Surah An-Nur Ayat 63-64; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nur Ayat 63-64

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nur Ayat 63-64 ini, menjelaskan sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka. Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya “hai Muhammad ” atau “hai ayah si Qasim.”

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah..

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nur Ayat 63-64

Surah An-Nur Ayat 63
لَّا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Tafsir Jalalain: لَّا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا (Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain) umpamanya kalian mengatakan, “Hai Muhammad!” Tetapi ucapkanlah, “Hai Nabi Allah, hai Rasulullah!” Dengan suara yang lemah lembut dan penuh rendah diri.

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا (Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang diam-diam pergi di antara kalian dengan sembunyi-sembunyi) mereka keluar dari mesjid pada waktu Nabi mengucapkan khutbahnya tanpa terlebih dahulu meminta izin kepadanya, secara diam-diam sambil menyembunyikan diri di balik sesuatu. Huruf Qad di sini menunjukkan makna Tahqiq yang artinya sesungguhnya,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ (maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya merasa takut) menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ (akan ditimpa cobaan) malapetaka أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (atau ditimpa azab yang pedih) di akhirat kelak.

Tafsir Ibnu Katsir: Adh-Dhahhak meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa ia berkata: “Mereka dahulu mengatakan: ‘Hai Muhammad! Hai Abul Qasim!’ Kemudian Allah melarang mereka dari hal itu untuk mengagungkan Nabi-Nya saw. Rasulullah saw. berkata: ‘Katakanlah: Ya NabiyallaH, ya Rasulallah!’” demikian dikatakan oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair. Qatadah berkata: “Allah memerintahkan agar memuliakan, mengagungkan dan meninggikan Nabi-Nya saw.”

Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam berkaitan dengan firman Allah: لَّا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا (“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian [yang lain].”) yaitu janganlah kamu mengira doa beliau atas orang lain seperti doa orang-orang lainnya. Karena doa beliau mustajab.

Hati-hatilah jangan sampai beliau berdoa atas kalian sehingga kalian binasa. Demikianlah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri dan ‘Athiyah al-‘Aufi, wallaHu a’lam.

Firman Allah: قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا (“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung [kepada kawannya].’) Muqatil bin Hayyan berkata: “Mereka adalah kaum munafik, mereka merasa berat mendengarkan khutbah pada hari Jum’ah. Mereka berlindung dibalik para shahabat Nabi untuk keluar dari masjid. Padahal seorang pun tidak boleh keluar masjid pada hari Jum’ah kecuali dengan izin Rasulullah saw. setelah beliau menyampaikan khutbah.

Apabila salah seorang dari mereka ingin keluar, maka ia memberi isyarat dengan jari kepada beliau tanpa berbicara, berulah beliau memberikan izin. Sebab, apabila mereka berbicara sementara beliau sedang berkhutbah, maka batallah Jum’ah-nya.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 52-54; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

As-Suddi berkata: “Dahulu, apabila kaum munafik duduk bersama Rasulullah saw. salam sebuah masjid, sebagian mereka berlindung di balik yang lainnya kemudian menghilang tanpa terlihat oleh beliau.”

Firman Allah: فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ (“Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah-Nya takut.”) yakni perintah Rasulullah saw., yaitu manhajnya, metodenya, sunnahnya dan syariatnya. Semua perkataan dan perbuatan diukur dengan perkataan dan perbuatan beliau. Mana yang bersesuaian dengannya harus diterima dan mana yang bertentangan harus ditolak, siapapun orangnya.

Seperti yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain dan kitab lainnya, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalahnya itu tertolak.”

Yakni hendaklah orang-orang yang menyelisihi syariat Rasulullah saw. lahir maupun batin merasa takut tertimpa fitnah, yakni hati mereka terkena fitnah kekufuran, kemunafikan atau bid’ah. Atau mereka tertimpa adzab yang pedih, yakni di dunia dengan ditegakkannya hukuman dan hudud atau sanksi atau jenis hukuman lainnya. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang lelaki yang menyalakan api. Ketika api itu mulai menerangi sekitarnya, ia membentangkan tikar. Kemudian kupu-kupu dan serangga-serangga yang biasa jatuh ke api berjatuhan ke dalamnya. Lalu lelaki itu berusaha mencegahnya. Namun serangga-serangga itu memperdayanya, lalu masuk ke dalam api. Begitulah perumpamaanku dengan kalian, aku berusaha mencegah kalian dari api seraya berseru, hindarilah api itu! Namun kalian memperdayai aku, lalu kalian masuk ke dalam api.” (HR Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Abdurrazzaq).

Tafsir Kemenag: Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah. Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin oleh Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya. Maka turunlah ayat ini.

Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka. Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya “hai Muhammad ” atau “hai ayah si Qasim.” Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah.

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang. Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu.

Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih. Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.

