditentukan oleh kiyai sendiri, yang bermaksud santri diharapkan memiliki kemampuan ilmu umum minimal yang paling mendasar. Biasanya Sistem pendidikannya menggunakan sistem pendidikan madrasah (klasikal).

Tipe Keempat, model pesantren modern.

Pesantren model ini menyelenggarakan pengajaran dan pendidikan umum secara luas. Pengajaran kitab klasik (kitab kuning) relatif sedikit.

Sistem pendidikan pesantren model ini sepenuhnya mengacu pada kurikulum yang sudah ditentukan oleh pemerintah biasanya Departemen Agama (sekarang Kementrian Agama). Tipe pesantren seperti ini yang mengalami perkembangan yang sangat pesat sampai saat ini.

Tipe Kelima, Pesantren model yang terakhir ini adalah hanya merupakan Asrama sebagai tempat tinggal santri saja.

Pesantren tidak menyelenggarakan madrasah maupun sekolah. Para santri diberikan keleluasaan untuk memilih sendiri pendidikan di madrasah, di sekolah, atau di perguruan tinggi yang ada diluar pesantren.

Baca Juga:  Cerita Santri Bandel Mancing Ikan Di Kolam Kyai

Pendidikan dalam pesantren diberikan diluar jam-jam sekolah atau pendidikan diluar pesantren dalam bentuk Halaqoh, Majelis ta’lim dan pengajian umum yang diikuti oleh seluruh santri baik putra maupun putri dan biasanya juga dengan masyarakat umum.

Pada umumnya tipologi pesantren itu dibagi dalam lima tipe diatas, meskipun sampai saat ini pesantren terus berkembang dan menyesuaikan pada perkembangan zaman contohnya seperti sistem pendidikan pesantren Tahfidz Qur’an dan Enterprenership.

Mungkin kedepannya akan banyak lagi model dan tipologi pesantren yang terus berkembang. Yang pada intinya pesantren terus eksis dan menjadi lembaga pendidikan Islam yang selalu diminati oleh masyarakat Indonesia. Wallahu A’lam. Demikian semoga bermanfaat. Tabik!

Fathur IM
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *