Tingkatan Nabi Khidir di Atas Nabi Musa? Siapakah Beliau Sebenarnya?

Tingkatan Nabi Khidir di Atas Nabi Musa? Siapakah Beliau Sebenarnya?

PeciHitam.org Nabi Khidir atau Khadir, seorang sosok misterius yang banyak menjadi kontroversi tentang asal-usulnya. Beragam versi megklaim tentang sosok Nabi ini. Meskipun beliau bukan termasuk Nabi dan Rasul yang 25, akan tetapi ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an merujuk kepada sosok Khidir ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi sekelas Musa AS yang sangat dibanggakan oleh umat Bani Israel saja harus berguru kepada beliau karena ketinggian Ilmu Hikmah dari Nabi Khidir. Kisah pergulatan akal, pikiran, hikmah, misteri alam dan Ilmu Makrifat  dijelaskan panjang lebar dalam surat Al-Kahfi.

Siapakah Nabi Khidir?

Menelisik asal usul Nabi Khidir tidak banyak sumber sejarah menyebutkan. Kepastian tentang Nabi Khidir adalah sosok Nabi yang menjadi guru spiritual dalam ilmu kebijaksanaan dan makrifat bagi Nabi Musa AS.

Tentunya guru Nabi Musa AS ini sangat hebat dalam Ilmu kebijaksanaan yang syarat dengan hikmah dan misteri alam ghaib. Tidak sembarang orang akan mencapai derajat keilmuan sebagaimana Nabi Khidir AS. Musa AS saja terseok-seok dalam memahami arah pemikiran kebijaksanaan Nabi Khidir.

Al-Qur’an tidak menyebut secara langsung nama Nabi Khidir. Redaksi yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah (عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا)-seorang Hamba dari salah seorang Hamba-Ku. Allah SWT tidak menyebutkan secara eksplisit nama Khidir, akan tetapi para Mufassirin bersepakat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Nabi Khidir.

Khidir dalam bahasa Arab tertulis (الخضر), maknanya adalah Seorang yang Hijau. Dalam ilmu Semiotik, hijau melambangkang kesegaran dan keluasan pengtahun. Literasai dalam Ensiklopedi Britanica menyebutkan nama asli Khidir adalah Balya bin Malkan.

Nabi Khidir sangat terkenal sebagai tokoh Immortal atau mempunyai kehidupan abadi dalam pandangan barat sebagaimana nabi Isa, Ilyas dan Idris. Sedangkan pandangan Islam menyebutkan bahwa Nabi Khidir mempunyai umur panjang sebagimana ketiga nabi di atas akan tetapi tidak bersifat abadi layaknya pendapat orang barat.

Nabi Khidir disebut keturunan seorang raja sebagaimana disebutkan oleh Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Damasyq. Sedangkan kitab Al-Bidayah wan Nihayah dalam bab ruhul Ma’ani menyebut bahwa Khidir merupakan putra seorang Ibu yang berasal dari Romawi dan ayah seorang Parsi.

Pendapat lebih moderat dikemukakan dalam kitabnya Ibnu Asakir dan Duruqutni berjudul Ifrad bahwa Nabi Khidir adalah seorang hamba Allah SWT dari keturuan Adam AS dan dia diberi kelonggaran ditangguhkan ajalnya. Pendapat ini berasal dari riwayat Ibnu Abbas, seorang sahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir masa awal Islam.

Baca Juga:  Kisah Singkat Perjalanan Sunan Gunung Jati Selama 120 Tahun

Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir

Mengenal lebih jauh tentang profil Nabi Khidir AS akan memakan banyak waktu dan riwayat yang bersumber dari literasi Islam. Kepastian tentang sosok Khidir AS yakni beliau merupakan Hamba Allah yang diberi Ilmu lebih oleh Allah SWT.

Ilmu yang diberikan Allah kepada Khidir besifat langsung atau sering disebut ilmu Laduni. Ayat yang menerangkan tentang hal ini adalah;

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (٦٥

Allah SWT mengajarkan kepada Khidir Ilmu dari sisiNya. Bisa dipahami bahwa Ilmu yang diajarkan Allah kepada Khidir tidak selayaknya Ilmu yang diajarkan manusia kepada sesama manusia. Pengetahuan dan ilmu manusia membutuhkan perangkat atau instrumen ilmu yakni berupa penelitian.

Sedangkan Allah tidak memerlukan perangkat ilmu pengatahuan sebagaimana manusia, karena Allah sendiri merupakan sumber Ilmu pengetahuan.

Kisah bergurunya Musa AS kepada Khidir AS berasal dari Riwayat Nabi Muhammad SAW yang menceritakan tentang pidato Musa kepada Umatnya, siapa yang paling pandai dan berilmu. Musa AS menjawab sendiri bahwa Dia adalah orang terpandai dikalangan manusia.

Kemudian Allah memberikan teguran kepada Musa AS untuk mencari sosok hamba Allah yang tinggal dipertemuan dua lautan atau samudra. Tandanya adalah jika ikan yang kamu bawa meloncat pergi dari perahu ke lautan.

Musa AS mencari pertemuan dua samudra, dan memang benar, ikan dalam keranjang bergegas meloncat masuk lautan dan Musa berjumpa dengan Khidir AS. Tempat tinggal Khidir AS diceritakan dalam surat Al-Kahfi ayat 63-64.

