Kisah Nabi Membelah Bulan dalam Kitab Durrotun Nashihin

kisah nabi membelah bulan

Pecihitam.org – Pada zaman jahiliah dimana awal mula Nabi Menyebarkan agama Islam, hiduplah seorang raja yang bernama Hibib bin Malik di Syam. Sang raja adalah raja yang fanatik dalam menyembah berhala. Pada mulanya dia adalah raja yang sangat benci dan menentang agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hingga pada suatu hari paman Rasulullah yang sangat membenci beliau yaitu Abu Jahal menulis surat yang ditujukan kepada Raja Habib. Isi dari surat tersebut adalah perihal Nabi Muhammad SAW. Setelah surat tersebut sampai ditangan Raja membuat si raja penasaran dengan sosok Nabi Muhammad Saw.

Kemudian Raja Habib bin Malik membalas surat dari Abu Jahal bahwa dia akan berkunjung ke Makkah. Hingga pada hari yang ditentukan, Raja Habib bin Malik membawa 1000 pasukan ke Makkah, kemudian dia mengirim utusannya untuk menemui Abu Jahal, memberitahukan bahwa dia sudah sampai di Makkah.

Maka Abu Jahal menyambut kedatangan Raja Habib bin Malik bersama dengan pembesar Quraisy. Lalu raja Habib bin Malik bertanya, “seperti apakah Muhammad itu?”. Abu jahal pun menjawabnya; “Sebaiknya tuan tanyakan pada Bani Hasyim.” Setelah itu Raja Habib bin Malik beserta rombongan mendatangi Bani Hasyim.

Setibanya di kediaman Bani Hasyim, raja Habib langsung menanyakan seperti apa sosok Muhammad itu, dan salah seorang dari Bani Hasyim menjawab pertayaan si raja “Di masa kecilnya Muhammad adalah anak yang bisa dipercaya, jujur dan baik budinya. Namun sejak berusia 40 tahun, ia mulai menyebarkan agama baru. Dia menghina tuhan-tuhan kami dan juga menyepelekannya. Dia menyebarkan agama yang bertentangan dengan agama warisan nenek moyang kami.”

Baca Juga:  Begini Kisah Perjalanan Imam Syafi’i dalam Mencari Ilmu

Setelah mendengar cerita tersebut Raja memerintahkan untuk menjemput Nabi Muhammad kehadapannya, dan apabila beliau menolaknya harus dipaksa.

Dengan menggunakan jubah merah dan sorban hitam serta ditemani oleh Khadijah ra. dan Abu Bakar ra. Nabi Muhammad memenuhi undangan raja. Sepanjang perjalanan Khadijah ra. menangis karena mengkhawatirkan suaminya. Rasulullah SAW menenangkan Khadijah seraya berkata “Kalian jangan takut, kita serahkan semua urusan kepada Allah SWT.”

Sampai di desa Abthah, Rasulullah SAW disambut dengan ramah dan beliau dipersilahkan duduk di kursi yang terbuat dari emas. Ketika Rasulullah SAW duduk di kursi tersebut, memancarkalah cahaya kemilau dari wajahnya yang berwibawa, sehingga siapapun yang melihatnya akan terkagum dan tertegun.

Maka berkata raja Habib “Wahai Muhammad setiap Nabi memiliki mukjizat, mukjizat apa yang Engkau miliki? Raja bertanya kepada beliau. Dengan tenang Rasulullah SAW balik bertanya “Mukjizat apa yang tuan kehendaki?”

Raja Habib kemudin menjawab: “Aku menghendaki matahari yang tengah bersinar, engkau tenggelamkan, kemudian munculkan bulan. Lalu turunkan bulan ke tanganmu, belahlah menjadi dua bagian kemudian masing-masing masukkan ke lengan bajumu sebelah kiri dan kanan. Lalu keluarkan lagi dan satukan lagi, setelah itu suruhlah bulan megakui engkau adalah Rasul. Dan selanajutnya kembalikan bulan ketempatnya semula. Jika engkau dapat melakukannya, aku akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu.” Perintah raja.