Tafsir Quraish Shihab: Berusahalah menghormati ajakan rasul kepada kalian untuk berkumpul membicarakan persoalan- persoalan penting. Penuhilah seruan itu. Dan jangan kalian jadikan seruan itu seperti seruan sebagian dari kalian yang boleh diremehkan dan ditinggalkan. Jangan kalian pergi kecuali setelah meminta izin dan mendapat perkenannya.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 32-34; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Itu pun dalam batas-batas yang ketat dan dalam keadaan yang sangat darurat. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa yang pergi tanpa izin dengan sembunyi-sembunyi di antara kerumunan orang yang sulit dilihat oleh rasul.

Hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah Allah takut akan dihukum oleh Allah–karena kemaksiatan mereka–dengan cobaan berat di dunia seperti kekeringan dan gempa bumi, atau siksa pedih yang memilukan yang telah disediakan di akhirat, yaitu neraka.

Surah An-Nur Ayat 64
أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi) sebagai milik, makhluk dan hamba-Nya. قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ (Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kalian) hai orang-orang Mukallaf عَلَيْهِ (berada di dalamnya) apakah kalian beriman atau munafik.

وَ (Dan) Dia mengetahui pula يَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ (hari manusia dikembalikan kepada-Nya) di dalam ungkapan ini terdapat iltifat dari mukhatab ke ghaib. Maksudnya, bila hal itu akan terjadi فَيُنَبِّئُهُم (lalu diterangkan-Nya kepada mereka) pada hari itu بِمَا عَمِلُوا (apa yang telah mereka kerjakan) yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk yang telah mereka perbuat وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ (Dan Allah terhadap segala sesuatu) terhadap semua perbuatan kalian dan selainnya عَلِيمٌ (Maha Mengetahui.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan bahwa Dia lah pemilik langit dan bumi, bahwa Dia mengetahui perkara yang ghaib dan yang nyata. Dia Mahamengetahui apa yang dikerjakan oleh para hambanya, yang rahasia maupun yang nyata.

Allah berfirman: قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ (“Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya [sekarang].”) “qad” di sini berfungsi sebagai tahqiq [penunjuk kepastian]. Seperti dalam bacaan iqamat: qad qaamatish shalaatu qad qaamatish shalaatu.

Firman Allah: قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ (“Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya [sekarang].”) yaitu Dia mengetahui dan menyaksikannya, tidak ada sebiji dzarrah pun yang tersembunyi dari-Nya. dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya: “Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang merek lahirkan.” (Huud: 5)

Firman Allah: وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ (“Dan [mengetahui pada] hari [manusia] dikembalikan kepada-Nya.”) yaitu hari semua manusia dikembalikan kepada Allah, yaitu hari kiamat. Firman Allah: فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا (“Lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu mengabarkan kepada mereka tentang apa saja yang telah mereka lakukan dulu di dunia, berupa perbuatan mulia maupun perbuatan hina, perkara kecil maupun besar. Kemudian Allah berfirman: وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (“Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu”) Walhamdu lillaaHi Rabbil ‘aalamiin Nas-aluHut Tamaam.

Tafsir Kemenag: Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah. Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin oleh Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya. Maka turunlah ayat ini.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 158-162 dan Terjemahannya

Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka. Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya “hai Muhammad ” atau “hai ayah si Qasim.”

Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah. Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang.

Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu.

Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih. Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.

(64) Allah menutup Surah an-Nur ini setelah menerangkan bahwa Dialah Pemberi cahaya bagi langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan memberi petunjuk kepada hamba-Nya dengan perantaraan rasul-rasul-Nya, dan mengancam orang-orang yang melanggar perintah-Nya dengan menegaskan bahwa milik-Nyalah semua yang ada di langit dan di bumi itu dan Dia mengetahui keadaan semua hamba-Nya dan akan memperhitungkan semua amal perbuatan mereka serta membalasnya.

Perbuatan jahat diberi balasan yang setimpal dengan kejahatan yang dikerjakan dan perbuatan baik dibalas dengan berlipat ganda, seperti tersebut dalam firman-Nya:

Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya.

Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudh).(Yunus/10: 61)

Selanjutnya dalam sebuah hadis riwayat ath-thabari dijelaskan sebagai berikut: Diriwayatkan dari `Uqbah bin Amir, “Aku melihat Rasulullah saw di waktu sedang membaca ayat terakhir dari Surah an- Nur ini, beliau meletakkan dua buah jari tangannya di bawah pelupuk matanya dan bersabda: Allah Maha Melihat segala sesuatu.” (Riwayat ath-thabari dan lainnya).

Tafsir Quraish Shihab: Ketahuilah wahai manusia, bahwa hanya Allahlah pemilik kerajaan langit dan bumi beserta isinya. Dia mengetahui kekafiran, ketundukan, kemaksiatan dan ketaatan yang ada pada kalian. Maka janganlah kalian melanggar perintah-Nya.

Semua manusia ketika kembali kepada Allah pada hari kiamat akan diberitahukan segala apa yang mereka lakukan di dunia. Dan Dia akan membalas itu semua. Sebab ilmu Allah meliputi itu semua.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nur Ayat 63-64 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S