Memahami Islam Secara Multi Dimensional untuk Mewujudkan Rahmatan Lil Alamin

islam rahmatan lil alamin

Pecihitam.org – Islam secara semantik berasal dari kata salima yang artinya menyerah, tunduk dan selamat. Islam artinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada hukum-hukum Allah, yaitu hukum alam dan juga hukum akal sehat dan dengan menyerahkan diri kepada hukum-hukum-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim adalah orang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam pengertian menyerah, maka semua mahluk ciptaan Allah pada hakikatnya adalah Islam, yaitu dalam arti tunduk dan menyerah kepada Tuhan sebagai penciptanya, tunduk pada hukum-hukumyang sudah ditetapkan dan berlaku pada dirinya, sebagai sunnatullah yang tidak pernah berubah.

Jika kita renungkan bahwa seluruh mahluk Allah baikyang ada dibumi maupun dilangit mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT,dengan mengikuti sunatullah-Nya. Sebaliknya, jika tidak mau menyerahkan diri kepada Allah, maka dapat diartikan ia jatuh dan menyerahkan diri pada hawa nafsunya, pada egoismenya sendiri, sehingga membawanya tidak selamat dan tidak memeper oleh kedamaian.

Posisi manusia dan juga mahluk Allah yang lainya,dihadapan allah tidaklain kecuali hanya menyerahkan diri kepada-Nya, dan posisi melawan sama sekali berlawanan dengan kodratnya sendiri sebagai ciptaan Allah yang tidak akan mungkin dapat menempatkan dirinya untuk melawan Allah, sebagai penciptanya.

Islam secara doktrin, adalah wahyu Allah, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., dan sudah selesai serta tersusun rapi dalam suatu kitab Al Quran sebanyak 30 juz dan 114 surat, tidak bisa ditambah, maupun dikurangi, bersifat mutlak, tidak berubah sampai kapanpun dan relevan sepanjang masa.

Sebagaimana janji Allah untuk melindungi Al quran  dari perubahan dan kesalahan yang termaktub dalam surat al-hijr ayat 9 :

   إنا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحفظون

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Fungsi Al quran adalah sebagai pedoman hidup bagi manusia dan menjadi hidayah atau petunjuk kebenaran dari Tuhan bagi manusia yang mempercayainya. Adapun fungsi hidayah Al quran bisa terjadi kalau manusia mau memahami dan merenungkan kebenaran ayat-ayat Allah dalam Alquran.

Baca Juga:  Islam di Indonesia, Dari Membela Agama ke Membela Kemanusiaan

Dengan kata lain,fungsi Alquran sebagai pedoman hidup akan terlaksana jika ada pertautan antara al quran dan pikiran. Jikatidak ada pertautan, maka dengan sendirinya Al quran tidak bisa menjadi pedoman hidupnya.

Jika Islam dilihat dari sudut peradaban, maka Islam tidak akan pernah selesai,karena didalam peradaban Islam, selalu ada proses dialektik yang tidak akan pernah selesai,dikarenakan pemahaman manusia yang terus berubah dengan al quran sebagai pedoman hidup yang tidak pernah berubah dan sudah selesai.

Al quran dalam segala bentuknya jumlah ayat-ayatnya adalah sesuatu yang sudah final dan tidak akan berubah sedikitpun. Akan tetapi pemahaman manusia terhadap Al quran dalam berbagai aspek kehidupanya akan terus berubah dan selalu mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman dan tempatnya.

Al quran sebagi doktrin Islam adalah mutlak, tidak berubah, bersifat tetap sepanjang masa, akan tetapi pemahaman manusia terhadap Al quran sebagai doktrin Islam, dalam berbagai aspek kehidupannya , tidak akan pernah mutlak, tetapi relatif dan berubah-ubah.

Hal itu disebabkan karena pemahaman manusia pada hakekatnya tidak pernah menempati posisi yang absolute dan mutlak, pemahaman manusia yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan lurus  terhadap Alquran sebagai doktrin Islam bersifat majemuk, prulal dan beragam.

Berpikir tentang Islam yang dilakukan secara parsial, akan membuahkan pemikiran yang sempit , seakan-akan kebenaran Islam yang bersifat universal itu hanya dibatasi oleh produk pemikiran yang sempit, yang melihat kebenaran Islam hanya dari aspek tertentu saja, sehingga menimbulkan pemikiran yang tidak sesuai dengan nilai universalisme Islam itu sendiri.

Apalagi jika produk pemikiran Islam yang parsial itu dianggapnya sebagai kebenaran, sehingga menghakimi pemikiran muslim yang lainya, yang kebetulan berbeda dengan mereka, dipandang sesat dan menyesatkan. Merasa golongan sendirilah yang paling benar bahkan seringkali bersikap takbersahabat kepada golongan lain baik secara fisik maupun non fisik.

Baca Juga:  Hakikat Wanita Karir dalam Islam yang Sebenarnya

Kekerasan dan kekuatan otot yang sering ditunjukkan sebagaian kelompok ini, bertentangan secara diametral dengan prinsip-prinsip Islam. Padahal Agama ini meletakkan kerahmatan sebagai fondasi keberagamaan  dan sangat menghargai nilai-nilai sepriritual dan intlektualitas serta suasana dialogis.

Olehkarena itu implikasi psikologis dari radikalisme agama dan kekerasan sejenisnya hanya akan menjadikan Islam tereduksi sebagai bayang-bayang menakutkan yang kehilangan aspek kemanusiaannya.

Keberagamaan yang sejatinya dikembangkan diatas kecerdasan emosi dan nalar argumentatif berkembang menjadi kekuatan destruktif, berwujud anarkisme dan sejenisnya yang  tak akan memberi dampak penyadaran dan trasformasi nilai-nilai  luhur Islam.

Jika Islam diharapkan menjadi “ rahmatan lil’alamin “  menjadi rahmat bagi kehidupan  alam semesta, maka yang diperlukan sesungguhnya adalah berpikir yang multidimensional, sehinggaa kebenaran Islam yang universal  bisa ditangkap secara tepat. Dengan mengambil sikap yang bisa menerima pendapat yang lain serta menghargai adanya perbedaan itu, dan dipandangnya sebagai bagian dari proses dari pengalaman sepiritualnya.

Kita menyadari bahwa perubahan paradikma dan cara berpikir itu tidak mudah, apalagi sudah menjadi tradisi berfikir yang  lama dalam kehidupannya, bahkan hasil dari suatu proses pendidikan yang pernah dialaminya . Karena itu pendidikan kita harus diubah secara paradikmatik, agar mampu melahirkan suatu generasi baru yang mampu berpikir multidimensional .

Untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lilalamin paling tidak terdapat tiga komponen utama dalam Islam  diantaranya :Kedamaian yang muncul dari dalam . Kedamaian ini muncul sebagaiproduk dari kejujuran, ketulusan, kedermawaan, dan toleransi.

Di samping itu Islam mengajarkan umatnya untuk mengontrol amarah dan memaafkan orang yang telah berbuat kesalahan kepadanya. Sebagaimana firman Allah :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baikdiwaktulapang maupun sempit danorang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan ( kesalahan ) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. ( Q.S. Ali Imran 3: 134).

Keharmonisan sosial dalam komunitas. Islam memerintahkan keharmonisan sosial dengan memerintahkan  umatnya  untuk selalu merefleksikan kedamaian dan kasih sayang dalam interaksi sosial. Untuk keharmonisan sosial Islam mengajarkan bahwa semua manusia adalah satu komunitas.

Baca Juga:  Belajar Islam Ramah ala Indonesia di Era Millenial

Manusia memiliki hak hidup, hakmilik, hakkeadilan, hak kehormatan, hak kebebasan beragama hak kehidupan yang bermoral. Hak-haktersebuat adalah hak-hak pemberianTuhan yang harus diimplementasikan dalam keadaan apapun.

Islam menekankan keadilan dan perlakuan yang fair kepada semua orang termasukkepada musuh sekalipun “ Janganlah kebencianmu kepada sebuah kelompok menjadikanmu tidak adil, berlaku adilah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.

Dalam menghadapi konflik. Islam menawarkan pengelolaan konflik dengan cara damai. Cita-cita moral ideal Islam adalah membangun dunia, dimana orang Islam maupun non-Islam hidup bersama menikmati keadilan, kedamaian, kasih sayang dan keharmonisan. Inilah tantangan yang harus kita hadapi pada kehidupan moderen sekarang ini. Sebagai orang yang beragama, kita bertanggungjawab untuk hidup damai bersama orang lain.

Islam adalah agama yang memiliki misi rahmatan lil alamain yang seharusnya menjadi dasar bagi setiap kelompok muslim untuk bersikap toleran dan bertindak baik dalam menebarkan kedamaian kepada sesama dimanapun dan kapan pun. Mari kita memahami Islam dari berbagai dimensi agar tercipta islam yang rahmatan lil alamin bagi kehidupan kita, umat manusia dan alam semesta ini.