Mendengar hal itu Abu Jahal merasa bahagia, karena dia yakin kalau Muhammad tidak dapat melakukannya. Akan tetapi dengan tegas Rasulullah menjawabnya bahwa dia kaan memenuhi permintaan si Raja.

Kemudian Rasulullah berjalan ke arah gunung Abi Qubaisy dan shalat dua rakaat. Usai sholat beliau berdo’a dengan menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi agar permintaan Raja Habib terpenuhi. Seketika itu juga tanpa sepengetahuan siapapun Allah memerintahkan 12.000 malaikat untuk turun kemudian para malaikat berkata:

Baca Juga:  Yesus dalam Perspektif Al-Quran dan Fakta Penyaliban Nabi Isa AS

“Wahai Rasulullah, Allah menyampaikan salam kepadamu. Allah berfirman: ‘Wahai kekasih-Ku, janganlah Engkau takut dan ragu, sesungguhnya Aku senantiasa bersamamu. Aku telah menetapkan keputusanKu sejak zaman azali’. Tentang permintaan Habib bin Malik, pergilah engkau kepadanya untuk membuktikan kerasulanmu. Sesungguhnya Allah yang menjalankan matahari dan bulan, serta mengganti siang dengan malam. Habib in Malik memiliki seorang puteri cacat, tidak punya kaki dan tangan serta buta. Allah telah menyembuhkannya sehingga ia bisa berjalan, meraba dan melihat.”

Kemudian bergegaslah Rasulullah turun menjumpai orang kafir, sementara bias cahaya kenabian yag memancar dari wajahnya semakin bersinar. Waktu itu matahari hampir tenggelam dan senja mulai beranjak. Sehingga suasana remang-remang. Tak lama kemudian Rasulullah berdoa agar bulan segera muncul. Maka terbitlah bulan dengan sinar yang benderang.

Rasulullah mengisyaratkan bulan agar turun kepadanya. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam ketika terdengar suara gemuruh yang dahsyat. Segumpal awan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah. Segera setelah sampai ditangan beliau, Rasulullah membelahnya menjadi dua bagian dengan jarinya, lalu beliau masukkan ke lengan baju kanan dan kiri. Tak lama kemudian beliau keluarkan lagi dan disatukan kembali.

Bersamaan dengan itu bulan mengeluarkan suara: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan’abduhu wa rasuluh.”

Melihat kejadian itu semua pikiran dan perasaan orang yang menyaksikan menjadi terguncang. Sungguh ini bukan mimpi. Namun raja belum mempercayainya, lalu dia meminta syarat untuk menguji Rasulullah.

Baca Juga:  Mukhairiq: Seorang Yahudi yang Membantu Rasulullah di Perang Uhud

Belum sempat raja melanjutkan ucapannya, Rasulullah memotong pembicaraan; “Engkau memiliki putri yag cacat bukan?. Sekarang Allah telah menyembuhkannya dan menjadikan seorang putri yang sempurna.”

Raja Habib terkejut, seketika dia berdiri dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bentuk saksi bahwa dia mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi sesugguhnya Muhammad adalah utusan Allah.”

Menyaksikan itu Abu Jahal kecewa, namun raja Habib tidak menghiraukannya, dia bergegas pulang dengan rombongannya. Sesampainya di gerbang istananya dia sudah disambut oleh putrinya, dan dia melihat bahwa putrinya benar menjadi putri yang sempurna.

Kemudian putrinya juga masuk Islam dan menjadi Muslimah sejati, dia berkakata kepada ayahnya bahwa dia bermimpi bertemu laki-laki tampan dan mengatakan bahwa apabila kamu mau menjadi muslimah sejati, maka anggota tubumu akan lengkap. Lalu masuklah Islam si putri raja dan sang raja pun bersujud sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Wallahua’lam bisshawab

*Disarikan dari Kitab Durrotun Nashihin Bab Mu’jizat Nabi Shalallahu’alaihiwasalam

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik