NU Sulsel: Selama Masih Dipaksakan, Negara Manapun Tak Akan Terima Khilafah

NU Sulsel

Pecihitam.org – Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama Sulawesi Selatan (PWNU Sulsel) menggelar Dialog Akhir Tahun dengan mengusung tema “Refleksi dan Proyeksi di Tengah Perubahan Zaman”, Sabtu, 28 Desember 2019.

Kegiatan yang dihelat di Red Corner Cafe, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Makassar, tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, salah satunya Kader NU Sulsel yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin (Fisip Unhas), Prof Dr M Basir Syam.

Pada kesempatan itu, Prof Basir mengatakan bahwa dimanapun konsep negara berangkat dari hasil kesepakatan politik, bukan dari unsur paksaan.

“Ya jelas, bahwa apapun yang namanya negara itu bukan suatu paksaan. Negara itu adalah kompromi politik, bukan suatu paksaan,” tegas Prof Basir.

Baca Juga:  Ihram Mahardika, Ketua PC PMII Pontianak 2013: Kader PMII Harus Berjiwa Nasionalisme

“Oleh karena itu, kalau khilafah mau dipaksakan, jelas akan berhadapan dengan negara-negara nasional,” sambungnya.

Maka dari itu, ia menegaskan bahwa konsep khilafah tidak akan pernah diterima di negara manpun selama masih mengandung unsur paksaan.

“Kecuali di negara-negara yang sudah kolaps dan tidak berdaya lagi,” terangnya.

“Di manapun, tidak ada satu negara yang bisa menerima khilafah dengan memaksakan. Saudara saja tidak bisa. Kecuali negara-negara yang keok. Yang keok itu seperti Irak, tapi sekarang kan sudah menolak,” lanjutnya.

Dalam paparan materinya, Prof Basir juga membeberkan sejumlah peran strategis NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Secara sosial, NU memiliki pandangan dan prinsip sosial yang baik. Sebab kalau tidak, maka sudah lama negara ini hancur,” kata Prof Basir.

Baca Juga:  Netizen ke Felix Siauw: Lu Bilang yang Benci Khalifah itu Iblis?

Selain itu, ia juga memberi penilaiannya terkait strategi NU di kancah politik nasional.

 “Dari segi strategi politik, orang NU ada dimana-mana sehingga bisa masuk pada semua partai. Mengapa? Karena pandangan para ulama NU sesuai dengan NKRI, tidak ada pertentangan. Beda dengan orang-orang yang ingin khilafah,” pungkasnya.