Kisah dilanjutkan pada ayat 66, yakni permintaan diterimanya Musa AS menjadi murid Khidir AS dan mengikuti perjalanan hikmah Nabi Khidir. Permintaan Nabi Musa AS dijawab dengan oleh Nabi Khidir AS dalam ayat 67;

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (٦٦) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (٦٧) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (٦٨) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (٦٩

Artinya; “Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun” (Qs. Al-Kahfi; 66-69)

Percakapan antara Nabi Musa AS dan Khidir mengindikasikan sebuah dialog antara guru dan murid. Seorang Murid berhak untuk memilih guru, akan tetapi adab sopan santun seorang Murid harus memperlihatkan kebutuhan terhadap Ilmu yang akan dipelajari.

Baca Juga:  Kisah Dihyah Al-Kalbi, Sahabat Nabi Paling Tampan

Seyogyanya seorang Murid harus bersikap sopan santun dan mematuhi apapun persyaratan menjadi seorang murid. Nabi Musa AS saja, harus bersusah payah untuk memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Khidir AS.

Syarat Nabi Khidir kepada Musa AS adalah jangan sampai berkomentar tentang apapun perilaku tindakan Khidir AS. Musa AS menyetujui syarat Khidir AS menjadi pelajaran bagi kita bahwa dalam menuntut Ilmu harus takluk dan tunduk kepada perintah guru.

Konsep ini diterapkan dalam dunia pesantren salaf yang menempatkan derajat guru sebagai panutan dalam segi apapun. Pesantren seperti Langitan di Tuban, Al-Falah dan Lirboyo di Kediri, Leteh di Rembang dan lain sebagainya merupakan contoh kecil konsep hubungan Guru-Murid sesuai Khidir AS-Musa AS.

Pembelajaran dan Beda Nabi Musa dengan Khidir

Beberapa poin pelajaran Khidir kepada Musa AS adalah sebagai berikut;

  1. Pelajaran pertama, Khidir AS menguji Nabi Musa AS dengan melubangi perahu yang ditumpangi sehingga tenggelam. Musa AS terperanjat dengan menanyakan kepada Khidir AS. Beliau hanya menjawab أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا sesungguhnya aku telah berkata, bahwa kamu tidak akan kuat bersama saya. Peringatan pertama buat Nabi Musa pada pelajaran pertama.
  2. Pelajaran kedua, tatkala Musa dan Khidir susah payah mencapai daratan. Nabi Khidir AS tiba-tiba membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Tidak bisa menahan rasa heran kepada Khidir AS, kemudian Musa AS menginterupsi gurunya. Nabi Khidir kembali mengingatkan Musa AS dengan أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا sesungguhnya aku telah berkata, bahwa kamu tidak akan kuat bersama saya. Peringatan kedua dalam pelajaran kedua.
  3. Pelajaran ketiga dimulai setelah mereka memasuki perkampungan orang-orang pelit. Mereka berdua meminta bantuan makanan akan tetapi malah terlantar. Musa dan Khidir kemudian berjalan lurus dan mendapati sebuah rumah yang hampir roboh, maka Khidir memerintahkan Musa AS untuk membantu membetulkan rumah tersebut.
Baca Juga:  Cerdasnya Sayyidina Ali, Khutbah 7000 Kata, Tanpa Huruf Alif, Tanpa Teks

Pada pelajaran ini Musa AS tidak tahan dan memprotes tindakan Khidir AS. Buat apa memberi perhatian kepada perkampungan yang penduduknya memiliki sifat pelit dan bakhil tidak mau menjamu tamu sama sekali. Maka Khidir berkata “هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ”-inilah bedanya saya dan kamu.

Kemudian Khidir memberikan rahasia yang terkandung dalam setiap tindakan yang secara kasat mata sangat bertentangan dengan kebenaran akal sehat.

  1. Pelajaran pertama, tujuan pelubangan perahu adalah untuk menghindari penjarahan atau klaim oleh penguasa kerajaan yang berada di dermaga tempat berlabuh. Jika mendapati perahu dalam keadaan baik, niscaya penguasa kerajaan akan merampas perahu milik nelayan tua itu.
  2. Pelajaran Kedua, Pembunuhan terhadap anak kecil adalah kebenaran untuk memutus keburukan pada masa dini. Karena takdir anak yang dibunuh jika sampai dewasa akan mendorong kedua orang tuanya untuk kufur kepada Allah SWT
  3. Pelajaran ketiga, tentang memperbaiki rumah hampir roboh karena bentuk penghormatan terhadap kedua anak yang menghuni rumah tersebut. Kedua anak tersebut adalah seorang Yatim dan memiliki simpanan dalam tembok yang hampir roboh, kedua orang tua anak tersebut seorang yang beriman dan tidak pelit sebagaimana akhlak para penduduk pemukiman. Kisah ketiga ini merupakan dasar bab dalam kitab fiqih Ikrami Shibyani Mu’minin sebagaimana diterangkan oeh KH. Bahaudin Nursalim.

Kemudian mereka berpisah dan Musa mengakui bahwa ia tidak kuat dan tidak sekelas dengan Khidir AS dalam hal Ilmu Hikmah.

Pembelajaran yang dilakukan oleh Khidir AS kepada Musa AS berupa pelajaran yang berbasis hikmah serta makrifat kepada tindakan takdir Allah. Musa AS walaupun seorang Nabi, akan tetapi memiliki keterbatasan untuk mengetahui hal-hal Ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang yang Dia pilih.

Pembelajaran ini merupakan sindiran Allah SWT kepada Musa untuk tidak takabbur atau sombong dengan pengetahuan yang dimiliki. Sebagaimana kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Sepandai dan sebijaksananya Musa AS masih kalah dengan Khidir AS.

Ash-shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan